Showing posts with label sharing. Show all posts
Showing posts with label sharing. Show all posts

Praise God in Advance


Author : Meitri

Life is a mystery. Hidup adalah seperti sebuah misteri, seperti sebuah kotak yang tidak kita ketahui apa isi yang ada di dalamnya. Sepintar atau sehebat apapun manusia merancang, kita tidak dapat mengetahui 100% apa yang terjadi di depan. Kita tidak tahu kapan kita akan ada di lembah dan kapan kita akan ada di bukit. Semuanya adalah sebuah misteri, tapi bagi kita sebagai orang percaya setidaknya kita mengetahui siapa yang memegang hidup kita. Allah Bapa yang hanya menginginkan yang terbaik buat anak-anakNya.
“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberi kepadamu hari depan yang penuh harapan.” - Yeremia 29:11
Ayat diatas menggambarkan isi hati Tuhan untuk anak-anak-Nya. Akan tetapi pada kenyataannya, bukankah hidup kita sebagai anak-anak Tuhan tidak selalu mulus? Terkadang kita menemui batuan-batuan terjal atau lembah yang kelam. Apakah itu berarti ayat ini atau Tuhan kita gagal?
Saya rasa tidak.
Terkadang, kitalah yang tidak memahami rencana atau tujuan Tuhan yang tersembunyi dalam peristiwa-peristiwa dalam hidup kita atau istilah kerennya blessing in disguise. 
Dua tahun lalu, saya mengalami kecelakaan yang menyebabkan kaki kanan saya patah dan harus menjalankan operasi pasang pen. Bukanlah sebuah kondisi yang menyenangkan. Sama sekali. Selain rasa sakit yang saya alami tentunya, saya juga merasa takut dan khawatir terhadap berbaga macam hal. Pasalnya, saat itu saya belum lama baru mulai bekerja dan kondisi saya tidak memampukan saya untuk berjalan dan beraktivitas dalam rentang waktu yang lama. Saya khawatir terhadap keberlangsungan kerja saya. Belum lagi, biaya operasi yang terbilang besar. Perasaan bersalah karena harus membebankan orang tua saya lagi pun sangat terasa. Pasalnya, saya saat itu tidak punya asuransi maupun BPJS kesehatan. Saat itu, saya merasa dunia saya runtuh dan saya bertanya-tanya mengapa Tuhan mengijinkan hal ini terjadi dalam hidup saya. Padahal, saya merasa bahwa saya sudah menjadi anak Tuhan yang cukup baik--saya pelayanan, pergi ke Gereja--namun mengapa Tuhan mengijinkan hal itu terjadi kepada saya?
Untungnya, saya punya teman yang menguatkan dan mengingatkan saya untuk tetap berdoa dan mengucap syukur kepada Tuhan dalam segala keadaan. Awalnya saya bertanya-tanya, bagaimana saya bisa bersyukur dalam keadaan seperti ini. Namun saya akhirnya memutuskan untuk tetap berdoa. Saya merasa nothing to losetoh kondisi saya sudah hancur.
Ternyata, Tuhan tidak meninggalkan saya! Meskipun saya tidak dalam kondisi baik--meskipun saya sedang dalam kondisi kecewa dengan Tuhan, namun Ia tetap menunjukkan pertolongan-Nya yang tepat. Pertama, saya tidak diberhentikan, bahkan saya diizinkan untuk beristirahat dan tetap diberikan gaji selama saya cuti! Kedua, saya tidak perlu mengeluarkan uang sama sekali untuk proses operasi. Tuhan buka jalan buat saya dan keluarga saya sehingga kami tidak perlu mengeluarkan uang sama sekali, loh Ketiga, proses operasi berjalan lancar dan waktu pemulihan saya terbilang cepat.
Yes! Memang tidak ada yang mustahil buat Allah kita yang adalah spesialis jalan buntu. Master of Breakthrough--Baal Perazim adalah Nama-Nya.
Image result for praise god
Tuhan tidak berhenti sampai di situ saja. Ia ternyata punya maksud dan rencana yang lebih besar lagi buat hidup saya melalui peristiwa itu. Selama saya mengalami 'karantina' di rumah, saya merasa masa itu adalah sebuah masa peremukan dan pembentukan yang sangat luar biasa. Saya belajar untuk bergantung sama Tuhan sepenuhnya seperti layaknya seorang anak yang baru saja belajar berjalan dari Bapa-Nya. Saya belajar bergantung sama Tuhan untuk hal-hal kecil dalam hidup saya. Saya juga merasa Tuhan mengikis banyak hal buruk dalam hidup saya. Peristiwa itu merupakan salah satu peristiwa yang membentuk saya menjadi orang yang lebih berkenan di Hadapan Tuhan.
Sekarang, saya bersyukur karena Tuhan mengijinkan saya mengalami peristiwa tersebut. Peristiwa itu mengajarkan luar biasa banyak hal buat saya!
Saya sadar bahwa Tuhan punya rencana yang besar melalui peristiwa tersebut. Saya mungkin tidak mengetahui awalnya kenapa hal itu diijinkan terjadi, tetapi sekarang saya sadar bahwa peristiwa tersebut terjadi untuk membentuk saya dan mengajarkan saya banyak hal. Peristiwa tersebut juga sekaligus menguatkan saya dalam masa-masa sulit saya bahwa saat kita hidup dalam Tuhan maka akhirnya adalah happy ending
PRAISE HIM! Puji Tuhan apapun keadaan kita. Sekalipun saat ini kita berada di lembah atau sekeliling kita masih gelap, tetap Puji Tuhan. Puji Tuhan sampai-sampai seolah-olah hati-Nya tergerak untuk segera turun tangan. Puji Tuhan karena seluruh hidup kita bergantung kepada Dia. Puji Tuhan karena kita percaya bahwa rancanganNya untuk hidup kita adalah rancangan keselamatan, apapun kondisi kita saat itu. Do praise God in advance, dan kita akan melihat bagaimana kuasa itu turun dan bekerja dalam hidup kita
Bangkit dan jadilah pejuang-pejuang Tuhan apapun kondisi kita saat ini. Seperti Pohon Badam yang selalu berbunga pada setiap musim, sekalipun di musim dingin. Di saat pohon-pohon yang lain seolah tidur, pohon ini tetap memilih untuk berjaga-jaga dan berbunga. Apapun kondisi kita saat ini, mungkin kita terpuruk, terluka, kecewa, atau bahkan putus asa, pilihlah untuk tetap berbunga untuk Tuhan dan Tuhan akan membela dan mengangkat kondisi kita. 
Praise God in Advance.
[ Read More ]

