A Dream - 2

Author : Felicia Yosiana

Setelah orang tersebut diambil dari hadapan kami, saya memperhatikan bahwa para peneliti jubah putih sama sekali tidak bingung atau mempertanyakan apa yang baru saja kami lakukan. Mengingat bahwa apa yang baru saja terjadi tergolong ‘spiritual’ dan menyalahi kaidah logika peneliti, mereka tampak tidak tertarik. Sebaliknya, mereka jadi lebih cepat bekerja dan mencatat berbagai hal pada papan-papan kecil mereka dengan muka tanpa ekspresi. Saya menyadari bahwa mereka merekam setiap detil yang baru saja terjadi dengan tanggapan yang dibuat-buat datar. Sesungguhnya, saya dapat melihat, bahwa mereka agak geram dan kalap karena hal tersebut.


Berbagai eksperimen kepada kami mulai dijalankan, seolah-olah mereka tidak memperdulikan perbuatan-perbuatan kami di sana. Tapi yang saya sadari, mereka sangat berhati-hati terhadap kami. Makanan juga tetap diantar melalui pelayan-pelayan berjas hitam yang rapih dan bersih (tapi bermuka tanpa ekspresi) dan kami diberikan fasilitas yang lumayan memadai walaupun status kami tetap ‘terisolasi’.
Yang menarik, saya kemudian menjumpai seorang kenalan saya—yang adalah teman satu kampus—di lab tersebut saat ketiga teman saya sedang menjadi eksperimen di luar ruangan.
(Catatan : ia memakai baju ‘pasien’ abu-abu juga di sana sementara kami tetap mengenakan kemeja-celana pendek putih. Sebagai tambahan, kami hanya berdua di ruangan ‘kamar’ saya saat kami mulai ngobrol.)

Ia terlihat loyo dan clueless, sama seperti semua orang di sana. Setelah bercerita beberapa saat, ia mengatakan pada saya bahwa ia takut kalau orang-orang di lab ini telah melakukan sesuatu dengan pikirannya.

“Apa maksud loe?”

“Ya gue takut aja,” ia menjawab lemah. “Gue mulai merasa kalau akhir-akhir ini mereka bisa membaca pikiran gue.”

Saya mulai tertarik. “Misalnya?”

“Gue bahkan takut mereka bisa tahu apa yang gue pikirkan di depan lemari baju kalau gue mau milih pakaian. Contoh nih, gue akan berpikir ‘gue lapar’ sekarang...”

Saya begitu kaget saat dua orang pelayan masuk dengan baki berisi makanan sedetik setelah ia mengatakan hal itu!

Saat teman saya tersebut kemudian mengangkat bahu berimplikasi ‘bener, kan?’  kepada saya, ia mulai makan semua hidangan di hadapannya dengan lemas. Saya—yang tidak mendapat makanan ‘darurat’ tersebut—segera berlari ke toilet di belakang ruangan. Di toilet (yang cukup hi-tech), dengan perasaan takut campur getir, saya berusaha berpikir keras-keras : “Gue mau makan!! Gue mau makan!!!”
Dan...

Tidak terjadi apa-apa.

Saya keluar dari toilet dengan harapan dan petunjuk baru : Mereka tidak bisa membaca pikiran saya seperti mereka membaca pikiran-pikiran pasien lain yang memakan habis semua hidangan ‘aneh’ mereka. Dugaan saya benar bahwa makanan tersebut memang ada apa-apanya.


Eksperimen demi eksperimen dilanjutkan dengan hati-hati kepada kami berempat. Tapi tidak seperti orang-orang yang makin loyo dan gila di sana, kami tetap sehat dan berpikir tajam. Dalam setiap eksperimen, kami menemukan petunjuk baru untuk memecahkan teka-teki lukisan dinding yang kami tahu akan membawa kami keluar. Pada saat setelah eksperimen (kami tidak tahu siang atau malam di sana), di kamar kami akan berkumpul dan berdiskusi, saling berbagi informasi mengenai apa yang kami tangkap. Hal itu selalu kami lakukan dalam kamar karena kami tidak berani berkomunikasi di hadapan para peneliti dan bodyguard berjas hitam di sana—kami takut mereka curiga bahwa kami sedang mencari jalan keluar lab.

