Nama - Nama Tuhan

Author : Felicia Yosiana Gunawan

Tahukah Anda bahwa Allah kita adalah Tuhan yang paling kaya akan nama? Oh, ini keren! Dia punya banyak Nama! Ada sederet Nama yang menggambarkan Karakter dan Kekuasaan-Nya, dan semua ini dicatat Alkitab!
Sebelum kita masuk lebih jauh, mari kita lihat sebentar beberapa perbandingan Allah kita dengan ilah-ilah lain. Tidak seperti orang-orang pada masa dewa-dewi Yunani dan Norse yang menyembah berbagai jenis dewa, kita menyembah Satu Tuhan yang lebih luar biasa dari mereka semua. Lihatlah bagaimana para ‘dewa-dewi’ ini—dalam berbagai mitologi dan religi—membuat dunia dan menciptakan segala sesuatunya.Tertulis dalam berbagai sejarah, para dewa-dewa ini membuat dunia dan isinya dengan berbagai macam cara dan memiliki kisah hidup yang aneh-aneh.

Zeus, misalnya, yang merupakan dewa tertinggi dalam mitologi Yunani, adalah seorang dewa yang merebut kekuasaan ayahnya, Kronos dengan pemberontakan. Dan walau ia telah beristerikan Hera, ia masih naksir beberapa perempuan lainnya—di mana beberapa adalah manusia. Rendahan, kalau menurut saya. Selingkuh sama manusia, padahal mengklaim dirinya dewa...
Ada juga dewa Uranus, yang mendiskriminasikan anak-anaknya sendiri dan juga memberontak dari ayahnya. Dan berjejer lagi dewa-dewa lainnya yang menyimbolkan karakter berbeda dan hobi bunuh-bunuhan.

Di sinilah saya ketawa. Kenapa? Karena dari antara mereka, tidak ada yang sanggup menyimbolkan seluruh ciptaan—yang mereka klaim bikinan mereka sendiri. Ada yang menyimbolkan langit tapi selingkuh. Ada yang menyimbolkan kecantikan tapi hobi cemburu. Ada juga yang membawa nama cinta tapi bodoh. Waduh... Tidak ada yang perfek sepertinya.

Tapi jangan khawatir! Karena Satu Tuhan kita itu menyimbolkan semuanya—kecuali dosa, tentunya. Ia adalah Kesempurnaan yang luar biasa! Lihat kembali buku-buku dongeng soal dewa-dewi itu dan bandingkan... Mereka membuat dunia dan isinya dengan cara yang ribet-ribet sekali. Tapi YAHWEH, Allah kita, hanya berfirman dan jadilah semuanya! Bahkan tidak pakai error kayak beberapa cerita ngaco para dewa-dewi ini! Ia berfirman, segala-galanya jadi. Ia adalah Allah yang membuat langit dan bumi sekaligus, Allah yang membentuk manusia dan menghembuskan nafas kehidupan.
Lihat lebih dalam lagi! Ia juga adalah Tuhan yang sangat rendah hati! Mana ada dewa yang bisa diketemui sembarangan orang? Tapi lihat apa kata-Nya dalam Amsal? Ia mengundang semua orang, baik yang muda atau tua, berpengetahuan atau tidak, untuk masuk ke Pelataran-Nya! Dan Ia juga satu-satunya Tuhan yang mau turun menjadi manusia dan mati demi menebus dosa-dosa umat-Nya. Dewa-dewi lain kerjaannya ngapain? Malah selingkuh-selingkuhan dan saling perang... Ampun, deh...


Nah, perbandingannya cukup dulu. Kalau dilanjutkan, pasti tidak akan selesai nanti tulisan ini. Jadi, sudahkah Anda melihat—walau terbatas—besarnya Allah yang kita sembah? Satu Nama tidak akan pernah cukup untuk menggambarkan Tuhan kita!
Kita mengenal nama Jehovah Jireh, yang berarti Allah yang Menyediakan. Ini adalah nama pemberian dari Abraham saat Ia menyediakan seekor anak domba menggantikan Ishak setah Abraham lolos ujian ketaatan. Ada juga nama Jehovah Rapha, yang berarti Allah adalah Panji-panjiku. Dan, yah... Sederet lagi Nama-Nama-Nya yang akan saya cantumkan di bawah nanti. Tapi mari kita lompat ke pertanyaan yang paling esensial: Untuk apa kita mengenal Nama-Nama Tuhan kita?
Jawbannya simpel, untuk berperang melawan Iblis dan dunia ini.

Bagaimana bisa?

