Showing posts with label spiritual warfare. Show all posts
Showing posts with label spiritual warfare. Show all posts

Prophecy : August 2016

Less than half of 2016 is left,

Less than.... what time is remaining in God's clock--until His second coming--is left.

We were always warned and warned again by how far the time is closing, and that we must truly pursue God's ways.
Somehow, the Lord urged me to write this down : you don't have to feel ashamed or unworthy if you need to be reminded over and over again.
Just simply come and abide His call whenever it may be.
Again, DO NOT feel unworthy and shun His Presence as a result. It in itself is the demons' trickery.
Who are we to judge our worthiness?
Our identity is based on His view towards us : which is clear, the loved ones.
Nobody is worthy from the start, nobody is holy enough to even hold simple conversation to Him, but we ARE MADE worthy. WE ARE MADE HOLY.

Herewith are list of what Sister Felicia got from the Lord at 31st July, 2016 :
  • August will be a month of war
  • A great turmoil will shake up the earth/natures
  • Pay attention to the world of politics : persecution will come to God's chosen people, but He will show His favor upon them and do miracles
  • Starting from August 16, He is moving/rending His angels to do the 'world wealth transfer', Prepare your cups and wineskins.
  • Healing upon families and bodies of Christ will come. He asks His children to pray earnestly and weep for this to happen! "Your tears will be the price. They will be the salve to anoint the eyes of unbelievers" (Revelation 3:18)
  • The Bull's market is going to come to an end
  • Children of God should temper their hoes, sickles, and tools and make them into swords, lances, and bows.
  • The enemy will send a flood of terror and troubles. Only those who hide under God's Presence will be able to endure and get into the next level.
  • Feet! Shoes of Peace and Readiness! It's time to upgrade them! (Ephesus 6:11)
Based on Israel calendar, this year is Ayin (eye) Zayin (hoes).
Year of many works to be done and wars to be fought.
Furthermore, our hoes--our talents, our gifts--are to be tempered to swords and warfare equipments. That can be achieved by using our expertises for the glory of God. Have we really surrendered our talents to the Lord? Pray to the Holy Spirit and He will direct you on creative ways to use tools for God's glory.

If the enemy can't tackle you down, they'll wear you out. Therefore, seek always refreshments from God.

Don't treat God's solution like our problem. Grunt not, do first and then your heart will follow.

Forerunner : you've been given sight so that you could run before others. For example just like Joseph and Daniel.

You can access these links below for more prophecies in line with the ones above.

to use talents God trust us with for His Glory :

great wealth transfer :

tears as cost of victory :
[ Read More ]

Mission Possible - Winged Mounts

Author : Felicia Yosiana Gunawan

Katak dan belalang berwarna hijau dan cokelat segera mendominasi pemandangan Alam Roh. Saya bergidik jijik dari atas kuda. Memang sih, mereka tidak nempel-nempel sama kami, tapi tetap saja saya agak bete. Maklum, saya punya fobia serangga yang lumayan parah. Bayangkan... Melihat kecoa ukuran mini dari jarak sepuluh meter saja saya bisa salto-salto sambil berteriak kalap. Syukur sejuta syukur roh saya tidak fobia serangga. Kan nggak lucu kalau saya yang tewas saat para belalang itu membanjir melewati barisan kami.
Dengungan lebah segera berkurang, dan kami mulai bisa bernafas lega. Tapi ‘pembersihan’ belum selesai, benteng kami masih disusupi para roh najis dalam bentuk-bentuk aneh. Tidak usahlah saya perjelas seperti apa, yang jelas cuma satu: mana bisa kami bertempur dengan efektif dengan benteng yang kebobol musuh?

“Doa pertahanan dan penyucian benteng!” teriak saya.

Harvi dan Aloi juga rupanya telah mendapat perintah sama dari Roh Kudus dan kami pun mulai bergerak. Pertama-tama kami meminta Roh Kudus untuk mengikat roh-roh pembobol yang sedang asyik berkeliaran di dalam benteng. Saat itu juga saya melihat rantai perak yang segera menjurus di dalam benteng, di setiap koridor dan pintu interior kastil pertahanan kami, dan membelenggu si jahat yang mulai berteriak-teriak. Dan saat kami mematahkan, menghancurkan dan membakar kuasa kegelapan mereka di dalam Nama Tuhan Yesus yang Agung, saya melihat rantai itu menyala dalam kobaran api seraya menjerat mereka sampai jadi debu. Saya tahu roh tidak bisa mati, tapi jangan tanya saya ke mana mereka dideportasi Roh Allah. Yang penting benteng bersih dulu.
Singkat kata, dalam waktu sekitar sepuluh menit benteng kami sudah mulai kembali higenis. Tentu saja, Darah Yesus lebih dari apa yang kami butuhkan untuk menyucikan benteng rohani tersebut dari dalam. Dan sebelum kami sempat tahu apa yang akan diisukan Roh Kudus, tiba-tiba hujan besa rmengguyur, seakan-akan itu adalah sinyal bahwa: “Bersorak-sorailah dan menggempur sekarang! Tetangga nggak bakal komplain!”

Tertawa puas, kami pun segera mengambil posisi untuk maju bertempur kembali. Agak sulit, mengingat status kami di Alam Roh itu masih dikepung dari segala penjuru. Pengelihatan-pengelihatan kami masih agak tumpang tindih, dan pujian penyembahan kami agak macet pada awal sesi penyerangan kedua ini. Tapi kemudian saya mendapatkan suatu pengelihatan yang membuat kami digampar untuk segera bangun: saya melihat Sis Gitta Diana—saudari dari Jogja di dalam Kristus—sedang menghalau bala bantuan musuh di garis belakang! Saya sempat melihat beliau bertarung dengan fierce dan gigih di tempat, menjaga agar tidak ada roh-roh jahat yang membobol garis pertahanan dan membacok di punggung kami.
“Kita nggak boleh sia-siakan usaha orang,” komentar roh saya datar, sengaja bermaksud untuk terdengar sarkastis. “Apa loe mau ‘dilindungi’ terus dan nggak bisa berkontribusi? Loe udah diutus perang, meeen... Cupu amat kalo loe setres sama kroco-kroco kecil ini? Bukannya ada JC yang super-gede itu dalam barisan loe?” Kira-kira perkataan seperti itulah yang ditodongkan roh saya kepada diri sendiri supaya terpompa untuk maju lebih gigih lagi.

“Oke,” sahut kesadaran pikiran saya dengan nada menantang. “Jadi sekarang Tuhan mau kami gimana? Kami harus gimana supaya bisa menerobos barisan hitam-hitam nan tebal ini?”

Jawabannya langsung tiba: dalam waktu kurang dari sedetik, pengelihatan mengenai sayap dikirimkan kepada saya. Oiya, yah... Kuda-kuda perang kami kan sudah diberikan sayap seminggu yang lalu sama Tuhan, kenapa nggak diklaim sekarang? Batin saya.