Saya ingat bagaimana Aivin mulai mencatat dengan seperangkat alat elektronik mini—yang disembunyikan dalam kantong—saat kami berdiskusi dan mecatat petunjuk-petunjuk baru. Saya juga ingat saya selalu membagikan teknik-teknik ‘membaca’ tabiat dan gerak-gerik orang di sana kepada tiga teman lainnya dan mengajarkan mereka trik-trik pancingan untuk mencari info saat berdialog dengan orang lain. (Note : Saya adalah seorang english debater saat SMA, jadi secara bahasa dan kemampuan berkomunikasi, saya memiliki lebih banyak pengalaman di sana.)

Dan pada saat saya membagikan pengalaman saya mengenai pembacaan pikiran yang dilakukan orang-orang lab kepada teman kampus saya, Yani berkata dengan riang, “Kita kan punya JC yang selalu menjaga dan memurnikan pikiran kita.”

Itu adalah kata-kata paling jelas yang saya ingat dalam mimpi.

—Bersambung... ;B
[ Read More ]

A Dream - 1

Author : Felicia Yosi

21 Oktober 2011.

Kali ini, tidak seperti biasanya, Tuhan memberikan saya pengelihatan yang cukup analogis melalui sebuah mimpi yang saya rasakan dengan sangat nyata.

Sebelum saya tidur sore pada hari itu, saya diingatkan Tuhan mengenai Merkusuar Sorgawi, yang adalah Tuhan sendiri. Dengan Hikmat, Ia membimbing saya untuk mengerti bahwa tugas saya adalah sebagia penerima sinyal dari merkusuar tersebut. Kemudian setelah mengklaim perlengkapan senjata dan mengutip ayat, saya tertidur.


Dalam mimpi itu, saya menyadari bahwa saya sedang dibawa dengan sebuah mobil mewah ke sebuah laboratorium yang besar dan megah. Dari luar, gedung lab itu sangat keren dan dikelilingi dengan taman yang indah. Saya ingat bahwa suasana siang hari itu mendung dan agak gelap.
Sesampainya saya di lab tersebut, saya langsung bertemu dengan tiga orang teman Tim Doa saya, Aivin, Harvi, dan Yani yang baru juga sampai di sana. Kami kemudian digiring ke satu ruangan tunggu yang sama. Sepanjang perjalanan, kami berempat bersikap sangat tenang dan waspada, mengamati setiap detil di tempat itu. Biar saya perjelas dulu lingkungannya :

Lab itu didominasi warna abu-abu-metalik. Ada banyak peneliti dengan jas putih yang berjalan cepat dan sibuk dari satu ruangan ke ruangan lain, dan mereka semua tidak terlihat bersahabat. Muka mereka tanpa ekspresi dan mereka terlihat sangat serius mengerjakan apapun yang mereka pekerjakan saat itu.
Saya tidak terlalu ingat dengan bahan tes di lab itu (manusia), tapi yang saya tangkap dan ingat adalah bahwa mereka semua terlihat loyo, lemas, pasrah dan beberapa, tertawa-tawa lemah sendiri atau terhadap respon orang lain.


(A/N : Serius, labnya mirip kayak ini--lab di Assassin's Creed!! Tapi tempatnya lebih gelap dan dipenuhi alat-alat aneh dan tekonolgi yang tidak pernah saya lihat.


Setelah digiring oleh beberapa orang bodyguard berseragam hitam-hitam ke ruangan kami, kami berhenti di satu ruangan kecil di mana ada sebuah ranjang tinggi di sana. Yang mengejutkan adalah di sana, ada seorang anggota Tim Doa yang tergeletak di dalam ranjang yang terlihat bermesin tersebut. (Ranjang itu seperti ranjang-ranjang yang sering kita lihat di film-film fantasi, hi-tech dan sangat keren dari luar. Saya hanya bisa melihat badan bagian atas teman saya di sana karena bagian bawah badannya tertutup tabung ranjang). Ia melihat kami dan menyapa kami dengan senyum ramah. Tapi kondisinya aneh. Saya langsung tahu bahwa ia sakit dan tidak punya tenaga untuk berdiri atau bergerak-gerak. Ia hanya masih bisa menggerakan leher, kepala, dan mimik wajahnya saja.
Yang lebih aneh, ia terlihat senang dan penuh dengan senyum di sana. Saya langsung menangkap bahwa lab ini tidak beres dan hanya akan membuat bahan eksperimennya loyo, sakit dan cacat mental. Dan inilah yang saya tidak mengerti: kenapa dia malah terlihat senang di sana?