A Little Contemplation on Why I Always Find Exceptional Joy In Worship

Author : Harvian

If, I were to be asked, "When do you feel the most alive?"
I would surely reply with, "It is at the moments when the extravagant worship happened. When the heaven's doors are opened, and when we look up it feels like the Lord is so close we could touch Him. When people's hearts became as one no matter the races, dispositions, even religions. I could trade days of boring routines with only few hours of those. When it happens, it is always life-changing."

Psalm 84:10a
Better is one day in your courts than a thousand elsewhere.

Why do worship make us enter such a blissful circumstance? Why do we just want to kneel our feet down upon getting so immersed in worship?
My soul aches to understand those.

Image result for we are made to worship

One answer that I obtained is, that it is the original purpose of our being.
We were meant to serve the Lord all day all night as in Rev 7:15, which by worship as a form, depicted in Rev 8-9.

Each time a worship with the wholeness of heart occurs, our spirit rejoices in the fact that the activity itself is our true calling.
[ Read More ]

Don't Let Your Tower of Babel Get Built

Author : Benedictus Harvian

            “Juga kata mereka: “Mari kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi.

(Image credit : pendoasion.wordpress.com)

            Apa Saudara familiar dengan kutipan Alkitab tersebut?

            Yup. Benar. Kutipan tersebut berasal dari Kitab Kejadian 11, dengan judul perikop ‘Menara Babel’. Alkisah, populasi umat manusia di seluruh bumi hanya memiliki satu bahasa dan logat. Mereka menetap di satu lokasi yang sama, yang disebut Sinear atau Babilon.

            Peradaban dan kebudayaan berkembang pesat. Sistem pendirian bangunan yang tadinya hanya menggunakan batu, berkembang menjadi menggunakan batu bata dan ter. Dan pada saat itulah muncul pikiran untuk membangun menara yang menjulang tinggi mengatasi semuanya. Untuk apa, kata mereka?

..marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi.”

Kelanjutannya, seperti yang kita sudah ketahui sendiri, Tuhan mengacaubalaukan bahasa mereka yang tadinya satu menjadi berbagai macam. Pembangunan menara Babel tersebut pun gagal.

Apa yang dapat kita tarik dari kisah tersebut?

Sehari sebelum saya menulis renungan ini, Tuhan memberikan suatu vision ketika saya sedang berdoa. Pada landscape roh saya, saya melihat banyak sekali—ratusan, mungkin—menara-menara. Dan menara tersebut tidak memancarkan suasana yang agung dan damai layaknya sesuatu yang berasal dari Tuhan. Sebaliknya, menara tersebut memancarkan kesombongan, ego, kepentingan diri sendiri, dan fitur-fitur kedagingan lainnya.

“Apa itu, Tuhan?”