“Mudah saja penjelasannya,” kata Tuhan Yesus saat saya sedang memikirkan hal ini. Saat itu saya baru diberikan pe er oleh-Nya, yang berupa penghayatan Nama-Nama Allah dan latihan menggunakannya.

“Bagaimana, Tuhan?”

“Begini. Nama itu sama saja seperti pedang, nak.”

Hikmat segera memproses saya.

“Pedang,” lanjut-Nya, “adalah alat berperang semata yang paling baik dalam pertempuran langsung. Sebagus dan setajam apapun pedangnya, kalau yang memakainya adalah seorang petani tidak terlatih yang bahkan tidak mengerti cara menghunus pedang, ia akan sia-sia. Tingkat bahayanya minim sekali di hadapan lawan, Iblis. Tapi coba kita lihat, bagaimana jika yang memegang pedang tajam itu adalah seorang ahli pedang atau murid jago pedang ternama. Pasti tingkat bahayanya naik berkali-kali lipat, bukan?”

“Apalagi kalau si ahli pedang memiliki berbagai jenis pedang dan tahu kegunaannya serta dapat memakai semua itu dengan baik!” seru saya semangat.

Tuhan mengangguk. “Benar! Lihatlah, bukankah pedang sendiri memiliki berbagai jenis dan kegunaan? Pedang jenis apa yang akan engkau gunakan saat melawan musuh yang bergerak cepat dan lincah?”

“Hmm... Saya akan memilih pedang yang ringan dan tidak terlalu panjang. Supaya saya dapat menyamai kecepatan lawan, bahkan menang atasnya.”

“Tapi apakah pedang pilihanmu itu efektif untuk bertarung dengan musuh yang berbaju zirah berat dan bertubuh besar?”

Otak game saya langsung jalan. “Tentu enggak. Kalau lawannya seperti itu, mungkin saya akan memilih pedang yang lebih lebar dan berat untuk menghujam pertahanannya. Atau bahkan pedang panjang yang tajam untuk masuk ke sela-sela baju zirahnya.”

“Tepat. Itulah dia, Nama-Nama yang Berkuasa! Kenali tipe-tipe lawan dan senjata yang akan kau butuhkan dengan arahan Roh Kudus. Perdalam artinya, cari Hikmat di dalam setiap Nama. Itu adalah suatu keuntungan besar dibanding harus memakai satu tipe senjata sepanjang pertempuran.”

—Bersambung... :p
[ Read More ]

Mimpi - Peperangan Rohani Anak-anak Allah

Author : Benedictus Harvian          

Ingatan pertama saya akan mimpi yang cukup panjang ini adalah latar sebuah mobil yang sedang melaju kencang. Rupanya seperti mobil sedan, kalau tidak salah. Saya—berada dalam tubuh roh anak umur 11 tahun—sedang duduk di kursi belakang, bercengkerama ria dengan companions saya di mobil itu yang duduk di samping kiri-kanan saya. Ada pengemudi dan seorang lagi di kursi depan.
Keadaan ini berlangung sekian menit hingga saya menyadari ada yang aneh. Lama kelamaan, wajah orang tersebut berubah menjadi menyeramkan... Suara tertawanya jadi sangat spooky. Dan, oh, senyuman ramah yang saya lihat sebelumnya menjadi seringai ala psikopat! Aura ketidaknyamanan berganti dengan aura ketakutan. Kekeh-kekeh histeris mereka makin membuat saya ngeri..

Sampai akhirnya, keberanian menggantikan ketakutan yang memuncak tersebut. Entah dari mana, saya mengeluarkan sebilah pedang. Ayunan cepat tangan kanan saya menghasilkan tusukan mantap ke arah perut. Sebelum sempat melihat reaksi sang korban, dengan beberapa tusukan dan sabetan kilat saya menyerang orang-orang sisanya. Terlalu sadis dan horor kah saya? Sebelum berkonklusi, silakan nantikan bagian interpretasi mimpi ini di bawah, ya...
Rupanya mereka belum sepenuhnya terimobilisasi. Mereka mulai mengamuk dan meraung!! Saya memutuskan bahwa tidak ada jalan kecuali keluar dari tempat tersebut. Membuat irisan berbentuk persegi di atap mobil, saya loncat keluar. Saya menjejak atap mobil dengan panik. Ternyata saya sedang berada di jalan tol yang super padat dengan mobil-mobil yang melaju kencang. Dengan motif mencari tempat aman, saya meloncat ke atap mobil di belakang saya—berlawanan arus dengan melajunya mobil. (roh saya atletis juga, sepertinya... :P)

Saya frantic tingkat tinggi. Benar-benar panik! Yang saya lakukan hanya terus melompat dan melompat dari satu mobil ke mobil lain sambil berseru-seru memanggil Tuhan. Setelah beberapa saat, saya melihat figur Tuhan Yesus yang tinggi dengan jubah putih-Nya yang biasa. Ia tepat di sebelah saya. Namun saya hanya bisa merasa santai selama sepersekian detik sampai saya sadar kalau ternyata ‘Tuhan Yesus’ ini bukan yang asli! Saya merasakan aura tidak enak yang beda banget sama damai sejahtera-Nya Tuhan yang biasa kalau saya berada di hadirat-Nya.

