Battle of the Mind!



Author : Benedictus Harvian
Di dunia ini di mana ratusan persoalan mencuri perhatian kita dari Tuhan, kita harus secara sengaja dan terus menerus mengingatkan diri kita sendiri mengenai Tuhan.
-Francis Chan, Crazy Love
            Hadapilah, Saudara, manusia adalah makhluk yang lemah.

Kita boleh berkomitmen pagi harinya untuk tidak marah-marah dan mengasihi sebagaimana Ia mengasihi kita, namun kejadian tak terduga siangnya sudah membuat kita melanggar komitmen itu.
Kita boleh mengaku dosa kita dan meminta pengampunan sambil bersimbah air mata pada doa malam kita, ketika esok harinya kita kembali terjatuh pada dosa yang sama.
     
       Mungkin terkadang, kita menyalahkan keadaan.
    
        Apa boleh buat, ini semua karena saya bertemu orang sangat menyebalkan itu. Apa boleh buat, semua karena kejadian X, Y, Z.. dan seterusnya.
    
        Namun.. Kalau seperti itu adanya, tidakkah kita sama dengan orang yang tidak mengenal Tuhan?

(Sumber gambar : http://holydak.deviantart.com/)

   
         2 Korintus 10 : 5
            Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus.
    
        Segala-galanya dari kita adalah untuk diserahkan bagi Allah, tak terkecuali pikiran kita. Pikiran kita adalah milik Allah!
     
       Filipi 4 : 8
            Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semua itu.
    
        Itu perbedaan kita dengan orang yang tidak mengenal Allah, Saudara. Kita berkewajiban menjaga pikiran kita dan menaklukkannya kepada kehendak Allah. Kita memijak dunia yang sama, bahkan lebih jauh lagi mungkin dapat dikatakan menghadapi kesukaran-kesukaran setiap hari yang sama. Bos nyebelin yang sama di tempat kerja, dosen nyebelin yang sama di kampus, atau teman nyebelin yang sama. Kalau orang dunia responnya lantas marah-marah atau bersungut-sungut, kita beda. Guidebook kita di  Filipi 4 ayat 8!
     
       Pengarang dari buku yang penggalan kalimatnya saya kutip di awal tulisan, Saudara Francis Chan, mengatakan bahwa hidup ini dapat diibaratkan dengan mengarungi sungai. Tujuan kita ada di hulu, yaitu Kristus. Kita akan terseret ke hilir di mana kita mendapati diri kita semakin jauh dari Tuhan bila kita hanya diam dan tidak melawan arus.
    
        Suatu perjuangan? Yup. Berat? Hmm, tergantung. Tuhan kan menyatakan bahwa kuk-Nya enak dan beban-Nya ringan.
     
          Bagaimana menjalani semuanya tanpa merasa terbeban secara berlebihan?
    
      Jawabannya, bila kita melakukan semuanya atas dasar kasih kita sama Tuhan. Saat kita mengasihi seseorang sehabis-habisnya, otomatis kita akan melakukan apa pun untuknya. Terasa berat pun tidak. Karena.. Well, it’s all about love. Kita cuma mau liat Dia seneng.
    
        Jangan lupakan pula yang tertulis di 1 Yohanes 4 : 19, kita mengasihi karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. Dengan memiliki kesadaran penuh atasnya, kita sadar bahwa memang tidak ada yang bisa kita banggakan atau sombongkan, semuanya murni karena kasih karunia.
    
       Ayo kita angkat senjata kita yang diperlengkapi kuasa Allah (2 Korintus 10 : 4) dan kita rubuhkan benteng-benteng si jahat dalam pikiran kita, dan dengan demikian juga hati kita. Salam kemerdekaan dalam Tuhan!
[ Read More ]