Sebelumnya, biar saya curcol sedikit soal sayap ini. Iyep, sayap. Kuda-kuda kami telah diperlengkapi Tuhan dengan sayap-sayap yang unik menurut ciri khas penunggangnya masing-masing. Waktu saya mendapatkan pengelihatan itu untuk yang pertama kali dan saya bertanya “buat apa?”, Tuhan hanya menjawab, “Peperangan bakal tambah intens. Kamu butuhkan ini.” Dan setelah saya coba konfirmasi ke Komsel Perangnya Sis Gitta Diana di Jogja, ia mengiyakan apa yang saya dapatkan; komselnya telah terlebih dahulu diberikan pengelihatan dan validasi soal pemberian sayap kuda itu beberapa hari sebelumnya. Well, Dia memang Allah yang sangat peduli dengan bukti dan pembenaran...

Saya segera memberitahukan hal ini kepada Aloi dan Harvi, yang segera mendapat lampu hijau dari Roh Kudus untuk menggunakan fasilitas baru ini. Saya sempat melihat dua sampai tiga kali kalau sayap kuda saya itu terbuat dari api. (Aneh-aneh deh sayap kuda-kuda kami... Bahkan ada yang sayapnya berupa gelombang listrik statis.)
“Kami klaim sayap-sayap yang telah diberikan Tuhan kepada kami!”

Dan, bum... Kami semua lepas landas dengan bombastis.

Sayang sejuta sayang, momen heroik ini harus dirusak fakta bahwa kami nggak biasa terbang. Jadi selain merasa agak jetlag di dunia nyata, terbang kami naik turun dengan canggung seperti capung yang sayapnya lepas satu. Rasanya kayak baru pertama kali disuruh mengemudikan pesawat terbang! Sangat konyol, kalau nggak mau dibilang memalukan. Tapi serius, ‘terbang’ itu menguras tenaga, iman dan energi roh. Berulang kami doa harus ‘diperbaiki’ karena terbang kami yang nggak stabil dan pengelihatan kami yang terlalu bikin mabok. Norak abis, deh pokoknya...! Benar-benar mikjizat kami tidak jatuh dari kuda atau justru nyangkut di benteng musuh.

Tapi seperti saat kami baru pertama kali mendapat kuda dan merasa canggung di atasnya, tidak dibutuhkan waktu lama untuk membiasakan diri. Memang sih, momen-momen terbang kami singkat sekali, cuma sekitar dua sampai tiga menit saja, tapi itu benar-benar membawa perubahan luar biasa! Rasanya menyerang dari atas itu jauh lebih gampang, dan menyenangkan sekali rasanya bisa terpisah dari tanah yang masih dipenuhi belalang dan katak...


Validasi : Mazmur 139:9, Yesaya 40:31, Yoel 2:1-11, Ibrani 13:21, 1 Korintus 15:44.


—Bersambung... lagi.
[ Read More ]

Mission Possible - Against the Odds

Author : Felicia Yosiana Gunawan

Setelah satu malaman saya berdoa meminta proteksi dan kekuatan secara bombastis, akhirnya saya menutupnya dengan mengatakan, “Maaf ya, Bapa, saya cerewet...”

Bapa tersenyum geli. Ada kehangatan yan gmenjalar dari senyuman-Nya. “Nggak apa, kok.”

Saya merasa agak kurang sopan telah membombandir Beliau dengan sederet ‘tuntutan’. Jadi, untuk menyeimbangkannya sedikit, saya bertanya, “Apa yang Anda inginkan untuk besok?”

Senyum Bapa tambah lebar dan antusias. “Proklamasikan kebesaran Nama-Ku! Majulah! Jangan khawatir dengan penyertaan-Ku!”

Sebelum saya sempat membalas, Tuhan Yesus muncul di samping saya. Ia SANGAT besar! Kira-kira... seratus juta kali saya. Ia sedang mengendarai kuda putih yang telah berbalutkan baju zirah. Dan Tuhan Yesus sendiri mengenakan baju zirah emas! Betapa luar biasanya Jehovah Tseaboth—Ia ikut maju bersama para prajurit-Nya!
Menangkap antusiasme saya, Tuhan Yesus tersenyum dan menoleh kepada saya seraya berderap pelan. “Daughter, daughter, are you ready?”

Saya pun hormat sambil nyengir, lalu undur diri dari Takhta Bapa. Memasuki 2 Febuari dengan sederetan kejadian aneh, api peperangan pun akhirnya disulut tinggi-tinggi di Alam Roh.


Pagi 2 Febuari pun datang. Saya bangun sekitar jam 10 A.M... Maklum ya, saya benar-benar harus istirahat panjang untuk mempertahankan stamina. Tuhan baik sekali memberikan saya istirahat sepanjang itu di hari-hari insomnia saya.
“Pagi, pagiiiii,” sapa saya setengah tidur setengah semangat pada seluruh isi rumah—para malaikat perang yang telah berjaga di dalam dan sekitar rumah saya dan tentu saja, Tuhan sendiri.

Mereka semua menoleh serempak dan tersenyum. “Siang,” koreksi mereka serempak.

Saya tertawa.

Setelah sarapan dan bersiap-siap untuk Saat Teduh dan briefing terakhir di hari itu dengan Tuhan secara personal, kembali sms dari Harvi masuk. “Doa, doa, doa!” isi pembuka smsnya. “Ada badai yang berusaha memadamkan api peperangan kita—gue dan Aloi udah kena. Ini gue bangun dengan badan kayak mau flu. Tapi entah kenapa, api loe tetap gede, big sis...”

Hmm... Apa saya nggak kepengaruh badai karena saking cueknya, ya? Atau malah terlalu udik dan kurang persiapan...? Ah, bodo amat lah. Yang penting, badai ini harus segera ditangani. Tapi bagaimana caranya, ya?

“Markus 4,” bisik Roh Kudus.

Saya menurut, dan segera membuka pasal yang Ia diktekan. Dan... Saya nyengir lebar saat menemukan judul perikop yang saya butuhkan: “Angin Ribut Diredakan”. Yeah! Tuhan kita memang keren! Dan tentu saja, saya pun langsung melakukan apa yang telah Ia contohkan: menghardik badai itu. Dan... pengelihatan memvalidasi bahwa badainya telah surut. Saya segera menyebar sms kepada Harvi dan Aloi untuk melakukan hal yang sama.
Akhirnya, jam yang ditunggu-tunggu datang. Kami bertiga berkumpul, dan entah kenapa, kami kalem sekali. Sis Gitta, yang akan menjaga barisan belakang kami sementara kami maju berperang, yang malah nervous. Ia memang tidak diperbolehkan maju berperang bersama kami oleh Tuhan, alasannya adalah ia harus hemat tenaga untuk perang hari Sabtu. Jadilah ia ditempatkan Tuhan di garis belakang untuk menghalau bala bantuan musuh. Kesaksiannya akan kami masukan setelah testimoni ini.


Setelah mengawali dengan puji-pujian dan doa proteksi dan pengaktivan sekat Roh Kudus, kami pun mulai menggempur secara intens. Harvi, seperti perannya, melesat kencang ke depan dan membuka barisan. Semua yang terjadi pada awal benar-benar sesuai dengan Yoel 2 yang baru diberikan Tuhan kemarin! Yah, sesuai sampai kira-kira di pertengahan.
Setelah sekitar sepuluh menit kami menggempur pertahanan terdepan mereka, pengelihatan kami mulai bekerja dan kami melihat berbagai hal yang menjijikan. Rupanya para letnan dan komandan barisan musuh sudah mulai mengamuk dan bersiap menerjang. Wah, kami harus gimana? Saya dengan jelas melihat Tauros, Anubis, dan sederet roh-roh pejuang tingkat wahid lainnya di hadapan kami, sedang berteriak-teriak menyusun barisan. (Info tambahan: roh-roh jahat memang bentuknya macam-macam. Jangan tanya saya kenapa, itu akan kami jabarkan sebisa kami nanti.)