“Dalam Nama Yesus, aku ikat, patahkan  dan hancurkan segala kuasa jahat yang mencoba menyamar!”

Setelah hampir seperti refleks mulut saya melantunkan kata-kata itu, sosok tersebut mulai menunjukkan wujud aslinya. Penyamarannya yang serba putih mulai rontok digantikan dengan warna hitam legam yang sangat menyimbolkan ketiadaan kehidupan. Sayap hitam ala kelelawar yang mulai terentang dan wajahnya yang seperti tengkorak mengingatkan saya akan makhluk mitos Eropa bernama gargoyle. Seram? Jangan kuatir, Saudara. Allah kita jauh lebih perkasa!
Spontan, saya langsung cabut dari posisi dan meneruskan adegan ala film action tadi. Setelah mobil kesekian yang saya lompati, saya tiba di atas sebuah kendaraan yang juga sedang melaju dengan sangat kencang. Kabel listrik yang terbentang di atas, gerbong-gerbong yang dikaitkan, beserta suaranya yang khas ketika dijalankan meyakinkan saya bahwa itu sebuah kereta.

Ah, kali ini, saya kembali melihat sosok Tuhan Yesus sedang berdiri di samping kanan saya! Tapi... Tunggu dulu! Saya tidak mau terkecoh lagi! Dalam hitungan sepersekian detik, saya mengacungkan tangan kanan dalam tindakan protektif. Sama dengan di atas, saya pun menguji kalau-kalau itu merupakan samaran dari si jahat. Yap, tentu saja dengan otoritas Nama-Nya yang kudus!
Syukurlah, sosok-Nya tetap sama kali ini. Tangan kanan saya yang masih teracung dipegang-Nya dan Ia menggelengkan kepala seakan mengatakan ‘Tenanglah, Aku Allahmu.’ Rasa hangat yang spesial merambati tangan saya yang berada dalam genggaman-Nya. Perasaan nostalgik dan damai ini—Ialah Tuhan Allah Penebusku!

Kemudian, Tuhan menunjuk ke langit. Kepala saya menoleh sesuai arah yang Ia tunjukkan—dan saya melihat seekor gagak yang ukurannya ratusan kali lebih besar dari gagak normal, sedang terbang menukik ke arah kami! Sebelum saya sempat kuatir apa ia akan menerpa kereta yang kami naiki, ia terhalang oleh sebuah pelindung tembus pandang berbentuk setengah lingkaran. Seakan tak terpengaruh akan hantaman kerasnya pada pelindung itu, ia kembali menerjang dan menerjang dengan ganas di sisi yang berbeda-beda. Adapun, pelindung tersebut tetap kokoh.
Kemudian, tempat saya dan Tuhan Yesus berdiri tertutup bayangan hitam yang sangat besar. Mendongak untuk mencari sumber bayangan itu, saya mendapati seekor kelelawar yang berukuran beberapa kali lipat gagak raksasa itu. Sama seperti yang dilakukan si gagak, ia menerjang ke bawah dengan garang. Untungnya, pelindung tersebut masih bekerja dengan baik.

“Kamu tahu apa yang Kumaksud,” Tuhan berbicara sambil menoleh, memecah konsentrasi saya yang sedang menyaksikan atraksi udara yang tidak biasa tersebut.

Saya mengangguk. Saya tahu Ia mengacu pada keseluruhan kejadian yang telah saya saksikan.

“Tuliskanlah.”

Dan saya pun terbangun pada kata itu.


Jadi, izinkan saya membagikan apa yang sudah Hikmat interpretasikan mengenai mimpi ini :

·         Saya berada di mobil melambangkan kehidupan lama saya sebelum lahir baru dalam Tuhan.

·         Companions di mobil adalah Iblis dan antek-anteknya. Sebelum mengenal Kristus secara penuh dan benar-benar berjalan di jalan-Nya,sadar tidak sadar Anda sedang menjadi ‘kawan’-nya mereka. Setelah mendapat penerangan dari Tuhan dan hamba-hamba-Nya, proses yang saya jalani waktu itu, saya baru menyadari bahwa kehidupan lama saya sungguh tidak berkenan pada Tuhan.