Saat dia menyapa kami dan mulai bercerita ngaco—seperti orang mabuk, tapi matanya berbinar-binar seperti anak kecil—seorang peneliti dengan jubah putih datang mendekati ranjangnya. Ia langsung mengalihkan pandangannya dari kami dan menyapa riang peneliti tersebut. Si peneliti mulai mengobrol kaku dan tanpa ekspresi dengannya sambil mencatat pada papan kecil dan mengatur sesuatu pada ranjang kapsul teman kami itu. Kami tidak mengerti kenapa teman kami sangat bersahabat dengan peneliti yang jelas-jelas memperlakukannya hanya sebagai bahan eksperimen tidak manusiawi di lab tersebut.
Adegan berlanjut dan kami digiring ke satu ruangan yang sepertinya akan menjadi kamar kami selama masa karantina di lab itu. Saya ingat peneliti demi peneliti mulai mengontak kami dan para bodyguard di sekeliling kami dan menitipkan pesan-pesan tak jelas dengan attitude seorang psikopat yang terganggu mentalnya.

Beberapa menit kemudian, para pelayan mulai masuk dan menyuguhkan kami makanan. Kami bersikap serba curiga di situ dan saya ingat saya tidak mau memakan beberapa makanan dalam baki karena saya tahu ada yang tidak beres dengannya. Pada ruangan-ruangan lain (beberapa bagian lab disekat kaca sehingga kami bisa melihat ke ruangan ‘pasien’ lain), saya melihat banyak orang-orang—dengan tubuh lemas dan tampang kuyu—yang makan segala yang disediakan tanpa curiga. Kesimpulan sementara saya ambil bahwa makanan kami pasti ada apa-apanya.
Setelah baki diambil, kami diberikan waktu beristirahat sejenak tanpa gangguan. Saat itu saya beserta teman-teman sekamar segera berdiskusi mengenai jalan keluar dari lab tersebut dengan suara minim. Saat kami mengobservasi ruangan kami, salah seorang dari kami menemukan bahwa ada sebuah pola tertentu pada lukisan dinding yang tergantung di pojok ruangan. Kami semua segera menghafal dan mencatat pola tersebut dan menyembunyikanya pada kantong saku kami, berharap dapat memecahkan kode-kode itu selama kami berpura-pura bekerja sama di dalam lab.

Pada saat kami selesai makan, seorang ‘pasien’ dengan perban di kepalanya (ia mengenakan baju pasien rumah sakit berwarna abu-abu, seperti hampir semua orang di situ—dan anehnya, kami mengenakan kemeja dan celana putih bersih) datang ke ruangan kami. Pria dewasa ini memiliki tatapan yang tidak fokus dan muka yang lemas. Jalannya agak sempoyongan dan ia mulai bercerita ngalor-ngidul secara tidak jelas. Saya tidak ingat dia berkata apa, namun setelah sekian lama ia bercerita sambil berdiri di depan pintu, ia mengatakan sesuatu tentang ‘ingin mencoba teman lamanya kepada kami’, dan ia menghilang dibalik pintu.

Betapa kagetnya kami saat pria tersebut kembali dengan sebuah gergaji mesin yang besar!

Saya dan Yani, yang saat itu duduk di hadapannya, segera bangkit dengan kaget dan agak kalap melihat dia mau menerjang kami dengan gergaji. Spontan, saya berteriak, “Dalam nama Yesus!” dan pria itu tersentak mundur.
Tapi ia tidak berhenti. Ia kembali mencoba untuk maju lagi dan saya berteriak, “Dalam nama Yesus, kuperintahkan engkau berhenti di tempat!”

Saya melihat sekilas di samping saya bahwa Yani, pada saat saya teriak seperti itu, menebar Perisai Iman dengan tangan kirinya. Saya segera melihat proyeksi Perisai Iman yang berupa proyektil putih bercahaya sebesar lima kali lima meter di hadapan kami. (Note: di dalam Alam Roh, Perisai Iman dapat diproyeksikan menjadi besar dengan jarak yang lumayan jauh).