“Tulah!” tiba-tiba kata itu menyeruak di benak saya. “Tulah, guys! Tulah! Kita bisa pakai Tulah untuk mengembalikan keadaan!” teriak saya di tengah-tengah.

Tentu saja, Tulah Allah! Senjata yang sangat mengerikan dan luar biasa ini kenapa tidak dipakai kalau surat pemakaiannya tertera di dalam surat prajurit kami? Roh Kudus segera memberikan approval dan kami mulai meminta arahan bagaimana cara menggunakan senjata keren ini. Dan Puji Tuhan, jawabannya mengalir melalui Hikmat dalam beberapa detik saja.
“Apa Tulah yang dapat mengacaukan dan melemahkan barisan musuh?” batin kami.

Dan jawabannya segera muncul: “Kegelapan!”

Segera saja kami bertiga mulai berdoa dan menyembah Tuhan, agar Ia mau menurunkan tabir kegelapan ke atas barisan musuh. Dan itu terjadi! Pengelihatan segera menghinggapi kami, memperlihatkan barisan musuh yang kacau balau karena mereka tidak dapat melihat. Memang musuh-musuh di barisan depan tidak terlalu terpengaruh dengan tulah itu—karena secara posisi mereka berhadapan langsung dengan kami, anak-anak Terang yang membawa Nama Tuhan.
Tapi rupanya mereka tidak mundur. Malah sebaliknya: serangan mereka tambah membabi buta. Bahkan lebih dari sekali para roh-roh penyelundup berupa imps dan shadows menyusupi benteng yang telah kami kunci. Dan itu benar-benar menambah kerjaan kami...! Kok bisa pada masuk, sih? Bukannya benteng kami sudah dikunci dan disekat oleh Nama Tuhan?

“Lebah,” kata roh saya dan mulut saya bersamaan. “Mereka menggunakan lebah untuk membuat celah kecil dan masuk melalui retakan-retakan mini...! Kita mesti gimana?”

Keadaan tambah memanas dan kami mulai agak panik. Efek benteng yang tersusupi sangat mengganggu: kami mulai merasa tidak nyaman, agak mual dan pusing, serta mengalami beberapa manifestasi roh jahat secara fisik di sekeliling kami. Saat itu roh dan jiwa saya bekerja sama berpikir keras, Tulah apa yang kira-kira dapat membasmi lebah-lebah menyebalkan ini?

Kali ini, rupanya Tuhan sendiri yang menjawab. “Katak dan Belalang! Panggil mereka di dalam Nama-Ku! Kalian punya otoritasnya!”


Validasi : Yohanes 12:36, Mazmur 35:6, Mazmur 91:11, Yakobus 1:18, Yeremia 23:12, Ulangan 20:4, Mazmur 144:1, Mikha 2:13, 2 Timotius 4:22.


—Bersambung... :p
[ Read More ]

Mission Possible - The Dream 2

Sesaat setelah aksi nekadnya, barulah ia sadar kalau persenjataannya benar-benar tidak cocok dengan musuh yang susah mati ini. Nggak tanggung-tanggung, saya melihatnya membuang machine gun-nya dan mulai maju dengan modal granat lempar! Saya sampai terkagum-kagum dari belakang... Padahal, granat miliknya itu tidak sehebat laser canon saya daya rusaknya, tapi ia tetap maju dengan berani—selalu sekitar tiga puluh meter di depan saya dan lari ke sana ke sini.
Dan dengan begitu, tentunya pekerjaan saya jadi lebih mudah. Kalau ditotal, jadi hanya butuh satu kali tembakan dan satu granat untuk setiap monster ukuran jumbo. Ini sangat menguntungkan senjata saya yang memiliki waktu agak lama untuk reload karena tingkat destruktifnya yang tinggi.

Adegan kembali berganti. Saya kembali sendirian di pulau industrial yang sunyi itu. Dan entah darimana, tiba-tiba Aloi dan Harvi datang dengan persenjataan yang sama seperti saya. Satu-satunya yang berbeda dari kami hanyalah warna baju dan model perlengkapan perang kami. Tapi kurang lebih, senjata kami tingkat keganasannya sama.
Maju dengan hati-hati, kami pun membentuk formasi 2 – 1. Kalau Aloi dan Harvi sedang berjalan di depan, saya yang jaga belakang. Dan begitu juga saat kami berputar mengubah posisi dalam formasi. Dua orang di depan, satu orang di belakang untuk mengawasi. Pokoknya benar-benar maju dengan back-to-back sekali, deh!
Di saat itulah saya bangun.
Siapa sangka, mimpi aneh itu benar-benar analogis dengan apa yang akan terjadi pada perang besar 2 Febuari.



Inilah arti mimpi menurut Hikmat:

·         Kapal Perang merupakan zona pribadi peperangan kali ini—yang memang dirahasiakan Tuhan. Ini juga lumayan nyata dari buritan kapal yang kosong melompong, karena notabene, hanya tiga orang anak Tim Doa yang disuruh maju.

·         Pulau Industrial melambangkan teritori Allah yang sudah dipenuhi pabrik-pabrik musuh. Singkat kata, sudah dijajah Iblis. Benteng-benteng mereka berdiri teguh karena anak-anak Allah memberikan mereka surat pembangunan yang sah—seperti malas berdoa atau keterikatan pada suatu dosa, misalnya.

·         Musuh ukuran besar melambangkan bahwa perang kali ini sudah tidak main-main. Ini juga melambangkan betapa intensnya peperangan rohani setiap prajurit Tuhan di masa-masa akhir zaman ini.

·         Perlengkapan saya yang hi-tech menunjukan bahwa setiap prajurit Tuhan harus senantiasa meminta pembaharuan budi dan rohnya dan harus terus berlatih di dalam bimbingan Roh Kudus. Peperangan ini tidak main-main, dan saya tidak bisa membayangkan andaikata saat itu saya harus maju hanya dengan sebuah belati. Persiapan yang memadai sangat dibutuhkan dalam menjalankan komando Sang Raja.

·         Senjata yang diganti menunjukan dua hal: yang pertama adalah kearifan Tuhan terhadap mereka yang mau maju bagi nama-Nya, yang kedua adalah perlengkapan ekstra yang disediakan-Nya pada saat-saat genting. Tuhan kita bukan Allah yang cuek dan mengirim prajurit siap mati; Ia adalah Jehovah Jireh, Allah yang Memperlengkapi dan Menyediakan. Tentu saja, diberikan atau tidaknya ‘senjata’ heboh itu berkaitan dengan seberapa jauh Anda mau maju bagi-Nya.

·         Musuh yang sangat pasif di dalam kompleks industrial itu menyatakan kuasa Tuhan sekaligus strategi-Nya yang brilian. Ia di sini memberikan kami poin spesifik untuk terlebih dahulu mengikat musuh di dalam nama-Nya sehingga mereka tidak mampu memberikan perlawanan yang terlalu barbar. Bukan berarti tidak capek atau gaji buta, lho... Hanya saja, efek serangan baliknya diminimalisir.