·         Titik balik ketika saya mengambil pedang dan menghunus ‘orang-orang’ tersebut adalah benar-benar titik balik ketika saya mengambil komitmen untuk berjalan dalam ketaatan penuh pada Tuhan dan mencari-Nya dengan sungguh-sungguh.

·         Gebrakan yang sesungguhnya dimulai dengan kaburnya saya dari tempat dan melawan arus jalan tol. Jalan tol yang sangat ramai melambangkan dunia. Keberanian untuk melawan arus dunia adalah titik balik seseorang untuk hidup bagi Kristus. Fakta di mimpi tersebut bahwa saya harus melompat mobil ke mobil yang berjalan kencang untuk melawan arah alih-alih hanya berjalan santai menggambarkan yang kita, anak-anak Allah harus hadapi. Serawan dan serentan itulah jalan Allah! Sedikit tergelincir dan sedikit keraguan untuk melompat sudah akan mengakibatkan Anda jatuh dan terlindas mobil-mobil lain di belakang! Stagnansi juga disinggung di sini. Kalau kita tidak terus maju dengan mantap, kita akan segera tertinggal dan terbawa kembali oleh arus dunia. Yah, tidak mengherankan. Alkitab sudah menulis semuanya.

·         Yesus palsu adalah gambaran betapa si jahat menginginkan anak-anak Allah untuk jatuh ke perangkapnya. Ketidakwaspadaan akan dibayar mahal! Firman ‘ujilah semua roh’ kembali teraplikasikan di sini. Tanpa bimbingan Roh Kudus dan pengetahuan Firman yang baik, mudah sekali orang terjatuh dalam berbagai tipuan Iblis!

·         Kereta yang melaju di sini, melambangkan persekutuan orang percaya (gereja, persekutuan doa, dll). Di sana saya menemukan keamanan dan Tuhan sendiri.

·         Gagak besar itu adalah si jahat yang terus menyerang persekutuan-persekutuan dengan ganas. Entah ia roh pemecah, roh keraguan, roh pemadam api Roh Kudus, atau apapun. Ia tidak suka bila kita mengangkat Nama Kristus, tentu! Berkali-kali dengan tidak putus asa, ia mencari tiap sisi di mana pelindung kita bocor! Pelindung tersebut merupakan perlindungan dari Tuhan, yang adalah Perisai kita. Teruslah tilik, Saudara, apakah persekutuan Anda tanpa celah di mata-Nya! Karena celah sesedikit apapun dapat berakibat fatal—percayalah, Anda tidak akan mau merasakannya.

·         Kelelawar. Lucunya, saya baru membaca tentang ini di buku karangan Ev. Iin Tjipto berjudul ‘Indonesia di TanganMu’. Beliau mengatakan bahwa ada roh dengan wujud kelelawar yang sangat besar yang bercokol di Indonesia. Seperti kelelawar normal, ia memakan buah yang hampir matang. Tapi bedanya, makanan yang satu ini secara roh. Ya, ia secara khusus ‘memangsa’ persekutuan-persekutuan atau gereja-gereja yang hampir berbuah sehingga mereka tidak dapat berbuah bagi Kristus. Miris, ya? Tapi memang itu yang akan terjadi bila kita tidak siap menghadapi serangannya..


Bersiagalah, prajurit Kristus! Waktunya menutup. Tuaian banyak namun pekerja sedikit—mari kita sama-sama mengusahakan kebun kita supaya berbuah bagi Kristus!
[ Read More ]

The Great War - The Beginning

Blog Editor's Note : Kesaksian Saudari Gitta Diana, salah seorang prajurit Allah di Jogja, ini adalah sambungan dari An Introduction : Gitta Diana's Testimony. Kesaksian ini juga adalah basis dari kesaksian Tim Doa di Adoniyah ini mengenai Peperangan 31 Desember (Another War Series), yang diawali dengan Another War - Horses.