(A/N : Gambar dari salah satu anime, adalah gambar yang paling mendekati proyeksi Shield of Faith kita. Kalau mau dijabarkan, Perisai tersebut ada di tangan kiri kita seperti perisai keren berukuran normal, tapi bisa kita proyeksikan jadi semacam Perisai Cahaya besar dengan mengacungkan tangan kiri kita ke depan. Tambahan : Cahaya setiap proyeksi Shield of Faith seseorang berbeda-beda tergantung karunia dan panggilannya. Milik saya berwarna hijau terang, Yani berwarna perak, Harvi berwarna putih ke-biru-biru-an. Aivin saya belum lihat warnanya... hehe)


(A/N : Nah, ini gambar dari depannya yang saya gambar dengan buru-buru dan agak mepet--karena lagi UTS terus mumet belajar. Maap berantakan en kliatan banget ga niatnya. Yah intinya sih itu jadi tembok proyeksi. Besar-kecilnya tergantung dari takaran iman Anda. Saya pernah memiliki Perisai Iman super-mini waktu saya lagi bete dan gak dekat dengan Tuhan... :p)


 
Melihatnya, saya ikut berbuat sama seraya mengatakan, “I declare my Shield of Faith,” dan melemparkan tangan kiri saya ke depan.
Pria itu berhenti di tempat dan tidak dapat menerobos ‘dinding’ cahaya yang terbentang di antara kami. Ia kemudian terjatuh lemas, melepaskan gergaji mesinnya, dan mulai menangis serta meratap ngaco—seperti orang-orang mabuk kalau lagi depresi. Kemudian Harvi dan Aivin datang untuk mengangkat dan menolongnya. Namun sebelum kami sempat berbuat sesuatu, para bodyguard hitam-hitam masuk dan mengambil orang tersebut.


—    Bersambung, oke... :p
[ Read More ]

Peringatan - "Aku Segera Tiba!!"

Author : Benedictus Harvi

20 Oktober 2011

JC : “Bagikan itu semua ke orang-orang! Mereka harus mengetahui betapa dekatnya waktu-Ku! “

                Mundur 3-4 hari, saya sedang berada di mobil ketika Tuhan memberi pengelihatan pada saya berupa suatu jam dinding. Rupanya seperti jam-jam pada menara jam di negara-negara Barat. Jarum pendeknya menuju angka 12, dan jarum panjangnya menunjukkan waktu 1 menit kurang dari angka 12.

Tuhan berkata : “ITU ADALAH WAKTU KEDATANGAN-KU! SUDAH HAMPIR HABIS, YA, SUDAH HAMPIR HABIS WAKTUNYA DAN CELAKALAH MEREKA YANG KUDAPATI TERLELAP KETIKA AKU TIBA!”

                Sekedar tambahan, setelahnya saya mendapat validasi dari pengelihatan anak-Nya di belahan dunia lain lewat internet, di mana mereka juga mendapat pengelihatan mengenai jam yang  menunjukkan jam 12 kurang beberapa detik.
                Selanjutnya, saat saya sedang menyanyikan lagu penyembahan di rumah, Tuhan memberi pengelihatan tentang Ia dalam kuda-Nya beserta serombongan berkuda lainya yang sedang melaju. Tuhan memakai jubah yang berkilat-kilat, seluruh rupa-Nya tampak bercahaya, dan Ia menunggangi kuda yang sangat besar dan bercahaya putih. Selebihnya tidak dapat saya gambarkan karena mereka bersinar sangat terang hingga saya sulit melihat detilnya.

                Tuhan berkata : “ITU ADALAH AKU BESERTA SEROMBONGAN MALAIKAT-KU YANG SEDANG DALAM PERJALANAN MENJEMPUT KALIAN, PARA MEMPELAI TERKASIH-KU.


AKU SUDAH DALAM PERJALANAN DAN SEBENTAR LAGI AKU TIBA.

AKU TIDAK SABAR MENJEMPUT KALIAN, MEMPELAI-KU DAN MEMBEBASKAN KALIAN DARI KESESAKAN DUNIA INI!

BERBAHAGIALAH MEREKA YANG TERUS BERJAGA-JAGA MENANTIKAN KEDATANGAN-KU TANPA TERMABUK OLEH RUPA-RUPA ANGGUR DUNIA!

AKU HANYA DATANG BAGI MEREKA YANG SIAP.

CELAKA KEPADA MEREKA YANG BELUM MENGENAKAN BAJU PESTA DAN BELUM MENYALAKAN PELITANYA KETIKA TUAN RUMAH HENDAK MENJEMPUT MEREKA KE PESTA-NYA!

SUNGGUH, PESTA PERJAMUAN KAWIN ANAK DOMBA TELAH TERSEDIA.

UNDANGAN SUDAH KUBAGIKAN LEWAT PERKATAAN-PERKATAAN-KU DAN HAMBA-HAMBA-KU!

PILIHAN BEBAS KALIAN UNTUK MENERIMA DAN MENJAGA BAIK-BAIK UNDANGAN ITU ATAU MENYERAHKANNYA DENGAN SUKARELA PADA IBLIS KARENA MENURUTI HAWA NAFSU KALIAN.