Roh Kudus memberikan pengertian bahwa menara tersebut adalah menara-menara Babel yang telah saya biarkan dibangun di dalam diri saya. Di dalam jiwa maupun roh saya. Bagaimana menara tersebut dapat dibangun?

Ternyata, yang menjadi katalis dibangunnya menara tersebut adalah acap kali kita merasa mampu tanpa Tuhan, kecewa dengan rencana Tuhan, merasa sudah paling benar, merasa pencapaian kita adalah berkat usaha kita sendiri, dan masih banyak lagi sifat kedagingan lainnya. Itulah masalahnya pada kasus saya. Dengan kata lain, kesombongan. Cari nama seperti yang dikatakan pada pembangunan menara Babel. Kalau begitu apa yang sebaiknya menjadi sikap hati kita?

Bibit kesombongan memang akan ditebar, baik oleh sifat kedagingan kita sendiri atau oleh si jahat. Tapi tergantung kita apakah akan memupuk dan memelihara bibit tersebut hingga tumbuh besar dan subur, atau sebaliknya minta Tuhan untuk bersama-sama mengecek hati dan roh dan minta Ia mencabut bibit-bibit tersebut.

Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang penurut, tetapi daging lemah.” –Mat 26:41

Ya. Minta Tuhan cek hati kita lagi dan lagi. Karena percayalah, kesombongan pada akhirnya akan menjatuhkan kita sendiri. Pada sisi sebaliknya, kerendahan diri juga merupakan bentuk kesombongan. Seorang pendeta pernah bercerita bahwa kesombongan dan kerendahan diri adalah layaknya gunung dan lembah. Keduanya sama-sama dapat membuat kita jatuh.

At the end of the day, setelah aktivitas kita, luangkanlah waktu berkontemplasi dengan Tuhan. Buka hati, dan terima koreksi-koreksi dari-Nya. Kadang kita cenderung membenarkan diri sendiri, tapi percayalah bahwa Ia tahu lebih dari Saudara.

Pada sisi lain, cerita mengenai menara Babel juga berarti satu hal. Persatuan atau yang biasa disebut unity adalah suatu hal yang luar biasa penting. Selain itu, komunikasi juga. Bagaimana tidak, ketika bahasa dipecah-belah, pembangunan menara tersebut langsung terhenti tanpa ada bekasnya lagi.


Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” –Ibr 10:25
[ Read More ]

Surrendering Dreams

Author : Benedictus Harvian

            Saudara, apakah Anda punya mimpi?

            Mungkin ada di antara kita yang kenal Tuhan dan lahir baru sejak kecil. Ada pula yang setelah remaja atau dewasa.

            Saya termasuk yang kedua.

            Karena itu, saya dapat berbagi mengenai betapa pentingnya menyerahkan mimpi kita kepada Tuhan.

            Ketika kita masih anak-anak, kita pastinya memiliki banyak mimpi. Mungkin kita mengagumi orang tertentu dan ingin menjadi seperti dia, atau mendengar cerita, atau melihat dari televisi atau buku bacaan. Apa mimpi Saudara?

            Saya sendiri selalu menyukai segala hal tentang Jepang. Yup—Jepang. Animasi, komik, budayanya selalu jadi tempat saya menaruh minat besar sejak kecil. Saya ingin sekali pergi ke sana. Ingin datang ke negeri yang sangat memberi pengaruh dalam kehidupan saya sejak saya masih kecil. Ingin melihat bunga sakura. Ingin coba makanan-makanan di sana. Ingin studi di sana. Pokoknya, pengen.

            Sampai suatu ketika di SMA kelas tiga, saya dilawat Tuhan dan memutuskan untuk menyerahkan kehidupan saya untuk-Nya. Tentu saja kehidupan saya berubah banyak. Banyak hal yang ‘dipilihkan’ Tuhan. Mana yang kudus dan tidak kudus. Mana yang baik dan yang lebih baik.

            Adapun, keinginan tersebut tetap ada. Saya tetap ingin pergi ke negara matahari tersebut. Alhasil, saya pun mendaftar program pertukaran pelajar yang disediakan kampus tahun lalu.. dan mentok sampai seleksi kedua. Saya tidak berhasil lolos seleksi final, yang adalah wawancara.

            Kecewa? Yah, tentu. Memangnya saya tidak berdoa? Berdoa, kok. Dari awal mendaftar sampai seleksi, saya rutin mendoakan. Tapi apa jawaban Tuhan?

            Ternyata jawaban-Nya adalah tunggu. Tahun berikutnya, saya kembali mendaftar program pertukaran pelajar ke Jepang. Puji Tuhan, saya diterima dan akan mengikuti program internship di salah satu universitas di sana selama 4 bulan.

            Semua ini bagi saya merupakan perjalanan iman yang sangat berharga.