You are Loved - 2


Author: Silvia Gautama

Pada 1 Desember 2012. Saya mengikuti acara yang diadakan oleh Mecs Cross conference. Mecs Cross conference adalah kegerakan anak muda Kristen lintas gereja yang dikelola secara independen tanpa membawa denominasi gereja . Gerakan ini bertujuan untuk membangkitkan  generasi muda Indonesia yang bukan hanya takut akan Tuhan, tetapi juga hidup dalam nilai-nilai mulia, memiliki kompetensi tinggi dan juga matang dalam hal karakter dan mentalitas. Untuk mengetahui lebih jelas mengenai kegerakan mereka, Anda dapat mengunjungi website mereka, yaitu http://www.mecscross.com.
            Banyak hal yang saya dapatkan melalui conference itu. Tapi, topik yang ingin saya bagikan ini adalah YOU ARE LOVED. Anda sangat dicintai.. ya, saya katakan sekali lagi Anda sangat dicintai. Seringkali, kita lupa betapa berharganya hidup kita dan akhirnya kita malah menyia-nyiakan hidup kita untuk hal yang tidak bernilai. Melalui conference ini, saya diingatkan kembali betapa saya sungguh berharga di mata Tuhan. Hal inilah yang ingin saya bagikan kepada Anda. Bahwa, Anda dan saya sama berharganya di mata Tuhan
            Salah seorang pembicara dalam conference tersebut, Josua Iwan Wahyudi, benar-benar membuat saya melihat kembali betapa berharganya saya di mata Tuhan.

Perlu Anda ketahui bahwa sesuatu disebut berharga karena 5 hal, yaitu:

1.   Siapa yang membuat?
Lukisan yang dibuat Picasso betapapun menurut kita itu aneh dan abstrak tapi karena dibuat oleh Picasso, pelukis terkenal, maka harga lukisan itu pun menjadi sangat mahal. Nah berdasarkan analogi ini, coba anda pikirkan Siapa yang membuat kita? Kita diciptakan oleh Tuhan, sang Kreator Agung. Bukankah itu artinya kita sangat berharga? Coba kita renungkan. Tuhan hanya perlu berfirman untuk membuat alam semesta ini beserta isinya. Tapi untuk membuat kita? Ia mengotori tangan-Nya dengan debu dan tanah. ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup (Kejadian 2:7). Tuhan menghembuskan nafas hidup, itu artinya there’s a part of God inside of you! Bukankah ini tandanya Anda sangat berharga.

2. Bagaimana proses diciptakannya?
Tas ‘Hermes’ bisa sedemikian mahalnya karena dijahit oleh tangan atau Handmade. Bukan menggunakan mesin. Buatan tangan lebih mahal daripada mesin. Sadarkah kita kalau kita adalah Masterpiece Tuhan yang dibuat langsung oleh tangan-Nya. Anda sangat berharga karena Anda adalah buatan tangan Tuhan sendiri. Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku (Mazmur 139:13). Nafas Tuhan berdetak bersama jantung Anda. Ada separuh jiwa Tuhan di dalam hidup Anda.

3. Seberapa berani orang membayarnya?
Apakah Anda pernah mengikuti lelang atau setidaknya melihat sebuah acara lelang? Pada acara lelang, harga suatu barang akan semakin tinggi berdasarkan penawaran yang dilakukan oleh seseorang. Misalnya di sebuah acara lelang sedang dilelang sepatu David Beckham. Semakin tinggi orang berani membayarnya, semakin tinggi nilai sepatu itu. Anda tahu berapa harga Anda? Anda dibayar seharga Yesus karena Yesus mati di kayu salib untuk Anda. Orang yang disalib adalah orang yang tidak berharga, yang melakukan kesalahan yang besar. Sedangkan Yesus? Yesus sangat berharga, Dia Tuhan! Tapi Dia rela mati disalib untuk menunjukkan betapa berharganya kita.

4. Berapa banyak dibuat?
Barang-barang limited edition harganya lebih mahal daripada barang yang banyak terdapat di pasaran. Tas hermes sudah dijahit sendiri, limited edition pula. Begitu jugapun Anda dan saya. Adakah orang yang sama persis dengan Anda di dunia ini? Mulai dari nama, sikap, kepribadian? Saya bisa pastikan tidak ada. Tidak ada satupun orang di dunia ini yang sama persis dengan Anda. You’re limited edition. Repeat after me: I AM LIMITED EDITION.