·         Tidak adanya alarm yang berbunyi saat saya jelas-jelas membantai musuh menunjukan satu poin lagi: meminta Tuhan untuk menahan dan membutakan bala bantuan pasukan lawan. Ini berkaitan dengan Tulah Kegelapan yang akan kami pakai di hari itu seturut bimbingan Roh Allah. Penjabaran Tulah lebih lanjut kami tuliskan di bawah poin-poin ini.

·         Meitri yang tiba-tiba muncul dan beraksi nekad menunjukan aktivitas rohnya di Alam Roh. Dan memang benar, setelah kami konfimasi dengan orangnya, ia mengakui bahwa rohnya telah mendapat ‘gelitikan’ dari Tuhan mengenai perang kami dan ia pun berdoa perang di malam sebelumnya. Memang saat itu senjatanya belum di-upgrade seperti saya karena yang dikhususkan untuk maju hanya saya, Aloi dan Harvi... Tapi nyatanya, apa yang dilakukannya sungguh berarti dan membantu kami. Tambahan: ini juga menunjukan ‘kesadaran’ rohnya yang mulai peka—karena ia telah terbukti dapat menangkap sinyal alert dari kami bertiga tanpa pemberitahuan. Dan inilah yang dibutuhkan setiap prajurit Allah: roh yang peka.

·         Formasi yang dibuat saya, Aloi dan Harvi menunjukan garis besar taktik perang kali ini. Secara posisi tempur, Harvi dan Aloi memang berada di depan sebagai Frontliners. Sedangkan saya, sesuai dengan analogi mimpi, memang telah ditempatkan Tuhan menjadi Rear Guard—penjaga garis belakang. Strategi dan taktik sangat penting dalam peperangan rohani. Tuhan kita adalah Allah yang Merencanakan dan akurat dalam setiap gerak-gerik-Nya. Ia tidak akan melepas anak-anak-Nya tanpa modal strategi ataupun taktik tempur. Walau tentu saja, untuk melaksanakannya, sangat dibutuhkan iman.


Setelah analisa mimpi yang singkat ini, kami pun mulai bersiap-siap dan saling bertukar strategi yang didapat dari Tuhan. Seperti biasa, dalam perang dalam tim, Tuhan selalu memberikan poin dan petunjuk spesifik kepada setiap anak-anak-Nya. Sehingga, umumnya poin yang ditanamkan Tuhan kepada setiap individu berbeda namun saling berkaitan dan saling memvalidasi. Bahkan, waktu saya lagi pusing menyusun bahan rapat Tim Doa, Tuhan langsung menyambar, “Kamu tidak usah pusingkan poin ini, ini sudah diurus Harvi. Kamu fokus ke poin kedua dan ketiga saja.” Dan yang Ia katakan benar-benar terjadi. Harvi dan anak-anak Tim Doa lain yang ikut rapat adalah saksi hidupnya.
Ia benar-benar Allah yang mengerti fokus! Sama seperti zaman para rasul dahulu, di mana ada pembagian tugas di antara para rasul, sekarang pun Tuhan kita tetaplah Tuhan yang sama. Ia adalah Tuhan yang mengkhususkan Rasul Paulus untuk menginjili orang-orang non-Yahudi dan mengutus Petrus untuk fokus ke lingkup orang-orang Yahudi. Tuhan Yesus tetap sama; dahulu, sekarang, dan selama-lamanya, Amin.

Validasi : 1 Korintus 15:44, Markus 16:17-18, Ibrani 13:21, Roma 13:11, Matius 26:41, Efesus 6:18, Efesus 6:12.


—Bersambung... :p
[ Read More ]

Mission Possible - The Dream 1

Author : Felicia Yosiana Gunawan

1 Febuari 2012.

Saya, Bro Aloi dan Bro Harvi mendapatkan tugas super-edan dari JC beberapa hari sebelumnya. Tugas ini, yang Ia sampai delegasikan kepada Sis Gitta Diana karena kami masih tidak percaya, tergolong kelas berat dan nyaris mustahil. Apa tugasnya? Perang bertiga membantai sekitar seratus lebih jenis roh yang sedang mengusik Tim Doa, Komsel Sis Gitta, dan Indonesia juga.
Serius, ini kami tidak ada persiapan sama sekali kok disuruh perang? Hutang perang kami saja sama Tuhan masih menggunung, ini lagi tambahannya agak-agak tidak masuk akal...!

“Ini perang penting,” adalah satu-satunya yang Roh Kudus katakan kepada saya saat itu. Yah, saya waktu itu memang lagi dalam masa-masa setres pasca-perang satu minggu  sebelumnya. Sekedar info, seminggu sebelum tulisan ini ditulis, Tim Doa dan Komsel di Jogja mengadakan perang gabungan yang... ehem... Penuh warna dan tergolong barbar. Kelas berat sekali pokoknya. Dan berhubung saya saat itu memegang perang sebagai Tembok Luar, semua serangan musuh terhadap kami pasti kena ke saya duluan. Bisa Anda bayangkan sekarang betapa gilanya luka-luka saya setelah perang. Tidak tanggung-tanggung, saya langsung uring-uringan dan bad mood selama sekitar lima hari setelahnya. Baru setelah saya mendapat tugas inilah saya ‘bangun’ dan siap-siap dengan kelabakan.
Saya bingung sekali saat pertama kali disuruh berperang dengan tiga personil. Apa yang kami akan lakukan? Kemarin saja perang bertujuh lebih (belum ditambah bala bantuan dari Komsel dari Jogja) kami babak belur dan masih hutang. Ini ada apa lagi?
Rupanya jawabannya muncul dari Tim Doa sendiri.

Setelah Hikmat mencerahkan pandangan saya—yang baru galau berhari-hari—saya baru menyadari bahwa baik Tim Doa dan Komsel sedang diserang besar-besaran. Itu semua nyata sekali dari mood teman-teman TD yang lagi tidak karuan, perseteruan, serangan mimpi buruk dan bahkan ancaman perpecahan dalam TD. Dari sisi Komsel Sis Gitta di Jogja, mereka sedang mengalami serangan beruntun berupa kecelakaan, serangan fisik dari roh-roh jahat dan hal-hal serupa. Bahkan di Alam Roh, saya dan Harvi sudah melihat keadaan yang sangat mengenaskan... Beberapa prajurit TD ada yang sudah membuang pedangnya dan duduk sambil bengong, ada yang lagi asyik joget sendiri tanpa memikirkan teman di sebelahnya, ada juga yang masih babak belur pasca-perang dan sedang bertarung dengan kewalahan. Oke, ini cukup bikin saya tambah bete.
Di situlah Roh Kudus memberikan Hikmat, bahwa kalau saat itu ada yang harus bertahan di garis pertahanan terakhir, itu adalah kami bertiga: Harvi sebagai Komandan Tim Doa, Aloi sebagai Wakil Komandan, dan saya sebagai Pilar Fondasi TD rangkap Hansip...

“Cepat bangun!” gebrak Tuhan dengan kencang pada tanggal 30 Januari. “Kamu mau biarkan Tim ini hancur? Siapa lagi yang akan berperang kalau bukan kamu?! Maju!!!”