            Pada kesempatan terakhir saya mendaftar, saya diajarkan sesuatu yang sangat penting oleh Tuhan. Bahwa mimpi harus diserahkan kepada-Nya. Keinginan-keinginan hati kita harus diserahkan pada Tuhan. Sebab, kita bukan hidup dengan sistem dunia yang berkata bahwa usaha selalu sebanding dengan hasil. Manusia boleh berjerih payah, namun Tuhan yang menentukan. Tentu bukan berarti kita jangan berusaha. Amsal berkata bahwa mereka yang pemalas tidak akan mendapatkan apa pun.

            Ada beberapa poin yang bisa saya tarik di sini. Pertama, sadar bahwa seberapa pun usaha kita, semua ditentukan Tuhan. Maka, bawa usaha tersebut ke dalam Tuhan. Tanya Tuhan apa yang harus dilakukan. Berdoalah. Kedua, sikap hati yang benar sangat menentukan. Apa tujuan mimpi kita tersebut? Apakah untuk memuliakan Tuhan? Atau untuk kesenangan semata? Tuhan tuntun saya hingga poin saya berkata dalam doa ‘Tuhan, saya sangat ingin pergi. Tapi kalau justru itu malah akan menjauhkan saya dari Engkau, jauhkan itu dari saya. Biar saya hanya menyenangkan-Mu.’ Mintakan kerendahan hati dan sikap hati hamba dari Tuhan. Ketiga, jangan buka celah. Berdoa. Minta Tuhan singkapkan celah-celah dosa dalam hidup Anda. Jangan sampai rencana Tuhan bisa diinterferensi si jahat karena adanya celah tersebut, entah celah tersebut Anda sadari atau tidak. Setelahnya minta ampun. Meratap minta ampun sama Tuhan dan minta celah-celah tersebut ditutup. Minta supaya berkat-berkat yang telah tercuri direbut kembali.


            Apa pun mimpi kita, mari kita mimpikan bersama Tuhan.
[ Read More ]

Pentingnya Persekutuan

Author : Benedictus Harvian

            Kita sampai pada tulisan terakhir. “Pentingnya Persekutuan” ini dibawakan oleh Kak Choki, yang sangat berjiwa mentor bagi anak muda. Terima kasih atas pelajaran berharga yang telah Tuhan sampaikan lewat Kakak! So, here we go..

            Dalam prequel telah disinggung sedikit mengenai Sumber Air . Mata Air kita adalah Tuhan yang tidak akan membuat kita haus lagi. Kata-kata tersebut telah membuat seorang perempuan Samaria yang memiliki hubungan gelap dengan lima orang laki-laki bertobat dan berkeinginan untuk mengejar sosok Tuhan Yesus. Perempuan tersebut menyadari bahwa Sosok yang sedang berbicara dengannya adalah Sosok yang dapat menghilangkan rasa haus jiwa dan rohnya.



Image credit goes to vocations.ca

            Mendapatkan air dari sumber tersebut tidak selalu merupakan perkara yang mudah! Peneliti sumber mata air pertama harus meneliti jenis tanah. Setelah itu, ia baru dapat menggali dengan harapan menemukan air. Biasanya penggalian ini dilakukan lebih dari sekali sampai sukses. Bila orang tersebut menyerah setelah sekali menggali dan gagal—ia tidak mendapatkan air tersebut. Ia harus terus mencoba dan mencoba lagi.

            Ada kalanya, situasi dalam kehidupan kita mempersulit kita mendekatkan diri dengan Tuhan. Yang harus kita lakukan pada saat seperti itu sudah jelas. Sama seperti si penggali mata air, Saudara cari dan cari terus hingga dapat! Kita harus melatih kedisiplinan rohani kita.

Yosua 1:8
Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya.

            We must be thankful all the time. Suatu ketika, Kak Choki tertimpa musibah : punggung Beliau cedera cukup parah. Pasalnya, ia tertimpa dus berisi banyak sekali buku yang jatuh dari rak tinggi pada sebuah toko. Langsung saja ia dilarikan ke rumah sakit terdekat dan terpaksa menjalani rawat inap. Hari demi hari berlalu dengan tagihan rumah sakit yang semakin membengkak. Adapun, ketika Kak Choki memutuskan untuk berserah sama Tuhan, terjadi sesuatu. Pasien di sebelah Beliau tiba-tiba datang dan minta didoakan. Setelah itu, ia memberikan sejumlah—dengan nominal sama persis seperti yang dibutukan untuk membiayai rumah sakit. Puji Tuhan!

Mazmur 84:12
Sebab TUHAN Allah adalah matahari dan perisai; kasih dan kemuliaan Ia berikan; Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela.