5. Emotional connection
Tuhan menaruh seluruh hati-Nya saat Ia menciptakan kita. Karena itu kita punya ikatan dengan Tuhan. Ikatan ini adalah ikatan yang sejati yang tidak bisa digantikan atau dihancurkan oleh siapapun. Cara Tuhan menciptakan kita lebih berharga daripada Tuhan menciptakan malaikat. Karena Tuhan, menaruh seluruh kasih-Nya saat membuat Anda. Karena itu, bagaimanapun Anda.. siapapun Anda.. Anda sangat berharga. You’re His masterpiece.

Sudahkah Anda menyadari betapa Anda berharga di mata Tuhan? Ketika Anda sadar bahwa hidup Anda sangat bernilai, Anda tidak akan menyia-nyiakan waktu Anda untuk melakukan hal-hal yang tidak bernilai. Ketika Anda mau berbuat dosa, ingatlah bahwa ada sebagian jiwa Tuhan di dalam diri Anda. Tegakah Anda mencemarkan gambar Tuhan yang ada dalam diri Anda? Atau tegakah Anda mengkhianati kasih-Nya

Ayat Validasi:
Kejadian 2:7; Mazmur 139:13
[ Read More ]

What If

Author: Aloisius Kevin

Gimana nih??? Gw harus ngapain!?? Gw harus ngapain!!??
Gimana nih gw nanti??..
What to do?? What to do??

Begitulah kata-kata yang saya keluarkan beberapa minggu yang lalu.
Mungkin Anda jadi bertanya-tanya apa yang sedang saya alami, sampai-sampai saya bisa mengeluarkan kata-kata aneh semacam itu.
Kebakaran rumah?
dikejar kucing?
Dompet ilang?
ATM dicolong orang?
Jatuh ke got?
Tidak, Tidak ada satupun dari kejadian di atas yang saya alami.
Rumah saya tidak terbakar ataupun kebanjiran. Dompet saya juga tidak ilang maupun dicolong orang.
“Loh..Kalo gitu saya kenapa? Kok kata-katanya  aneh amat?”
Teman-teman, saya sedang………………..
UTS

Kalau misalnya otak saya digambarkan dengan kata-kata, kurang lebih akan berisi seperti ini menjelang detik-detik UTS:
1 Bulan menjelang UTS?
‘UTS??? Apalah ituu?? BWAHAHAHAHA’
2 Minggu menjelang UTS?
‘UTS ya?? Hem…masih 2 minggu lagi. Santai aja..’
1 Minggu menjelang UTS
“Waaa..1 minggu lagi UTS. Fokus!! Fokus!!(Sambil main PSP)”
2 Hari menjelang UTS
“Belajar!!! Belajar!! (lagi-lagi sambil main PSP)”
1 hari menjelang UTS
“I’M DEAD….God….help…T.T(Belum belajar apa-apa)”


 “Ya ampunnnn..UTS doank…Gw kira kenapa”, mungkin ada beberapa dari teman-teman sekalian yang berpikir demikian.
Tapi bagi saya dan beberapa teman mahasiswa lainnya, UTS (Ujian Tengah Semester) dan UAS (Ujian Akhir Semester) merupakan sebuah ujian kehidupan yang sangat berat.
Kenapa? Karena UTS dan UAs membuat saya harus membagi banyak hal di dalam kehidupan seorang mahasiswa.
Membuat saya harus membagi waktu, antara pelayanan untuk Tuhan dengan belajar untuk ujian.
Membuat saya harus membagi tenaga, antara belajar materi ujian dengan menyelesaikan tugas yang sudah deadline.
Membuat saya harus membagi pilihan, antara tidur di atas ranjang atau tidur di atas buku.
Membuat saya harus membagi kepercayaan, antara Tuhan dengan contekan…..
Dan seperti biasa, kejadian-kejadian yang menekan saya, pastinya membuat saya jadi parno.
(Parno: Rasa kekhawatiran yang timbul akibat dari suatu kejadian di luar perencanaan; Panik yang berlebihan; Rasa takut tanpa disertai dengan alasan yang jelas.)
Gila!!! Banyak banget bahannya..
Gimana ya kalo gw nanti gak lulus??
Gimana ya kalo nanti IP gw jelek
Gimana ya kalo nanti gw gak bisa dapet A
Dan masih banyak “Gimana ya  kalo nanti gw…..” lainnya, yang membuat saya berkata “Saya harus ngapain ya Lord Jesus???”
Ke’parno’an saya membuat saya jadi takut setengah mati dan membuat iman saya mulai goyah.
“Ehm..Kalo gw bikin contekan, nanti bisa ketauan. Tapi gak mungkin juga gw bisa belajar semuanya malam ini. Duh…Mesti gimana ya..??”, saya bertanya dalam hati.
Akhirnya karena putus asa, saya menyerahkan semua masalah saya ke Tuhan.
Saya  masuk ke kamar, menutup mata, dan mulai menumpahkan semua kekhawatiran saya ke bawah kakinya.
Diawali dengan sebuah doa untuk pimpinan Hikmat Allah, akhirnya saya mulai belajar.
‘SEMANGAT!!!......’
Dan saya pun menghabiskan malam tersebut dengan belajar materi untuk ujian besok.