Teriakan itu rupanya juga dirasakan oleh Harvi. Dan baru di situlah kami sadar bahwa perang ini adalah perang demi saudara-saudara kami sesama wajib militer Allah sendiri. Dan berhubung Hikmat mengatakan untuk merahasiakan perang ini dari anak-anak Tim Doa lainnya, kami pun tutup mulut. Saya hanya mengedarkan sms yang isinya adalah ajakan untuk meminta proteksi lebih dan untuk bergumul dengan Tuhan untuk minggu-minggu ini. Setidaknya, saya berharap mereka akan lebih dahulu bangkit sendiri dari keadaan mengenaskan yang saya lihat sebelumnya. Baru deh urusan pengepungan si jelek diurus lewat perang.
Dan setelah dua hari lebih saya bersiap ini dan itu, dibuat berlari dari satu tempat ke tempat lain oleh Roh Kudus dan ghostbusting besar-besaran di rumah, Tuhan memberikan saya sesuatu. Sebuah mimpi yang menjadi kunci perang 2 Febuari 2012.


Latar mimpi itu adalah sebuah kapal perang yang canggih, seperti dalam game perang tembak-tembakan yang hi-tech. Saya ingat keadaan saat itu: langit cerah, dan saya yang lagi bergila-gila ria dengan musuh yang mengejar-ngejar kapal. Saya saat itu berada di buritan kapal perang yang ‘plong’. Tidak ada orang di buritan selain saya, dan saya dapat melihat musuh-musuh aneh berupa monster-monster berbentuk gurita besar sedang melayang dengan cukup cepat ke arah kapal. Saya, dalam balutan baju militer hi-tech dan bersenjatakan machine gun, menembaki mereka dari jarak yang lumayan jauh.
Tapi sulit sekali menumbangkan satu saja dari mereka! Mereka besar, dan pertahanannya tebal sekali. Saya harus menembaki mereka dengan tembakan beruntun selama kurang lebih dua menit baru mereka mati. Itu juga mati satu tumuh seribu. Saya makin panik, tahu pasti bahwa persenjataan saya sangat minim untuk musuh besar jenis ini.

Tiba-tiba, sebelum saya sempat komplain, Tuhan Yesus muncul. Saya tidak ingat melihat muka-Nya, tapi Ia saat itu seperti dalam rupa kabut terang yang tidak berbentuk. Ia mengambil senjata lama saya dan menukarnya dengan sebuah laser canon super-besar yang sampai harus dipasang di bahu saya biar bisa dibawa-bawa. Dan ini sungguh luar biasa! Dalam dua tembakan saja, saya bisa menghancurkan musuh yang ukurannya jumbo-jumbo! Keadaan segera berbalik dengan cepat.
Adegan berganti dan rupanya kapal perang yang saya tumpangi telah sampai dengan selamat ke daratan. Saya ingat bahwa daratan itu adalah pesisir sebuah pulau besar yang kelihatannya seperti kompleks perindusterian yang sangat besar dan rumit petanya. Saya tidak melihat ada orang lain ataupun musuh di situ. Maka, berjalan hati-hati dan sembunyi-sembunyi di setiap blok, saya mulai menyusuri pulau sepi itu.

Rupanya saya tidak sendirian. Ada musuh sejenis monster gurita berkepala otak yang besarnya setara dengan mobil mini-bus. Monster-monster ini tapi agak aneh. Mereka tidak lagi terbang-terbang dan bergerak bebas seperti saat mereka mengejar-ngejar saya sebelumnya. Mereka melekat kepada dinding atau lantai pabrik. Ada juga yang melekat kepada persenjataan artileri besar di sana—spekulasi saya, untuk mengontrolnya. Saya pun segera mengarahkan senjata dan membidik mereka dari kejauhan, tetap berusaha tersembunyi. Dan bum... Satu tembakan saya lepaskan. Efeknya besar, dan lagi-lagi, hanya butuh dua tembakan untuk mengalahkan monster aneh ini.
Tapi ada yang aneh. Biarpun mendengar suara laser canon saya, tidak ada alarm yang berbunyi atau musuh yang segera mencari keberadaan ‘penyusup’ di pulau itu. Rasanya pulau itu benar-benar kayak industri mati. Tapi tentu saja, ini tidak benar. Saya melihat mata mereka bergerak-gerak, hanya saja mereka tidak bergerak dan tetap melekat pada tempatnya. Ada juga sih, monster-monster yang lebih kecil dari si otak-gurita dan bisa berjalan, tapi gerakan mereka lamban sekali dan ada polanya, jadi mudah untuk saya prediksi.

Di tengah-tengah misi saya memberantas monster di kompleks sunyi tersebut, mendadak saya menemui seorang saudari Tim Doa, Sis Meitri. Saya bingung, kenapa orang ini ada di sini...? Bukannya kami merahasiakan perang ini dari anggota TD manapun selain mereka yang dipanggil perang?
Pertanyaan ini terjawab belakangan saat saya bangun. Tapi di dalam mimpi analogis tersebut, Meitri datang dan membantu saya mengalahkan para monster dengan sangat barbar dan bersemangat. Walaupun persenjataan dan perlengkapannya tidak secanggih saya, ia benar-benar nekad dalam menjalankan misi. Kalau saya bergerak hati-hati dan sembunyi-sembunyi, ia jauh lebih sering lompat pagar dan main hantam one to one sama musuh. Padahal, kalau saya tidak membantu menembak musuh dari belakang, pasti butuh waktu lama untuk mengalahkan monster jumbo jenis gurita itu!

—Bersambung... :p
[ Read More ]

Mimpi - Peperangan Rohani Anak-anak Allah

Author : Benedictus Harvian          

Ingatan pertama saya akan mimpi yang cukup panjang ini adalah latar sebuah mobil yang sedang melaju kencang. Rupanya seperti mobil sedan, kalau tidak salah. Saya—berada dalam tubuh roh anak umur 11 tahun—sedang duduk di kursi belakang, bercengkerama ria dengan companions saya di mobil itu yang duduk di samping kiri-kanan saya. Ada pengemudi dan seorang lagi di kursi depan.
Keadaan ini berlangung sekian menit hingga saya menyadari ada yang aneh. Lama kelamaan, wajah orang tersebut berubah menjadi menyeramkan... Suara tertawanya jadi sangat spooky. Dan, oh, senyuman ramah yang saya lihat sebelumnya menjadi seringai ala psikopat! Aura ketidaknyamanan berganti dengan aura ketakutan. Kekeh-kekeh histeris mereka makin membuat saya ngeri..

Sampai akhirnya, keberanian menggantikan ketakutan yang memuncak tersebut. Entah dari mana, saya mengeluarkan sebilah pedang. Ayunan cepat tangan kanan saya menghasilkan tusukan mantap ke arah perut. Sebelum sempat melihat reaksi sang korban, dengan beberapa tusukan dan sabetan kilat saya menyerang orang-orang sisanya. Terlalu sadis dan horor kah saya? Sebelum berkonklusi, silakan nantikan bagian interpretasi mimpi ini di bawah, ya...
Rupanya mereka belum sepenuhnya terimobilisasi. Mereka mulai mengamuk dan meraung!! Saya memutuskan bahwa tidak ada jalan kecuali keluar dari tempat tersebut. Membuat irisan berbentuk persegi di atap mobil, saya loncat keluar. Saya menjejak atap mobil dengan panik. Ternyata saya sedang berada di jalan tol yang super padat dengan mobil-mobil yang melaju kencang. Dengan motif mencari tempat aman, saya meloncat ke atap mobil di belakang saya—berlawanan arus dengan melajunya mobil. (roh saya atletis juga, sepertinya... :P)

Saya frantic tingkat tinggi. Benar-benar panik! Yang saya lakukan hanya terus melompat dan melompat dari satu mobil ke mobil lain sambil berseru-seru memanggil Tuhan. Setelah beberapa saat, saya melihat figur Tuhan Yesus yang tinggi dengan jubah putih-Nya yang biasa. Ia tepat di sebelah saya. Namun saya hanya bisa merasa santai selama sepersekian detik sampai saya sadar kalau ternyata ‘Tuhan Yesus’ ini bukan yang asli! Saya merasakan aura tidak enak yang beda banget sama damai sejahtera-Nya Tuhan yang biasa kalau saya berada di hadirat-Nya.