            Saudara, segera lakukan apa yang Tuhan taruh dalam Saudara. Bila Ia bangunkan kita taruh satu nama di hati kita untuk kita doakan, kerjakanlah. Yap, selelah apa pun kita. Bukan tidak mungkin bahwa kita ditugaskan untuk berdoa agar orang tersebut terhindar dari suatu hal yang diinginkan. Intinya, taat setiap saat dan dahulukan kehendak-Nya.


            Atasi pergumulan dengan persekutuan dengan Tuhan. Tetaplah setia pada apa yang Ia percayakan.
[ Read More ]

Secret Place

Author : Benedictus Harvian
  
          Seperti yang tertera pada Prequel, “Secret Place” adalah saduran kotbah dari seorang hamba Tuhan yang kami hormati dan telah memberkati amat sangat dengan mengisi acara Gathering kami. Yap, here you go, “Secret Place.

            Tidak ada yang tidak butuh waktu pribadi dengan Tuhan. Saudara butuh hubungan yang intim dengan Sang Pencipta. Mengapa?

            Karena kita tidak dapat melakukan segala sesuatunya sendiri.

            Kita dapat memiliki berbagai ide-ide cemerlang lewat pemikiran kita, namun apa yang baik bagi kita belum tentu sesuai dengan apa yang Tuhan mau. Jelas bahwa Tuhan mau yang terbaik untuk kita. Baik saja tidak cukup.

            Kesombongan tidak membawa kita ke mana pun. Saudara ingat bukan, bahwa Iblis jatuh karena kesombongan. Keep in mind, tanpa Dia kita tidak bisa melakukan apa-apa. Hal itu terlihat sangat jelas pada kesaksian yang menjadi titik balik dalam kehidupan Kak Anno berikut ini.

            Beliau datang dari keluarga kaya. Kehidupan ala kaum borjuis tersebut dijalaninya tanpa disia-siakan. Dari gadget sampai mobil, mau apa pun tinggal minta. Pada saat-saat itu, Kak Anno telah menjadi seorang pelayan dalam gerejanya, namun cenderung masih menjalaninya dengan setengah hati. Apa titik balik yang dapat membuat perubahan sedemikian besarnya dalam hidup Beliau? Ternyata, Ibu Kak Anno meninggal. Karena penyakit. Tidak, hal tersebut tidak mengejutkan Kak Anno. Pasalnya, Ia sempat mendapatkan sendiri dari Tuhan bahwa Almarhum Ibunda Beliau, yang saat itu memang sedang sakit, akan segera ‘pulang’. Bahkan Tuhan menanyakan kesediaan Beliau untuk melepas Almarhum hingga tiga kali, pada kurun waktu yang berbeda! Sampai pada pertanyaan yang kedua, Kak Anno masih menjawab “tidak.” Baru pada pertanyaan ketiga, Kak Anno merelakan—dan saat itulah Ibunya berpulang.

            Hal ini membawa dampak besar bagi kehidupan Kak Anno—bukan hanya dampak psikis. Saat itu seluruh tanggungan keluarganya berada pada sang Ibu, yang otomatis menjadi kacau balau ketika Almarhum sudah tidak ada lagi. Kemerosotan ekonomi Beliau begitu parah hingga semua kehidupan nyamannya tidak dapat lagi ia nikmati sedikit pun. Pacar yang telah menemani hidupnya selama delapan tahun juga meninggalkannya. Terpaksa, demi manyambung hidup ia menjadi tukang koran. Langganan makannya tiap hari turun kelas menjadi warteg, menu yang dipilih pun selalu sama dan paling murah.

            Sampai, suatu ketika ketika Beliau sudah berada dalam batas, ia berjalan menyusuri jalan-jalan raya, absent-mindedly. Dengan pikiran kosong dan pandangan nanar, ia menemukan sosok orang yang sepertinya agak terganggu jiwanya di pinggir jalan. Saking sudah hilang akal, ia duduk di samping orang tersebut, mencoba berinteraksi. Pertanyaan-pertanyaan apa pun mulai dari “apa yang kamu lakukan di sini” sampai retorika “hidup itu keras, ya” hanya dijawab dengan anggukan dan respon sangat bersemangat dari orang tersebut. Senyum yang disunggingkan lawan bicaranya membuat Kak Anno merasa masih diterima, masih dianggap keberadaannya, dan ia merasakan damai sejahtera yang amat sangat. Selesai berbicara, ia meneruskan perjalanan dengan langkah yang lebih mantap. Alangkah terkejutnya Beliau ketika mendapati si orang tersebut sudah menghilang sama sekali. Saat itu ia sadar, ia baru saja mengalami hal yang dialami tokoh-tokoh terkenal di Alkitab : perjumpaan dengan malaikat yang menyamar.