Meskipun saya sudah belajar semalaman, tapi ternyata bahan yang harus saya pelajari masih sangat banyak.
Mulai lagi deh tuh saya khawatir
“gimana yak kalo gw begini,,,gmna ya kalo gw begitu,,”, dst, bahkan Saking khawatirnya saya, tangan saya mulai gemetaran sendiri.
Tanpa disadari waktu memaksa saya untuk masuk ke ruang ujian.

Di dalam ruang ujian saya yang udah pasarah, memohon lagi kepada Tuhan.
“Lord…Help me. I’ve done my best. Let Your will be done. amen”, dan memulai membalik kertas soal saya.
Tadinya saya berpikir akan mengerjakan sebisa saya, dan keluar dari ruangan ujian setelah 15 menit.
Namun tampaknya bukan itu yang Tuhan rencanakan.
Semua soal yang keluar di ujian tersebut, adalah soal-soal yang sudah saya pelajari.
Sedangkan semua soal yang tidak saya pelajari, TIDAK keluar di ujian tersebut.
Ekspresi saya langsung berubah dengan mata belo (0_0) dan mulut melongo (‘0’).
Saya mengerjakan soal tersebut sampai selesai semuanya, sambil terheran-heran dengan pekerjaan tangan Tuhan.

Dan hal tersebut terjadi  lebih dari 3 mata kuliah yang diujikan.
Alhasil, nilai ujian saya cukup memuaskan :3
Dari pengalaman ujian parno tersebut, saya belajar sesuatu.
Terkadang sebagai manusia kita sulit untuk berserah kepada Tuhan, dan itu merupakan hal yang wajar.
Karena terkadang kita lebih tertarik untuk menyimpan “gimana ya kalo gw nanti begini” atau “gimana ya nanti kalo gw begitu”, dibanding berserah pada Tuhan.
Padahal jika diukur dari besarnya kekuatan, kekuatan manusia kalah jauh banget sama kekuatan Tuhan.
Jadi kenapa gak berserah aja sama Tuhan?
Berserah bertujuan agar Tuhan turun tangan dalam menghadapi masalah kita.
Berserah berawal dari kepercayaan.
Kepercayaan berawal dari iman.
Iman berawal dari kasih.
Kasih berawal dari pengenalan dan pencarian akan Tuhan.
Jadi kalau kita mau berserah dan membiarkan Tuhan membukakan kita jalan, carilah kerajaan-Nya lebih dahulu, carilah Tuhan lebih dahulu
Kekhawatiran kita tidak akan membuahkan apapun.
Dalam kasus saya, kekhawatiran yang saya pelihara, hanya akan membuahkan tangan yang gemetar saat belajar.
Tuhan Yesus sendiri berkata,
“Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta pada jalan hidupnya?”(Lukas 12:25)
Maksudnya, sebesar apapun kekhawatiran Anda, kekhawatiran tersebut tidak akan membukakan jalan bagi masalah hidup Anda.
Hanya tangan Tuhan yang dapat membukakan jalan bagi Anda.
Namun bukan berarti kita tinggal duduk saja tanpa berbuat apa-apa.
Karena hal tersebut hanya akan membuat kita menyerah, dan bukan berserah kepada Tuhan.
Kita di satu sisi harus berserah pada Tuhan, namun di sisi lain selalu melakukan yang terbaik yang kita dapat lakukan.
Mungkin masalah saya tidak sebesar masalah mereka di luar sana.
Yang setiap harinya bekerja keras untuk bertahan hidup, yang terancam hidupnya atau yang melakukan pelayanan di tempat nan jauh di sana.
Namun satu hal yang selalu pasti akan terjadi.
Tuhan itu adil, dan Dia tidak akan memalingkan muka-Nya dari anak-anak yang memanggil-Nya.
Kita boleh saja khawatir, tetapi ingatlah hal tersebut tidak akan membukakan jalan bagi masalah kita.
SEEK HIM and ASK for His help!!
Godspeed