Author : Gitta Diana
Hari itu Jumat 9 Desember 2011.
Ketika saya berdoa, Tuhan berbicara pada saya bahwa komsel kami akan diberi Big Project oleh Tuhan di bulan terakhir di tahun 2011 itu. Dan mengejutkannya lagi, Tuhan menyodorkan ‘surat kontrak’ selama sebulan untuk ‘saya tandatangani’ sebagai tanda bahwa kami sanggup menjalankannya... (Lagian, siapa juga yah, yang berani nolak ‘surat perintah’ dari Raja?).  Anda ingin tahu kira-kira Big Project apa yang Dia berikan kepada kami dan seserius apa itu sehingga saya diminta oleh-Nya untuk ‘ditandatangani’?
Jadi Dia memberikan kami project untuk doa peperangan besar-besaran di akhir tahun 2011. Kami ‘dikontrak’ selama sebulan untuk setiap hari Sabtu (baca: hari kami biasa berkumpul untuk berdoa bersama) di bulan Desember 2011. Secara spesifik, proyek ini mengkhususkan diri kami untuk berdoa menyongsong kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali dan berdoa peperangan yang tidak biasa. Spesifiknya, Tuhan ‘mengontrak’ kami tanggal 10, 17, 24, dan 31 Desember 2011.
Jumat itu saya masih bertanya-tanya pada Tuhan, apa yang Ia maksud sebagai doa peperangan yang tidak biasa. Dalam komsel kami yang biasanya, padahal kami juga pasti berdoa peperangan. Tapi apa yang kali ini Ia rancangkan?

Saya terus berkali-kali ‘menoleh’ pada Tuhan, tetapi Ia masih seperti hanya ‘mengedipkan mata-Nya’ kepada saya. Dan bahkan sampai hari Sabtu 10 Desember 2011, hari pertama dimana kami akan menjalankan project itu, Dia juga masih merahasiakan jawaban dan senyum-senyum melihat banyak tanda tanya kecil besar di atas kepala saya. Sebelum doa dimulai, saya sampaikan briefing lengkap ke teman-teman saya tentang project itu. Di tengah-tengah briefing, tiba-tiba Tuhan bicara pada saya, ”Aku akan memberi kalian sebuah taktik dan strategi perang yang baru.”

Saya diam sejenak sementara teman-teman saya masih pada sharing, saya bertanya pada Tuhan, ”Taktiknya bagaimana, Lord?”

Dan Dia hanya kembali tersenyum lagi, tetapi dari senyuman-Nya itu saya menangkap seolah-olah Dia mengatakan.”Kita lihat saja nanti...”

Setelah briefing cukup, jujur sebenarnya saya juga sedikit ‘nervous’ (padahal sebelumnya juga uda biasa mimpin doa, tetapi yang ini lain), yang pertama karena Tuhan mengatakan bahwa ini akan jadi babak peperangan yang lain dengan taktik yang lain pula. Kedua, saya juga sudah terlanjur mengatakan  kepada teman-teman saya bahwa kami akan diberi taktik peperangan, tetapi saya sendiri saja benar-benar masih blank dengan yang Tuhan maksud. Di tengah ketidaktahuan saya itu, saya tergerak untuk meminta Gabhy untuk menyetel beberapa lagu praise (One Way Jesus, Zaman Elia, Betapa Hebat, Serukan Nama-Nya Hanya di dalam Nama-Nya).
Roh Kudus lalu mengomandokan saya untuk meminta semua dari kami untuk menutup mata, mendengarkan lagu itu, dan menikmati ‘semangat yang lain’. Ini kami sebut juga sebagai kobaran api Roh Kudus, yang ditimbulkan ketika kami ikut menyanyikan lagu-lagu tersebut seraya bertepuk dan menggerak-gerakkan tangan juga badan (meskipun kami saat itu tetap dikehendaki dalam posisi duduk karena rumah Gabhy yang kami tempati untuk berdoa sedikit limited space kalau dipakai untuk jingkrak-jingkrak).
 Entah mengapa, setelah selesai kami menyanyikan lagu ‘Hanya di dalam Nama-Nya’,   saat kami bertepuk riuh, kami sama-sama merasa seperti diguyur dengan air di bagian dada kami sebelah dalam dan di seluruh tubuh. Ini bahkan dirasakan oleh beberapa teman saya yang belum begitu peka terhadap Roh Kudus, dan ini terasa sangat merata.

Saat itu saya diberi vision oleh Tuhan bahwa itu adalah awal yang sangat baik karena bejana setiap kami sudah terbuka lebar-lebar dan sudah terisi urapan sangat penuh. Setelah selesai diberi vision tentang bejana tersebut, scene vision saya berubah.
Saya melihat beberapa jenis roh-roh jahat yang sudah tidak tahan untuk menyerang karena mereka tidak biasa dilecehkan dan dihina dengan kami menyanyikan puji-pujian dimana inti dari lirik beberapa lagu yang kami nyanyikan adalah segala kuasa harus tunduk dalam nama Yesus. Tuhan memberikan pengertian ke saya, bahwa roh-roh tersebut adalah jenis roh-roh jahat di Laut Pantai Selatan. Mereka adalah jenis roh-roh jahat yang tidak tahan dihina dan dilecehkan karena mereka terbiasa dipuja-puja dan dijadikan sesembahan secara langsung dan berlebihan.