            Yah, sejak saat itu hidup Kak Anno mulai kembali lagi kepada porosnya. Bila dibandingkan dengan peristiwa sebelumnya, betapa tidak ada yang menganggap Beliau diberkati karena telah sempat mengunjungi Israel, berkoneksi dengan pebisnis-pebisnis dunia, dan memiliki kendaraan pribadi. Bedanya dengan kehidupan borjuisnya yang dulu adalah, ia sekarang memusatkan segalanya pada Tuhan. Dashyat, bukan?

            Nah. Yang menjadi inti adalah, sebanyak apa pun yang kita miliki sekarang dapat saja tidak lagi kita miliki. Namun berbeda soal bila kita hidup dalam Dia sepenuhnya dan sadar betul bahwa kita tidak mampu. Tak mampu berbuat apa pun tanpa kehendak-Nya. Tanpa penyertaan-Nya dan hadirat-Nya. Give all the glory to the respected Owner. Him.

            Sadar sepenuhnya akan hal itu, penting sungguh bagi kita untuk membangun secret place dengan Tuhan. Dan, tidak hanya membangun, tapi juga mempertahankan. It’s a continuous relationship, one we have with God. Harus punya hubungan yang baik dan intim dengan Tuhan!

Yesaya 55:7
Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepadaNya selama Ia dekat!

Bukankah kira-kira seperti ini? Andaikan Saudara salah satu dari antara mereka dan Tuhan adalah yang satunya. Ohya, gambar berasal dari katebooksandtea.blogspot.com

            Secret place. Coba masuk ke Hadirat Tuhan. Coba tanya apa yang Tuhan inginkan dalam hidup kita. Para pemusik, ambil gitar dan petik. Pikirkan Tuhan. Pikirkan kebaikan-Nya. Keagungan-Nya. (Berlaku juga untuk yang menguasai alat musik lain. Hehe) Tanpa alat musik, hape atau pemutar mp3 pun jadi.

            Kita dapat merasa lelah. Kita dapat merasa jenuh. All the more reason untuk bangun secret place!

Matius 11:28
Marilah kepadaKu yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberi kelegaan padamu.

            Kita harus disiplinkan diri, Saudara! Kita harus kalahkan kebiasaan buruk kita sebelum kebiasaan tersebut mengalahkan kita. Bila sulit bangun pagi untuk ber-saat teduh, biasakan. Tetap berkomitmen untuk setia datang dalam perkumpulan-perkumpulan ibadah. Working hard may be good, but working smart ranks over it! Hal-hal yang menghambat seperti contohnya luka lama karena konflik atau kebiasaan buruk seperti yang disebutkan tidak dapat kita biarkan mengalahkan kita.


            Perjuangkan sama-sama secret place kita, yuk.
[ Read More ]

Prequel untuk "Secret Place" dan "Pentingnya Persekutuan"

Author : Benedictus Harvian

Ibrani 10:25
Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan banyak orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.”

            Saudara, kita tahu bahwa Allah adalah Sumber Air kita dan barangsiapa yang datang kepada-Nya tidak akan lagi merasa haus. Ia juga adalah Roti Kehidupan yang membuat kita tak akan pernah lagi merasa lapar.

            By the way, apa Saudara tahu lagu ini?

“Saat kurenungkan hidup bersama-Mu
Seringkali ku melupakan-Mu
Ku berjalan sendiri seakan ku mampu
Lalui tanpa kekuatan-Mu”

            Yap, mungkin familiar dan rings a bell. Benar sekali, lirik penuh kontemplasi dan kerendahan hati di atas adalah lirik lagu ‘Cinta Sejati’ yang dibawakan dengan indah oleh Nikita.

“Semakin berat beban hidupku
Semakin ku menjauh dari-Mu”
  
          Bagaimana tanggapan Saudara akan lagu ini? Apakah barangkali…. nohok? Yah, kalau begitu tanggapan kita sama, Saudara! Tapi walau memang sungguh kontemplatif dan membuat kita sadar bahwa kita memang masih harus ditempa dan ditempa lagi dalam Tuhan, lirik yang paling saya sukai dalam lagu ini datang dalam baris-baris berikutnya :

“Namun ada cinta yang tak pernah berlalu
Cinta yang kudapat dari-Mu
Tlah teruji lalui rentangan sang waktu
Kau mati bagiku
Berkorban untuk diriku”

            That’s called grace. Kasih karunia. Tanpa ada hubungan dengan tindakan atau sikap kita, Tuhan tetap sayang banget. ’Fatherly love’ may be a good way to phrase it, I think. Yap, Ia sungguh angkat kita bila kita jatuh.

            Kasih karunia Tuhan sungguh overwhelming. Adapun, respon kita terhadap kasih-Nya juga harus tepat! Toh, kita mengasihi karena Ia mengasihi kita lebih dahulu, bukan. Soo, we must contemplate about our actions and responds sometimes.