AKU MEMPERINGATKAN KALIAN, KEHIDUPAN SETELAH PENGANGKATAN MEMPELAI-KU AKAN JAUH LEBIH MENGERIKAN DIBANDING APA YANG BISA KALIAN BAYANGKAN!

AKU, KRISTUS, YANG AWAL DAN YANG AKHIR, ANAK DOMBA YANG TELAH MENCURAHKAN DARAH UNTUK MENYUCIKAN KALIAN, YANG AKAN MENJADI HAKIM SAAT TAKHTA PENGADILAN BAPA TERBUKA KETIKA WAKTUNYA TIBA.

KETHUILAH, AKU TIDAK DATANG UNTUK MENGHAKIMI KALIAN, AKU DATANG UNTUK MENYELAMATKAN KALIAN!

SEGERALAH DATANG PADA-KU. TANGAN-KU MASIH TERBUKA, WALAU SEBENTAR LAGI AKAN TERTUTUP!

JANGAN MENGANGGAP RENDAH PERINGATAN-KU."


Validasi dari perkataan JC di atas dikatakan kepada Felicia Yosiana G :

"Lihatlah ke awan-awan dan kalian akan tahu seberapa dekatnya Aku. Hanya dengan Hikmat Sorgawi kalian dapat melihat Aku dan kedekatan-Ku terhadap Bumi."

[ Read More ]

Spiritual Warfare - Komunitas Perang

Author : Felicia Yosi

Banyak dari orang percaya zaman ini yang tidak mempercayai eksistensi Alam Roh dan keterlibatannya dalam hidup manusia sehari-hari. Sebagian, yang menyadari hakekat diri mereka sebagai manusia rohani baru di dalam Tuhan Yesus, aktif bertempur di Alam Roh atas perintah Kristus. Sebagian lagi—dengan jumlah yang tidak sedikit—menyimpang dari hakekat hukum roh di dalam Tuhan dan berjalan sendiri dengan praktek-praktek okultisme mereka yang mendewakan Iblis dan setan-setan.
Adalah suatu kehormatan bagi anak-anak Tim Doa untuk dipanggil berperang oleh Komandan Tertinggi sendiri. Nah, sekarang biarkan saya menjabarkan secara singkat Alam Perang ini dan apa yang kami lakukan di dalamnya untuk saudara-saudara kami terkasih.

Sejak SMA, saya sudah cukup sadar dengan yang namanya Peperangan Rohani dan pernah aktif di dalamnya sebagai individu yang ditebus Kristus. Namun karena saat itu saya belum mengerti hakekat roh dan daging serta masih hidup dalam ke-suam-suam-an kuku, saya tidak pernah dapat mengerti seluk beluk Alam Roh dan peran saya sebagai pejuang Kristus. Barulah setelah Tim Doa terbentuk pada awal 2011 saya benar-benar mendalami arti sesungguhnya dari Berperang dalam Kristus, baik sebagai individu maupun sebagai tim.

Sebelum kita masuk lebih lanjut, saya sangat menyarankan bagi saudara-saudara yang ingin aktif berjuang di Alam Roh demi orang-orang yang belum percaya untuk mencari wadah. Tidak salah memang bila Anda mau berjuang ‘sendiri’, tapi bertempur bersama tim jauh, jauh lebih efektif, efisien serta menantang. Ada banyak hal yang hanya bisa kita lakukan di dalam tim sebagai anggota tubuh Kristsu dibanding sebagai ‘organ’ terpisah yang berdiri sendiri. Saya, dalam kasus ini, menemukan wadah perang saya di dalam Tim Doa.
Juga bagi para pemimpin ataupun anggota Komunitas Sel, Tim Doa dalam bentuk apapun, Persekutuan Doa dengan skala apapun, sadarlah bahwa tugas setiap komunitas di dalam Kristus adalah untuk berperang!!!

Ini sangat krusial, melihat banyaknya komunitas sel yang tidak menyadari hakekat peran dan fungsi mereka di Alam Roh dan berfokus kepada masalah-masalah duniawi seperti konseling kehidupan pribadi dan hanya seperti wadah curhat. Saya menemukan banyak komunitas seperti ini dan tahukah Anda, Tuhan seringkali tidak dapat masuk ke dalamnya!
Ia mengatakan kepada saya bahwa sebagian besar orang-orang yang menghadiri pertemuan sel hanya mengharapkan jawaban atas masalah mereka secara psikologis, motivasi, dorongan dari teman, atau bahkan hanya berharap dapat ‘terjamah’ Roh Kudus supaya mendapat kekuatan baru. Bahkan yang lebih menjijikan, banyak dari mereka yang mengikuti sel hanya untuk ‘menyukseskan’ dan membagikan mimpi-mimpi duniawi mereka dengan standar ‘sukses’ buatan manusia.