Praise cukup, kami sujud, membuat tanda salib, dan masuk dalam doa. Setelah doa pembukaan dan pertobatan, kami mulai doa untuk Rapture. Ini dimulai dengan saya memimpin dengan sebuah lagu worship, lalu kami bersenandung dalam bahasa roh (berdoa dalam bahasa roh dengan dinyanyikan). Mulanya senandung beralun lembut, tapi entah mengapa lama-kelamaan senandung kami berubah menjadi doa dalam bahasa roh (jadi tidak dalam bentuk nyanyian lagi), lalu saya juga sempat heran karena doa dalam bahasa roh kami lama-kelamaan menjadi semakin cepat dan tajam. Waduh, saya sedikit agak bingung juga karena saya sendiri juga mengalami begitu.
Saya kemudian bertanya sama Tuhan, ”Loh, Lord, kok senandung untuk menyambut Engkau datang bisa jadi doa roh cepet banget gini?”

Setelah Tuhan memberitahu saya sesuatu, barulah saya tahu... Ternyata itu disebabkan oleh roh kami yang sudah sadar bahwa ‘pihak seberang’ sudah akan memulai perlawanan sehingga roh kami yang tadi awalnya sudah dibakar kuat dengan api Roh Kudus, membuat kami jadi tidak bisa menahan passion untuk segera maju dari garis batas.
Keadaan ini masih ditambah dengan adanya Yuni, salah seorang member, yang ‘mengibar-ngibarkan bendera perang’ sebelum waktunya yang menyebabkan beberapa teman-teman saya yang lain juga ikut ‘mengibarkan’ bendera mereka. Dan alhasil, roh-roh jahat yang tadinya sudah geram abis, sekarang benar-benar merasa sudah ditantangi untuk perang. Duuhh jaann.,, memang Co-Commander kami satu-satunya ini paling heboh kalau dalam hal pembantaian…
(Sekedar info, jadi di doa peperangan dalam komsel kami, saya ditunjuk oleh Tuhan sebagai Commander dan teman saya Yuni sebagai Co-Commander).

Tuhan Yesus bersama dengan malaikat Mikael saat itu sama sekali tidak menegur kami, tetapi malahan langsung mengomandokan kepada saya, ”Ganti sesi. Sekarang.”

Saya langsung menyerukan kata “Haleluya” sebagai tanda pemberhentian sejenak doa roh kami. Dengan cepat dan lantang saya doa meminta perlengkapan senjata Allah sambil membaca Efesus 6; meminta perlindungan darah Yesus bagi setiap kami, ruangan yang kami tempati, setiap anggota keluarga kami dimanapun mereka sedang berada, dan untuk rumah kami masing-masing. Naaahh, baru di sinilah Tuhan menjelaskan taktik yang harus kami pakai hari itu (Baruu deeh, ‘nervous’ saya ilang...).

Tuhan mengatakan bahwa sebagian dari kami akan menjadi pembawa pujian (ini dirujukkan oleh Tuhan tentang rubuhnya Tembok Yerikho), dan sebagian dari kami menjadi penyerang.
Para pembawa pujian bertugas meruntuhkan benteng dan kubu yang dibangun oleh roh-roh jahat, melemahkan kekuatan dan kuasa roh-roh jahat, menjaga ‘mood’ penyerang dalam menghajar, dan ‘menstabilkan’ atmosfer perang supaya tidak turun (yang dapat menyebabkan semua dari kami merasa lelah, lemas dan mengantuk) juga supaya atmosfer tidak terlalu naik (yang menyebabkan histerikal, ketidakteraturan, ketidaktertiban dalam berdoa). Sedangkan penyerang bertugas untuk membantai roh-roh jahat, mematahkan kuasa-kuasa dan kutuk, membumihanguskan territorial-teritorial yang roh-roh jahat sudah coba duduki, menancapkan bendera perebutan territorial—merebut teritorial-teritorial untuk dijadikan sebagai territorial Tuhan.

Waktu itu kami bersebelas orang. Jadi Gabhy, mbak Arum, Priska, Anika, dan mas Zendy ditunjuk oleh Tuhan sebagai pembawa pujian. Sedangkan mbak Nomie, mbak Rista, mbak Ika, mbak Nining, Yuni, dan saya ditunjuk sebagai penyerang. Pembawa pujian akan berdoa dengan bersenandung dalam bahasa roh. Sedangkan penyerang akan berdoa dalam bahasa roh peperangan (bahasa roh versi cepat dan tajam). Gabhy dikehendaki untuk memimpin worship untuk menghantarkan para pembawa pujian untuk bersenandung.