“Dalam Nama Yesus, aku ikat, patahkan  dan hancurkan segala kuasa jahat yang mencoba menyamar!”

Setelah hampir seperti refleks mulut saya melantunkan kata-kata itu, sosok tersebut mulai menunjukkan wujud aslinya. Penyamarannya yang serba putih mulai rontok digantikan dengan warna hitam legam yang sangat menyimbolkan ketiadaan kehidupan. Sayap hitam ala kelelawar yang mulai terentang dan wajahnya yang seperti tengkorak mengingatkan saya akan makhluk mitos Eropa bernama gargoyle. Seram? Jangan kuatir, Saudara. Allah kita jauh lebih perkasa!
Spontan, saya langsung cabut dari posisi dan meneruskan adegan ala film action tadi. Setelah mobil kesekian yang saya lompati, saya tiba di atas sebuah kendaraan yang juga sedang melaju dengan sangat kencang. Kabel listrik yang terbentang di atas, gerbong-gerbong yang dikaitkan, beserta suaranya yang khas ketika dijalankan meyakinkan saya bahwa itu sebuah kereta.

Ah, kali ini, saya kembali melihat sosok Tuhan Yesus sedang berdiri di samping kanan saya! Tapi... Tunggu dulu! Saya tidak mau terkecoh lagi! Dalam hitungan sepersekian detik, saya mengacungkan tangan kanan dalam tindakan protektif. Sama dengan di atas, saya pun menguji kalau-kalau itu merupakan samaran dari si jahat. Yap, tentu saja dengan otoritas Nama-Nya yang kudus!
Syukurlah, sosok-Nya tetap sama kali ini. Tangan kanan saya yang masih teracung dipegang-Nya dan Ia menggelengkan kepala seakan mengatakan ‘Tenanglah, Aku Allahmu.’ Rasa hangat yang spesial merambati tangan saya yang berada dalam genggaman-Nya. Perasaan nostalgik dan damai ini—Ialah Tuhan Allah Penebusku!

Kemudian, Tuhan menunjuk ke langit. Kepala saya menoleh sesuai arah yang Ia tunjukkan—dan saya melihat seekor gagak yang ukurannya ratusan kali lebih besar dari gagak normal, sedang terbang menukik ke arah kami! Sebelum saya sempat kuatir apa ia akan menerpa kereta yang kami naiki, ia terhalang oleh sebuah pelindung tembus pandang berbentuk setengah lingkaran. Seakan tak terpengaruh akan hantaman kerasnya pada pelindung itu, ia kembali menerjang dan menerjang dengan ganas di sisi yang berbeda-beda. Adapun, pelindung tersebut tetap kokoh.
Kemudian, tempat saya dan Tuhan Yesus berdiri tertutup bayangan hitam yang sangat besar. Mendongak untuk mencari sumber bayangan itu, saya mendapati seekor kelelawar yang berukuran beberapa kali lipat gagak raksasa itu. Sama seperti yang dilakukan si gagak, ia menerjang ke bawah dengan garang. Untungnya, pelindung tersebut masih bekerja dengan baik.

“Kamu tahu apa yang Kumaksud,” Tuhan berbicara sambil menoleh, memecah konsentrasi saya yang sedang menyaksikan atraksi udara yang tidak biasa tersebut.

Saya mengangguk. Saya tahu Ia mengacu pada keseluruhan kejadian yang telah saya saksikan.

“Tuliskanlah.”

Dan saya pun terbangun pada kata itu.


Jadi, izinkan saya membagikan apa yang sudah Hikmat interpretasikan mengenai mimpi ini :

·         Saya berada di mobil melambangkan kehidupan lama saya sebelum lahir baru dalam Tuhan.

·         Companions di mobil adalah Iblis dan antek-anteknya. Sebelum mengenal Kristus secara penuh dan benar-benar berjalan di jalan-Nya,sadar tidak sadar Anda sedang menjadi ‘kawan’-nya mereka. Setelah mendapat penerangan dari Tuhan dan hamba-hamba-Nya, proses yang saya jalani waktu itu, saya baru menyadari bahwa kehidupan lama saya sungguh tidak berkenan pada Tuhan.

·         Titik balik ketika saya mengambil pedang dan menghunus ‘orang-orang’ tersebut adalah benar-benar titik balik ketika saya mengambil komitmen untuk berjalan dalam ketaatan penuh pada Tuhan dan mencari-Nya dengan sungguh-sungguh.

·         Gebrakan yang sesungguhnya dimulai dengan kaburnya saya dari tempat dan melawan arus jalan tol. Jalan tol yang sangat ramai melambangkan dunia. Keberanian untuk melawan arus dunia adalah titik balik seseorang untuk hidup bagi Kristus. Fakta di mimpi tersebut bahwa saya harus melompat mobil ke mobil yang berjalan kencang untuk melawan arah alih-alih hanya berjalan santai menggambarkan yang kita, anak-anak Allah harus hadapi. Serawan dan serentan itulah jalan Allah! Sedikit tergelincir dan sedikit keraguan untuk melompat sudah akan mengakibatkan Anda jatuh dan terlindas mobil-mobil lain di belakang! Stagnansi juga disinggung di sini. Kalau kita tidak terus maju dengan mantap, kita akan segera tertinggal dan terbawa kembali oleh arus dunia. Yah, tidak mengherankan. Alkitab sudah menulis semuanya.

·         Yesus palsu adalah gambaran betapa si jahat menginginkan anak-anak Allah untuk jatuh ke perangkapnya. Ketidakwaspadaan akan dibayar mahal! Firman ‘ujilah semua roh’ kembali teraplikasikan di sini. Tanpa bimbingan Roh Kudus dan pengetahuan Firman yang baik, mudah sekali orang terjatuh dalam berbagai tipuan Iblis!

·         Kereta yang melaju di sini, melambangkan persekutuan orang percaya (gereja, persekutuan doa, dll). Di sana saya menemukan keamanan dan Tuhan sendiri.

·         Gagak besar itu adalah si jahat yang terus menyerang persekutuan-persekutuan dengan ganas. Entah ia roh pemecah, roh keraguan, roh pemadam api Roh Kudus, atau apapun. Ia tidak suka bila kita mengangkat Nama Kristus, tentu! Berkali-kali dengan tidak putus asa, ia mencari tiap sisi di mana pelindung kita bocor! Pelindung tersebut merupakan perlindungan dari Tuhan, yang adalah Perisai kita. Teruslah tilik, Saudara, apakah persekutuan Anda tanpa celah di mata-Nya! Karena celah sesedikit apapun dapat berakibat fatal—percayalah, Anda tidak akan mau merasakannya.