            Saudara, coba ambil waktu dan perhatikan penggalan lirik di atas. Apakah bagian-bagian yang tadi saya sebut ‘nohok’ benar-benar terjadi dalam hidup Saudara? Kalau dipikir lagi, hal tersebut miris banget. Lah wong udah tau kalo Sumber Kekuatannya Tuhan, eh malah kabur tau kemana pas sebenernya butuh..

            Benar bukan bahwa hal yang saya katakan tadi itu tidak lain tidak bukan daripada benar? Hehehe. Maaf untuk silat lidahnya.

            Intinya, apakah mau kalau Saudara di pihak Tuhan dan Saudara terus menerus ditinggalkan? Saya sih tentu tidak.. Pernahkah Saudara berpikir bahwa kelalaian-kelalaian kita terhadap Tuhan yang kita sering anggap sepele sebenarnya sangat-sangat berpotensi membuat sakit hati bila dihadapkan pada hubungan antar pribadi, for the sake of making it simple, seperti hubungan antar manusia? Tuhan adalah Pribadi, loh!

            Nah. Salah satu penyakit kita adalah sering merasa sanggup. Sering merasa harus mengambil kontrol atas semua hal dalam hidup. Bukan, bukan berarti saya berkata kita harus rendah diri dan malas-malasan, NO. Tapi the point is, kita memang dituntut untuk serahkan kendali pada Tuhan. Izinkan saya kembali mengutip lagu! Kali ini lagu luar biasa yang dibawakan oleh orang-orang luar biasa selanjutnya adalah Oceans dari Hillsong.

“Spirit lead me where trust is without borders
Let me walk upon the waters
Whenever You would call me
Take me deeper than my feet could ever wander
And my faith will be made stronger
In the Presence of my Saviour”


Image credits go to imgarcade.com

            Percaya, berserah. Kedua hal ini membutuhkan kita untuk ‘menenggelamkan’ diri dalam Hadirat-Nya. Dan arti dari tenggelam adalah tidak lain dari berada dalam situasi yang tidak lagi bisa kita kontrol sepenuhnya. I mean, sejago-jagonya Saudara dapat berenang, tentu ada batasan saat kita berada dalam air, bukan? We can’t breathe underwater anyway.. Nor that we can move as freely as we can in the land.

            Jadi.. Sepertinya kontemplasi yang dilakukan sudah cukup panjang. Saatnya menarik kesimpulan. Apa yang bisa kita lakukan saat merasa tidak sanggup? Berserah. Bukan cari jalan sendiri. Cari jalannya Tuhan. Ngotot, gumulkan, sampai tahu maunya Tuhan. Cari dalam doa. Cari dalam pujian. Cari dalam secret place Saudara dengan Tuhan. Ikuti perkumpulan-perkumpulan doa Saudara saat sedang dalam kesukaran, bukan justru ‘bolos’ dengan alasan itu!


            Pasti Tuhan punya jawaban. Jangan kehilangan harapan. Remember, He’s waiting for you at the usual place : your secret place of intimacy with God.

Ohya, tulisan ini merupakan pengantar untuk kedua tulisan setelahnya, "Secret Place" dan "Pentingnya Persekutuan". Kedua tulisan tersebut disadur dari kotbah yang dibawakan kedua kakak luar biasa yang telah berjasa banyak pada Gathering kami tahun ini, Kak Choki dan Kak Anno. Mereka hamba Tuhan luar biasa yang sangat peduli pada dua hal : pergerakan Tuhan dan kaum muda. Yap, Kak Choki dan Kak Anno adalah pelayan Tuhan yang bergerak khusus di kaum muda dan berkesempatan untuk melayani di Gathering kami. Terima kasih, kakak-kakak, dan puji Tuhan atas pelayanan mereka!
[ Read More ]

Don't Stop Believing

I have this dream since believing Jesus as my Savior : seeing my family believe in Jesus as well.

Saya berasal dari keluarga non Kristen. Salah satu mimpi terbesar saya adalah melihat keluarga saya percaya Kristus dan kami pergi ke gereja bersama. Kadang, saya merasa sirik melihat satu keluarga yang pergi ke gereja bersama dan berdoa bersama. Walaupun saya percaya, setiap keluarga punya prosesnya masing-masing.

Setelah menerima Kristus untuk pertama kali, saya begitu menggebu-gebu memberitakan Injil kepada adik-adik saya. Saya ingin memberitahukan kabar gembira ini agar mereka tahu siapa Yesus itu dan ikut mengalami apa yang saya alami : dipulihkan, merasa sangat dikasihi, lahir baru dan merasakan damai sejahtera.