Setelah worship song selesai dinyanyikan, saya melihat malaikat Mikael seperti memberikan aba-aba, lalu saya melihat banyak sekali malaikat perang maju mendahului kami disusul dengan majunya para penyerang. Yang terjadi seharusnya pada kami adalah para penyerang memberikan kesempatan kepada para pembawa pujian bersenandung dahulu lalu baru bergerak maju menyerbu. Tetapi ini yang terjadi karena kobaran api sudah terlanjur meluap pada para penyerang, teman-teman saya yang penyerang ini malah langsung lari menggeruduk melewati tanda batas dan mendahului para pembawa pujian. Waktu itu telinga rohani dan jasmani kami benar-benar seperti mendengar bunyi guntur.
Keadaan ini lagi-lagi dipicu oleh Yuni yang setelan rohnya dalam peperangan seperti dinamit. Yang membuat saya sedikit agak kalang kabut karena majunya Yuni ini, ia langsung ke tengah-tengah medan perang diikuti oleh mbak Nomie dan mbak Rista, padahal mereka adalah orang-orang baru dalam komsel kami yang belum pernah perang brutal seperti yang biasa kami lakukan!

Saya, yang dipasrahi Tuhan untuk menjadi Commander, tentu saja merasa bertanggungjawab atas hal tersebut karena doa peperangan rohani bukan sesuatu yang main-main. Ini bisa berdampak hebat dalam kehidupan keseharian orang. Bila seseorang tidak sanggup menghadapi hal-hal aneh yang terjadi dalam hidupnya pasca doa perang, ini bisa membuat orang tersebut malah down. Ketika saya berseru “Haleluya” dalam maksud untuk meredakan peperangan sebentar, suara saya tertelan oleh riuhnya suara teman-teman dan peperangan tetap berlanjut.
Saya menjadi semakin ‘celingak-celinguk’ ke arah Tuhan Yesus dan Mikael, yang anehnya tetap bersikap cool. Saya mendapati Yuni bersama mbak Rista sedang ‘main keroyokan’ dan menyerang membabibuta terhadap suatu jenis roh tertentu. Saya nggak habis pikir, ngapain mereka kroyokan sampai begitu sama jenis roh itu, padahal jenis roh yang dihadapi lainnya masih banyak...
Yah, ternyata karena memang dari awal baik Yuni maupun mbak Rista berketetapan dalam hati ingin memerangi secara khusus jenis roh tersebut.


Ketika saya mencoba kedua kalinya untuk meredakan peperangan dengan gerakan bertepuk lambat namun keras, eh malah disinyalir berbeda oleh teman-teman saya...! Mereka menginterpretasi dikira saya memberi aba-aba untuk maju perang lebih intens lagi. Hadeehh...
Tapi setelah saya berseru memberi aba-aba untuk kembali ke garis batas, dengan agak sulit akhirnya mereka menuruti juga. Saat waktu jeda, saya menjelaskan kepada kepada para penyerang untuk lebih teratur dan waspada. Juga kepada para pembawa pujian agar suaranya tidak tertelan oleh penyerang dan jenis senandung yang digunakan adalah senandung peperangan. Lalu kami melanjutkan perang kami lagi. Dengan keganasan yang sama. Dengan kobaran yang semakin membara!
Oops... Ternyata Tuhan sediakan sesuatu yang “Wow” di peperangan kami selanjutnya. Kami segera meluncur ke 17 Desember…

—Bersambung
[ Read More ]

An Introduction - Gitta Diana's Testimony

Blog Editor's Note : Sister Gitta Diana, yang berdomisili di Jogja, Indonesia, adalah seorang rekan dalam Kristus yang kami 'temui' secara 'tidak sengaja' di dunia digital. Ditilik ulang, kami pertama kali mengenal namanya dari End Times Prophecy. Bermula dai kontak-kontak kecil itu, kami sekarang banyak saling bertukar info mengenai pergerakan komsel dan tim masing-masing dan join forces di Alam Roh, khususnya untuk penggempuran skala besar. Karena pengalaman-pengalaman komselnya yang tidak kalah seru dan gokil dibanding pengalaman Tim Doa, kami akhirnya memutuskan untuk menawarkan Adoniyah sebagai tempat penampungan kesaksian mereka.
Tambahan : Kesaksian di End Times Prophecy dapat dilihat di End times Prophecy : Gitta Diana's Testimony