·         Kelelawar. Lucunya, saya baru membaca tentang ini di buku karangan Ev. Iin Tjipto berjudul ‘Indonesia di TanganMu’. Beliau mengatakan bahwa ada roh dengan wujud kelelawar yang sangat besar yang bercokol di Indonesia. Seperti kelelawar normal, ia memakan buah yang hampir matang. Tapi bedanya, makanan yang satu ini secara roh. Ya, ia secara khusus ‘memangsa’ persekutuan-persekutuan atau gereja-gereja yang hampir berbuah sehingga mereka tidak dapat berbuah bagi Kristus. Miris, ya? Tapi memang itu yang akan terjadi bila kita tidak siap menghadapi serangannya..


Bersiagalah, prajurit Kristus! Waktunya menutup. Tuaian banyak namun pekerja sedikit—mari kita sama-sama mengusahakan kebun kita supaya berbuah bagi Kristus!
[ Read More ]

The Great War - The Beginning

Blog Editor's Note : Kesaksian Saudari Gitta Diana, salah seorang prajurit Allah di Jogja, ini adalah sambungan dari An Introduction : Gitta Diana's Testimony. Kesaksian ini juga adalah basis dari kesaksian Tim Doa di Adoniyah ini mengenai Peperangan 31 Desember (Another War Series), yang diawali dengan Another War - Horses.

Author : Gitta Diana
Hari itu Jumat 9 Desember 2011.
Ketika saya berdoa, Tuhan berbicara pada saya bahwa komsel kami akan diberi Big Project oleh Tuhan di bulan terakhir di tahun 2011 itu. Dan mengejutkannya lagi, Tuhan menyodorkan ‘surat kontrak’ selama sebulan untuk ‘saya tandatangani’ sebagai tanda bahwa kami sanggup menjalankannya... (Lagian, siapa juga yah, yang berani nolak ‘surat perintah’ dari Raja?).  Anda ingin tahu kira-kira Big Project apa yang Dia berikan kepada kami dan seserius apa itu sehingga saya diminta oleh-Nya untuk ‘ditandatangani’?
Jadi Dia memberikan kami project untuk doa peperangan besar-besaran di akhir tahun 2011. Kami ‘dikontrak’ selama sebulan untuk setiap hari Sabtu (baca: hari kami biasa berkumpul untuk berdoa bersama) di bulan Desember 2011. Secara spesifik, proyek ini mengkhususkan diri kami untuk berdoa menyongsong kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali dan berdoa peperangan yang tidak biasa. Spesifiknya, Tuhan ‘mengontrak’ kami tanggal 10, 17, 24, dan 31 Desember 2011.
Jumat itu saya masih bertanya-tanya pada Tuhan, apa yang Ia maksud sebagai doa peperangan yang tidak biasa. Dalam komsel kami yang biasanya, padahal kami juga pasti berdoa peperangan. Tapi apa yang kali ini Ia rancangkan?

Saya terus berkali-kali ‘menoleh’ pada Tuhan, tetapi Ia masih seperti hanya ‘mengedipkan mata-Nya’ kepada saya. Dan bahkan sampai hari Sabtu 10 Desember 2011, hari pertama dimana kami akan menjalankan project itu, Dia juga masih merahasiakan jawaban dan senyum-senyum melihat banyak tanda tanya kecil besar di atas kepala saya. Sebelum doa dimulai, saya sampaikan briefing lengkap ke teman-teman saya tentang project itu. Di tengah-tengah briefing, tiba-tiba Tuhan bicara pada saya, ”Aku akan memberi kalian sebuah taktik dan strategi perang yang baru.”

Saya diam sejenak sementara teman-teman saya masih pada sharing, saya bertanya pada Tuhan, ”Taktiknya bagaimana, Lord?”

Dan Dia hanya kembali tersenyum lagi, tetapi dari senyuman-Nya itu saya menangkap seolah-olah Dia mengatakan.”Kita lihat saja nanti...”

Setelah briefing cukup, jujur sebenarnya saya juga sedikit ‘nervous’ (padahal sebelumnya juga uda biasa mimpin doa, tetapi yang ini lain), yang pertama karena Tuhan mengatakan bahwa ini akan jadi babak peperangan yang lain dengan taktik yang lain pula. Kedua, saya juga sudah terlanjur mengatakan  kepada teman-teman saya bahwa kami akan diberi taktik peperangan, tetapi saya sendiri saja benar-benar masih blank dengan yang Tuhan maksud. Di tengah ketidaktahuan saya itu, saya tergerak untuk meminta Gabhy untuk menyetel beberapa lagu praise (One Way Jesus, Zaman Elia, Betapa Hebat, Serukan Nama-Nya Hanya di dalam Nama-Nya).
Roh Kudus lalu mengomandokan saya untuk meminta semua dari kami untuk menutup mata, mendengarkan lagu itu, dan menikmati ‘semangat yang lain’. Ini kami sebut juga sebagai kobaran api Roh Kudus, yang ditimbulkan ketika kami ikut menyanyikan lagu-lagu tersebut seraya bertepuk dan menggerak-gerakkan tangan juga badan (meskipun kami saat itu tetap dikehendaki dalam posisi duduk karena rumah Gabhy yang kami tempati untuk berdoa sedikit limited space kalau dipakai untuk jingkrak-jingkrak).
 Entah mengapa, setelah selesai kami menyanyikan lagu ‘Hanya di dalam Nama-Nya’,   saat kami bertepuk riuh, kami sama-sama merasa seperti diguyur dengan air di bagian dada kami sebelah dalam dan di seluruh tubuh. Ini bahkan dirasakan oleh beberapa teman saya yang belum begitu peka terhadap Roh Kudus, dan ini terasa sangat merata.

Saat itu saya diberi vision oleh Tuhan bahwa itu adalah awal yang sangat baik karena bejana setiap kami sudah terbuka lebar-lebar dan sudah terisi urapan sangat penuh. Setelah selesai diberi vision tentang bejana tersebut, scene vision saya berubah.
Saya melihat beberapa jenis roh-roh jahat yang sudah tidak tahan untuk menyerang karena mereka tidak biasa dilecehkan dan dihina dengan kami menyanyikan puji-pujian dimana inti dari lirik beberapa lagu yang kami nyanyikan adalah segala kuasa harus tunduk dalam nama Yesus. Tuhan memberikan pengertian ke saya, bahwa roh-roh tersebut adalah jenis roh-roh jahat di Laut Pantai Selatan. Mereka adalah jenis roh-roh jahat yang tidak tahan dihina dan dilecehkan karena mereka terbiasa dipuja-puja dan dijadikan sesembahan secara langsung dan berlebihan.

Praise cukup, kami sujud, membuat tanda salib, dan masuk dalam doa. Setelah doa pembukaan dan pertobatan, kami mulai doa untuk Rapture. Ini dimulai dengan saya memimpin dengan sebuah lagu worship, lalu kami bersenandung dalam bahasa roh (berdoa dalam bahasa roh dengan dinyanyikan). Mulanya senandung beralun lembut, tapi entah mengapa lama-kelamaan senandung kami berubah menjadi doa dalam bahasa roh (jadi tidak dalam bentuk nyanyian lagi), lalu saya juga sempat heran karena doa dalam bahasa roh kami lama-kelamaan menjadi semakin cepat dan tajam. Waduh, saya sedikit agak bingung juga karena saya sendiri juga mengalami begitu.
Saya kemudian bertanya sama Tuhan, ”Loh, Lord, kok senandung untuk menyambut Engkau datang bisa jadi doa roh cepet banget gini?”