Ayat Validasi:
Lukas 12: 22-34
[ Read More ]

Sekai Wo Kaeritai

Author: Aloisius Kevin


‘Sekai wo kaeritai…’
(I want to change the world)

Apakah kata-kata tersebut terdengar familiar di telinga Anda?
Saya sebagai remaja yang suka menonton anime, terutama  anime dengan genre tokusatsu, sudah sangat sering mendengar kata-kata semacam itu.
Sekedar informasi, kata-kata tersebut muncul hampir di setiap seri anime yang saya tonton.

Apa itu anime? Apa itu tokusatsu?
Anime adalah film kartun animasi buatan Jepang.
Sementara tokusatsu adalah film yang disertai dengan efek-efek khusus, misalnya saja ledakan, sinar laser,dll

Di Indonesia sendiri, film tokusatsu dari Jepang sudah banyak beredar.
Masih bingung seperti apa film tokusatsu?
Jika dulu Anda pernah menonton film ‘Satria Baja Hitam’, itu adalah salah satu contoh dari film tokusatsu.
Begitu juga dengan ultraman, kamen rider, power ranger, dan masih banyak film tokusatsu lainnya.
Bahkan karena dulu saya sangat suka dengan Satria Baja Hitam, saya sempat mempraktekan ‘tendangan maut’ di halaman sekolah.

Film-film tokusatsu biasanya memuat  cerita tentang seorang hero yang menyelamatkan dunia dari kehancuran.
Tokoh hero tersebut akan berhadapan dengan berbagai macam monster aneh, sampai pada episode terakhir di mana dia mengalahkan musuh besarnya.

Terdengar  sedikit naïf atau kekanak-kanakan memang.
Mungkin banyak yang berkata ,
‘Sok jagoan lah, sok keren lah, sok puitis lah, gak ada deh yang namany superhero jaman sekarang.’

Tapi di sisi lain, ada satu hal yang sangat saya sukai dari tokusatsu sampai sekarang.
Yaitu HOPE..

Sadar atau tidak, selama ini HOPE (Pengharapan) adalah makna dari sebagian besar film tokusatsu.
Film-film tokusatsu seperti kamen rider, power ranger, ultraman dan banyak film-film lainnya, ingin menyampaikan  bagaimana sebuah pengharapan dapat merubah banyak hal.
Mulai dari harapan untuk menyelamatkan orang lain, harapan untuk menjadi Hero, dan yang paling sering saya temui yaitu harapan untuk merubah dunia ini menjadi tempat yang lebih baik
Tentu saja hal tersebut tidak ‘segampang’ kelihatannya.
Dan yang lebih pasti lagi, yang namanya ‘pengharapan’ adalah sesuatu yang belum terjadi.
Jika hal tersebut sudah terjadi, itu namanya suatu kejadian dan bukan pengharapan.