Saya menghabiskan waktu menjelaskan Injil, menceritakan secara radikal bahwa agama-agama lain di luar Kristus tidak menyelamatkan. Awal-awal saya menjadi orang percaya, saya menjadi sangat radikal dan memberitakan Injil tanpa berhikmat. Hasilnya? Alih-alih membuat keluarga saya percaya, saya malah dikira sok pintar.

Akhirnya saya mengerti dalam prosesnya bahwa yang terpenting itu bukan hanya kata-kata melainkan disertai perbuatan. Seperti kata Yakobus : jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka pada hakekatnya adalah mati (Yakobus 2:17).

Setelah itu saya mengerti bahwa lebih baik saya menunjukkan perubahan yang nyata daripada sekedar menginjili mereka. Dimulai dari hal kecil seperti membereskan tempat tidur sendiri tanpa disuruh, tidak mudah marah, tidak melawan orang tua, menjadi kakak yang baik dan merubah sifat-sifat buruk lainnya. Seringkali saya gagal, tapi Roh Kudus selalu membantu saya melalui proses ini.

Setelah tiap hari mendoakan keluarga saya dalam dua tahun terakhir dan tidak melihat ada perubahan yang berarti, saya mulai kehilangan harapan. Pikiran-pikiran seperti ‘mungkin mereka tidak akan pernah percaya Kristus’, ‘mungkin usaha saya selama ini sia-sia’ dan banyak lagi kata mungkin menghinggapi pikiran saya.

Saya mulai bertanya-tanya pada Tuhan.

Kapan keluarga saya menjadi percaya?!

Akhirnya dari menuntut Tuhan untuk mempercepat proses-Nya, saya capek sendiri dan tidak menuntut Tuhan lagi tapi menyerahkan semuanya di tangan-Nya. Saya fokus menumbuhkan iman saya dan mengejar Tuhan, tentunya dengan tetap mendoakan keluarga saya. Hanya saja, saya sudah tidak memaksa Tuhan untuk mempercepat prosesNya.

Kemudian suatu hari saat mendengar sebuah khotbah di gereja, saya disadarkan satu hal. Inti khotbahnya adalah ‘semakin Anda mengalami pertumbuhan rohani, semakin besar efeknya kepada orang-orang sekitar Anda. Selama saya fokus mengejar Tuhan, ternyata tanpa saya sadari adik-adik saya juga mengalami pertumbuhan rohani luar biasa. Mereka jadi pergi ke gereja (yang saya pikir awalnya tidak akan bertahan lama), bahkan iman mereka membuat saya terkagum-kagum sekaligus malu. Iman mereka mengingatkan saya ketika pertama kali saya bertobat; begitu menggebu-gebu mencari Tuhan. Bahkan suatu hari saya berhasil membuat kami menyembah Tuhan dan berdoa bersama. Saya tidak akan pernah melupakan perasaan hari itu. It felt so unreal.



Tidak hanya itu, saya juga ditunjuk memimpin doa untuk om saya. Om saya menderita kanker paru-paru stadium akhir. Keadaannya sudah sangat parah. Tidak bisa makan, minum bahkan tidur. Saat saya mengunjunginya, dia meminta saya berdoa untuknya. Dia berkata setiap habis didoakan, dia merasa lebih baik. Karena itu, keluarga saya meminta saya selalu mendoakannya setiap kali saya berkunjung. Saya tidak pernah membayangkan saya akan memimpin doa di tengah-tengah keluarga saya.

Akhirnya om saya menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya. Sebelumnya, om menjalani suatu prosesi kesembuhan dari kepercayaan yang keluarga saya anut, yang ternyata, malah membuat kondisinya semakin parah. Puji Tuhan karena kuasa-Nya, setelah menerima perjamuan kudus, kondisinya menjadi sedikit lebih baik. Setiap kali didoakan, baca Alkitab, om saya malah menjadi bisa minum dan tidur selama beberapa jam yang sebelumnya sama sekali tidak bisa ia lakukan.

Saya pikir melihat om saya, keluarga saya akan percaya bahwa Yesus lebih berkuasa dari tuhan yang mereka sembah.

Tapi ternyata tidak.

Orang tua saya tetap belum percaya.

Yah, tapi saya percaya segala sesuatu akan ada prosesnya. Kalau beberapa waktu lalu Anda berkata adik-adik saya akan percaya Kristus dan pergi ke gereja atau saya  akan memimpin doa untuk om saya, mungkin saya tidak akan percaya. Rasanya itu tidak mungkin. Tapi ternyata sekarang saya bisa pergi ke gereja bersama adik-adik saya.

Saya percaya suatu hari nanti saya tidak hanya pergi ke gereja bersama adik-adik saya tapi bersama orang tua saya juga!

Dan saya ingin Anda juga tidak menyerah terhadap mimpi Anda, walaupun itu terdengar tidak mungkin sekalipun.


Don’t stop believing!
[ Read More ]