Setelah Tuhan memberitahu saya sesuatu, barulah saya tahu... Ternyata itu disebabkan oleh roh kami yang sudah sadar bahwa ‘pihak seberang’ sudah akan memulai perlawanan sehingga roh kami yang tadi awalnya sudah dibakar kuat dengan api Roh Kudus, membuat kami jadi tidak bisa menahan passion untuk segera maju dari garis batas.
Keadaan ini masih ditambah dengan adanya Yuni, salah seorang member, yang ‘mengibar-ngibarkan bendera perang’ sebelum waktunya yang menyebabkan beberapa teman-teman saya yang lain juga ikut ‘mengibarkan’ bendera mereka. Dan alhasil, roh-roh jahat yang tadinya sudah geram abis, sekarang benar-benar merasa sudah ditantangi untuk perang. Duuhh jaann.,, memang Co-Commander kami satu-satunya ini paling heboh kalau dalam hal pembantaian…
(Sekedar info, jadi di doa peperangan dalam komsel kami, saya ditunjuk oleh Tuhan sebagai Commander dan teman saya Yuni sebagai Co-Commander).

Tuhan Yesus bersama dengan malaikat Mikael saat itu sama sekali tidak menegur kami, tetapi malahan langsung mengomandokan kepada saya, ”Ganti sesi. Sekarang.”

Saya langsung menyerukan kata “Haleluya” sebagai tanda pemberhentian sejenak doa roh kami. Dengan cepat dan lantang saya doa meminta perlengkapan senjata Allah sambil membaca Efesus 6; meminta perlindungan darah Yesus bagi setiap kami, ruangan yang kami tempati, setiap anggota keluarga kami dimanapun mereka sedang berada, dan untuk rumah kami masing-masing. Naaahh, baru di sinilah Tuhan menjelaskan taktik yang harus kami pakai hari itu (Baruu deeh, ‘nervous’ saya ilang...).

Tuhan mengatakan bahwa sebagian dari kami akan menjadi pembawa pujian (ini dirujukkan oleh Tuhan tentang rubuhnya Tembok Yerikho), dan sebagian dari kami menjadi penyerang.
Para pembawa pujian bertugas meruntuhkan benteng dan kubu yang dibangun oleh roh-roh jahat, melemahkan kekuatan dan kuasa roh-roh jahat, menjaga ‘mood’ penyerang dalam menghajar, dan ‘menstabilkan’ atmosfer perang supaya tidak turun (yang dapat menyebabkan semua dari kami merasa lelah, lemas dan mengantuk) juga supaya atmosfer tidak terlalu naik (yang menyebabkan histerikal, ketidakteraturan, ketidaktertiban dalam berdoa). Sedangkan penyerang bertugas untuk membantai roh-roh jahat, mematahkan kuasa-kuasa dan kutuk, membumihanguskan territorial-teritorial yang roh-roh jahat sudah coba duduki, menancapkan bendera perebutan territorial—merebut teritorial-teritorial untuk dijadikan sebagai territorial Tuhan.

Waktu itu kami bersebelas orang. Jadi Gabhy, mbak Arum, Priska, Anika, dan mas Zendy ditunjuk oleh Tuhan sebagai pembawa pujian. Sedangkan mbak Nomie, mbak Rista, mbak Ika, mbak Nining, Yuni, dan saya ditunjuk sebagai penyerang. Pembawa pujian akan berdoa dengan bersenandung dalam bahasa roh. Sedangkan penyerang akan berdoa dalam bahasa roh peperangan (bahasa roh versi cepat dan tajam). Gabhy dikehendaki untuk memimpin worship untuk menghantarkan para pembawa pujian untuk bersenandung.

Setelah worship song selesai dinyanyikan, saya melihat malaikat Mikael seperti memberikan aba-aba, lalu saya melihat banyak sekali malaikat perang maju mendahului kami disusul dengan majunya para penyerang. Yang terjadi seharusnya pada kami adalah para penyerang memberikan kesempatan kepada para pembawa pujian bersenandung dahulu lalu baru bergerak maju menyerbu. Tetapi ini yang terjadi karena kobaran api sudah terlanjur meluap pada para penyerang, teman-teman saya yang penyerang ini malah langsung lari menggeruduk melewati tanda batas dan mendahului para pembawa pujian. Waktu itu telinga rohani dan jasmani kami benar-benar seperti mendengar bunyi guntur.
Keadaan ini lagi-lagi dipicu oleh Yuni yang setelan rohnya dalam peperangan seperti dinamit. Yang membuat saya sedikit agak kalang kabut karena majunya Yuni ini, ia langsung ke tengah-tengah medan perang diikuti oleh mbak Nomie dan mbak Rista, padahal mereka adalah orang-orang baru dalam komsel kami yang belum pernah perang brutal seperti yang biasa kami lakukan!

Saya, yang dipasrahi Tuhan untuk menjadi Commander, tentu saja merasa bertanggungjawab atas hal tersebut karena doa peperangan rohani bukan sesuatu yang main-main. Ini bisa berdampak hebat dalam kehidupan keseharian orang. Bila seseorang tidak sanggup menghadapi hal-hal aneh yang terjadi dalam hidupnya pasca doa perang, ini bisa membuat orang tersebut malah down. Ketika saya berseru “Haleluya” dalam maksud untuk meredakan peperangan sebentar, suara saya tertelan oleh riuhnya suara teman-teman dan peperangan tetap berlanjut.
Saya menjadi semakin ‘celingak-celinguk’ ke arah Tuhan Yesus dan Mikael, yang anehnya tetap bersikap cool. Saya mendapati Yuni bersama mbak Rista sedang ‘main keroyokan’ dan menyerang membabibuta terhadap suatu jenis roh tertentu. Saya nggak habis pikir, ngapain mereka kroyokan sampai begitu sama jenis roh itu, padahal jenis roh yang dihadapi lainnya masih banyak...
Yah, ternyata karena memang dari awal baik Yuni maupun mbak Rista berketetapan dalam hati ingin memerangi secara khusus jenis roh tersebut.


Ketika saya mencoba kedua kalinya untuk meredakan peperangan dengan gerakan bertepuk lambat namun keras, eh malah disinyalir berbeda oleh teman-teman saya...! Mereka menginterpretasi dikira saya memberi aba-aba untuk maju perang lebih intens lagi. Hadeehh...
Tapi setelah saya berseru memberi aba-aba untuk kembali ke garis batas, dengan agak sulit akhirnya mereka menuruti juga. Saat waktu jeda, saya menjelaskan kepada kepada para penyerang untuk lebih teratur dan waspada. Juga kepada para pembawa pujian agar suaranya tidak tertelan oleh penyerang dan jenis senandung yang digunakan adalah senandung peperangan. Lalu kami melanjutkan perang kami lagi. Dengan keganasan yang sama. Dengan kobaran yang semakin membara!
Oops... Ternyata Tuhan sediakan sesuatu yang “Wow” di peperangan kami selanjutnya. Kami segera meluncur ke 17 Desember…

—Bersambung
[ Read More ]