Masalahnya pengharapan tersebut tidak bisa diwujudkan kalau kita hanya berharap terus.
Berpengharapan tentu saja boleh atau malah wajib, tapi di sisi lain kita juga harus berusaha untuk mewujudkannya.
Misalkan saja kalau kita mau makan ayam penyet.
Apakah kita akan memejamkan mata kita dan berkata ,
’soto ayam..soto ayam ..soto ayam’, sambil membayangkan makanan tersebut?
Kemudian tiba-tiba saja …
“Voilaaa….”
Soto ayam tersebut muncul di depan kita, lengkap dengan nasi dan sambal terasi????
Tentu saja tidak seperti itu bukan..
Lalu apa yang harus kita lakukan?
Yang pertama, kita harus berpengharapan pada Tuhan untuk memakan soto ayam tersebut.
Yang kedua, kita harus berusaha yang terbaik untuk mendapatkan soto ayam tersebut.
Jadi jika Anda tiba-tiba ingin makan soto ayam, berdoalah pada Tuhan dan ambil kunci motor Anda.
Pergilah ke restoran yang terkenal soto ayamnya, beli, kemudian makan deh..


Tidak ada yang sulit jika kita mau memulai langkah pertama, tapi kita seringkali takut akan apa yang ada di depan sana.
Kalau dalam kasus soto ayam, nanti saya takut kalau ayamnya habis lah, takut macet lah, dll
Dan setiap rasa takut atau keraguan kita, akan memudarkan semangat kita dalam meraih cita-cita.
Lalu apa yang harus saya lakukan agar saya tidak takut?
Gampang, mulailah dengan berharap pada Tuhan.

Paulus menyebutkan di roma 15:13,
Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuataan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah di dalam pengharapan.
Ayat tersebut ingin menyampaikan bahwa Tuhan adalah sumber dari segala pengharapan.
Jika Anda memiliki pengharapan yang kuat di dalam Tuhan, Anda akan mempunyai semangat yang kuat dalam mewujudkan cita-cita Anda.
Mulailah dengan meminta agar Tuhan menguatkan Anda di dalam setiap pengharapan yang Anda miliki.
Karena Dialah yang dapat memberikan kita kekuatan dalam mengejar cita-cita kita, agar nantinya kita tidak jatuh lemas di tengah jalan.

Nah, sekarang setelah kita tahu bagaimana cara untuk mewujudkan sebuah pengharapan, yang harus kita lakukan selanjutnya adalah merubah cara pandang kita.
Belajarlah untuk memulai langkah pertama.

Analoginya seperti ini, anggap saja kita adalah orang yang mempunyai cita-cita untuk merubah dunia menjadi tempat yang lebih baik.

Maka untuk merubah 1 dunia, kita terlebih dulu harus merubah 1 negara.
Agar 1 negara yang tadi kita ubah, bisa membawa pengaruh ke negara-negara lainnya.
Untuk merubah 1 negara, kita perlu merubah 1 pulau atau propinsi terlebih dahulu.
Untuk merubah 1 pulau atau propinsi, kita perlu merubah 1kota.
Untuk merubah 1 kota, kita perlu merubah 1 daerah.
Untuk merubah 1 daerah, kita perlu merubah 1 rumah
Untuk merubah 1 rumah, kita perlu merubah 1 keluarga.
Untuk merubah 1 keluarga, kita perlu merubah diri kita sendiri.
Untuk merubah diri kita sendiri, kita perlu merubah hati kita.

Jadi untuk merubah 1 dunia, dimulai dari merubah diri kita sendiri.
To do something big, you can start from something small

Contohnya, jika kita ingin kota kita menjadi lebih bersih, maka mulailah dengan tidak membuang sampah sembarangan.
Jika kita ingin lulus dengan nilai baik, maka mulailah dengan belajar  1 mata pelajaran.
Jika kita ingin tugas kita selesai, mulailah dengan 1 coretan pertama pada tugas Anda.
JIka kita ingin membeli sesuatu, mulailah dengan menabung
Jika kita ingin menjadi hamba Tuhan, mulailah dengan merubah diri kita sendiri agar siap dipakai Tuhan.

Jadi pada dasarnya sebuah pengharapan akan terwujud jika kita mau dan berusaha dalam mewujudkannya.
Tuhan lah yang akan menguatkan kita dalam mewujudkan hal tersebut, karena Dialah sumber pengharapan kita.
Dan untuk melakukan hal yang luar biasa, Anda dapat memulainya dengan melakukan hal yang sangat biasa, tapi luar biasa bermakna.


Ayat Validasi:
Roma 12:12
Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa.
[ Read More ]