Pernah dalam suatu acara komunitas sel yang dulu saya ikuti, seorang anggota berdoa dengan lantang menurut kehendak dan pikirannya sendiri—tanpa arahan Roh Kudus! Ia memuji-muji Yesus sebagai gembala dan Bapa yang baik, tidak pernah marah, dan sangat penyayang. Dan tahukah Anda? Anggota Tim Doa yang hadir pada komunitas itu merinding mendengarnya dan saya merasakan dengan jelas : Tuhan berdiri di belakang saya dan tidak dapat masuk ke dalam lingkaran kami karena kedegilan dan ke-suam-suam-kuku-an mereka!! Pada kasus itu, Roh Kudus memberitahu kami (empat orang anggota Tim Doa di sana) untuk saling berpegangan tangan dalam berdoa dan membuat pagar doa demi menghalau Iblis-Iblis yang siap menerjang masuk dan menyamar sebagai Roh Kudus.
Saya beritahu, doa tanpa arahan Roh Kudus adalah doa kosong yang tidak berdasarkan kehendak Bapa!

Ini tidak boleh dibiarkan!!

Sadarlah, setiap tubuh Kristus! Anda sekalian bukan tempat bimbingan konseling! Anda bukan tempat di mana orang-orang dapat curhat semata!! ANDA ADALAH PEJUANG KRISTUS!!!

Ini mengerikan!! Saya melihat ada banyak orang-orang yang dengan bangga mengakui diri mereka sebagai pejuang Kristus namun stagnan secara rohani di Alam Roh! Banyak dari mereka bahkan tidak tahu apa itu Alam Roh dan tidak mengerti bagaimana hakekat bertempur secara roh yang sesungguhnya! Banyak sekali komunitas-komunitas yang hanya diisi oleh doa-doa dan penyembahan dengan memuaskan tujuan-tujuan pribadi (kesembuhan dan berkat, misalnya) daripada menggelar Doa Perang bersama-sama!
Percayalah, anggota Tim Doa yang saat itu menghadiri sel menerima hal yang sama dari Roh Kudus dan kami berteriak pada Tuhan untuk memproteksi komunitas tersebut serta menjamah mereka agar mereka melihat Kristus dan tujuan-Nya.


Tidak ada penekanan berarti di sini kecuali dorongan untuk meminta kepada Allah untuk membuka mata roh dan telinga rohani Anda.
Tidak ada prajurit buta atau tuli yang dapat bertempur dengan efisien. Dan yang lebih mengerikan, tidak ada bayi yang dapat bertempur. (Baca Adoniyah : Sensor Roh).
Kita tidak dapat bertempur dengan piyama. Juga tidak bisa kita bertempur secara efisien dengan armor rohani yang tidak lengkap. (Baca : Atribut Perang Roh)

Apa yang bisa kita lakukan kalau begitu? Minta kepada Tuhan agar Ia memperlengkapi Anda dan melatih Anda di dalam pertempuran yang sesungguhnya! Buatlah komitmen dengan-Nya dan luangkan waktu Anda untuk mencari Dia dan kebenaran Firman-Nya. Puji-pujian sangat krusial pada Peperangan Rohani, dan ini akan saya jabarkan pada judul-judul berikutnya. (Anda bisa mengecek Pujian Pendongkrak untuk informasi awal.)


Saya katakan deng sungguh-sungguh, Anda adalah prajurit yang berada pada babak akhir sebuah peperangan penentuan yang amat nyata. Tim Doa, di bawah komando Kristus, telah mulai aktif terjun ke dalam Alam Roh dan memerangi Iblis-Iblis demi saudara-saudara kami di dalam Kristus. Ada banyak pengalaman dari berbagai sudut pandang yang akan mulai kami bagikan di Adoniyah untuk menguatkan dan memberikan petunjuk bagi Anda sekalian.

Note : Mulai dari sini, kami akan menambahkan label ‘Spiritual Warfare’ atau ‘Peperangan Rohani’ yang tidak akan kami satukan dengan label ‘Vision’ atau ‘Sharing’. Semoga dapat menjadi berkat.

Posts terkait dengan Peperangan Rohani pada Adoniyah :

[ Read More ]