Author : Gitta Diana
Well...  Awalnya kami adalah sekumpulan anak muda yang sama-sama mengikuti Persekutuan Doa yang bernama Bukit Doa Yerusalem Baru. PD Yerusalem Baru ini ibadahnya diselenggarakan di daerah Bintaran di kota Jogja (kota tempat tempat kami tinggal). Dari PD inilah kami mengenal sungguh pribadi Tuhan Yesus, kami dibaptis dalam roh (mendapat karunia bahasa roh dan lain-lain), tahu bahwa kami harus jadi orang-orang yang radikal, militan, dan dahsyat karena kami menyadari bahwa Allah yang kami punya adalah Allah yang luar biasa dan dahsyat, maka kamipun anak-anak-Nya juga harus dahsyat dan ngimpact  buat orang lain! (Hehe. Kesetrum semangat versi alay abis ‘pollint in loph’ sama Prince Jesus. Harap maklum, yah...)
Kami tidak begitu ingat sejak kapan kami mulai digerakkan dalam komsel. Seingat kami, sekitar kurang lebih 3,5 tahun yang lalu. Awalnya kami cuma 3 orang, entah bagaimana sekarang Tuhan multiplikasikan menjadi 13-16 orang anggota tetap. Praise The Lord!
Dan dulu Tuhan menamakan komsel kami dengan nama ‘Revelation Fire’, dan benaaaaarrr… banyaaakk pewahyuan (nubuatan, mimpi, penglihatan, dan hal-hal menakjubkan lainnya) yang kami dapatkan dalam komsel kami dan sempat disharekan sampai di belahan dunia yang lain. Namun belakangan ini sejak Tuhan memberi kami sebuah project, Dia menjuluki kami sebagai ‘Holy Spirit Team’. Nah looh... Apalagi nih yang mau Dia lakuin di komsel kami? Hm... We’ll see. Kami mah sudah pasraaahh... haha.
Komsel kami biasa kumpul untuk berdoa tiap hari Sabtu siang. Kami dipilihkan hari itu karena sebagian besar anggota komsel kami kalau hari Sabtu banyak yang libur kuliah dan kerja, juga  ada yang bersekolah hanya setengah hari. Sekedar info, dulu pernah coba kami pindah ke hari lain, tapi ujung-ujungnya sama Tuhan dipingpongin lagi ke hari Sabtu. Daa~n dari situ kami yakin,  bahwa hari itu memang pilihan Tuhan sendiri. So, kami sendiri juga nggak bias ganggu gugat kecuali kalau Dia malah minta ekstra hari lain...
Dalam komsel, kami banyak doa di dalam roh untuk rapture, kebangunan rohani, dan doa peperangan.  Kegiatan lainnya adalah pembahasan firman, sharing, dan pelayanan ke luar (doa penyembuhan untuk orang sakit, dan exorcism).
Pertama kali saya (baca: Author) kenal dengan temen-temen Tim Doa, waktu itu brader Benedictus Harvian nge-add saya di facebook. Dia mengatakan bahwa dia penasaran setelah membaca postingan di blog End Times Propechy dimana di situ ada tercantum nama saya. Brader Harvi lalu iseng mencari di facebook dan ternyata nemuin nama saya .
(Sekedar info, padahal temen-temen saya yang saya kasih nama facebook saya aja nggak mesti bisa nemuin dan nge-add.. Kok orang yang sama sekali saya nggak kenal mala langsung nemuin...?)
Ketika saya meng-accept friend request dari brader Harvi saya kaget saat melihat wall-nya karena di situ ada beberapa tulisan tentang rapture dan notes Brader Harvi menunjukkan bahwa dia bukan orang Kristiani seperti kebanyakan. Saya sangat heran ‘n excited. Sampai setelah saya mengonfirm, dia mengirimkan ke wall saya pertanyaan apakah saya orang yang postingannya diterbitkan di End Times Propechy dan lalu saya mengiyakan.
Tidak lama setelah itu, saya di-add oleh sister Felicia Yosiana. Saya melihat wall-nya sister Feli ini juga nggak jauh beda dengan wall-nya brader Harvi. Intinya, mereka bukan bocah-bocah biasa kayak yang dunia punya, tapi kayak uda ada ‘sertifikat kepemilikan’nya bahwa mereka itu orang-orang kepunyaan Tuhan. Lalu seiring waktu berjalan, brader Harvi kadang menge-tag saya di note yang dia tulis atas perintah Tuhan. Dia pun menawarkan kepada saya untuk mengunjungi blog Adoniyah yang dia dan teman-teman Tim Doa kelola. Singkat cerita, saya sering berkontak dengan brader Harvi dan sis Feli dengan message fb dan sms. Dari situlah, saya mulai menangkap bahwa bukan suatu keisengan kalau Tuhan mengizinkan kami untuk berkenalan dan benar-benar menjadi saudara ‘sedarah’ dalam Kristus...
—Bersambung... :p
[ Read More ]