Mission Possible - Knighted

Author : Felicia Yosiana Gunawan

Beberapa hari sebelum perang besar yang sesungguhnya dimulai, saya diberikan pelatihan khusus oleh Tuhan. Ia mengajari saya Hikmat bermazmur, dalam teori maupun praktek. Ia juga mengajak saya untuk melakukan berbagai-bagai macam persiapan, berdoa lebih, dan menjaga aktivitas saya agar tidak membocorkan bejana urapan. Selain itu, Bapa juga mempersiapkan dan memberikan saya kekuatan baru untuk menghadapi perang besar dengan anggota minim ini.
Ia memberikan saya Yosua 11, Yehezkiel 31, Mazmur 91 dan 31 untuk bahan perenungan. Tentu saja, semua ayat-ayat di atas didiktekan langsung oleh Roh Kudus. Saya hanya bisa planga-plongo melihat betapa Ia mempersiapkan segala-galanya dengan presisi yang luar biasa. Hikmat mengatakan bahwa perang ini akan menjadi sebuah ajang naik level yang sangat radikal dan berbahaya. Ia menjelaskan, bahwa untuk membawa seseorang ke level yang jauh lebih tinggi dengan cepat, tidak ada cara lain dengan membawanya ke tempat yang juga levelnya jauh lebih tinggi. Dan itulah yang Ia lakukan kepada kami bertiga.

“Kalian Fondasi Tim Doa ini,” jelas Tuhan beberapa malam sebelumnya. “Aku tidak pernah salah pilih. Aku tidak pernah tidak mempersiapkan. Dan sekarang, untuk membawa anggota-anggota lain naik level, kalian—sebagai pilar terbesar TD—terlebih dahulu harus lulus dari level yang sekarang.”

Saya cuma bisa ngangguk-ngangguk dengan kalem. Habis mau protes juga percuma, saya lagi dirundung perasaan pingin membantai sansak saat itu. Kalau menurut Sis Gitta, katanya ‘amarah rohani’ saya lagi tinggi. Singkatnya, api peperangan Roh Kudus saya lagi berkobar dengan hebat-hebatnya. Dan ini semua benar-benar nyata: saya jadi tidak bisa diam selama tiga hari, dari yang bawaannya pingin marah-marah jadi gregetan sendiri kepingin cepat-cepat perang. Tuhan baik sekali mau membiarkan ‘amarah’ itu tersalur sebagian dalam doa keesokan paginya.
“Ini perang yang sangat menguras tenaga, bukan?” tanya Roh Kudus besok paginya. “Karena itu Aku sudah menyiapkan strategi untukmu. Hari-hari sebelum perang, tugasmu adalah menanam granat dan ranjau di daerah lawan.”

“Ha? Anda serius?” tanya saya, setengah kaget setengah excited.

“Iya. Dengan begini, saat perang kalian hanya tinggal mendetonasi bom-bom itu dan menembakan panah api ke granat yang sudah ditanam saja. Lumayan hemat tenaga, lho.”

Setuju dengan pemikiran Sang Taktisi, saya pun menerapkan misi ‘penanaman granat, ranjau dan bom’ ini dengan pujian dan penyembahan. Dan belum saya sempat bersalto-salto ria sambil menebar granat, sms dari Harvi masuk. Isinya kurang lebih adalah pernyataan perang dan daftar musuh-musuh yang harus terlebih dahulu kami bantai dengan panah dan ballista sebelum perang di hari H. Kalau Anda ingin tahu, roh-roh yang harus ditembaki dulu itu adalah: roh pembuta dan penuli, roh amarah, roh pencuri urapan Roh Kudus, dan roh-roh jenis lainnya yang setipe dan dapat menurunkan kapabilitas bertempur kami nanti. Dan tidak lama sesudahnya, muncul message dari Sis Gitta yang mendaftarkan sekitar 100 lebih jenis roh yang harus dihantam.
Saya tidak kaget lagi melihatnya. Sebaliknya, saya justru semangat! Kenapa? Gantian, dong! Saya sudah bosan nih dikerjain mereka terus! Saya sudah bete melihat roh-roh jelek ini merusak kehidupan Tim Doa dan anak-anak Allah lain! Gantian sekarang; kami yang akan mengerjai mereka di dalam Tuhan!
Ehem. Barbar, memang... Tapi rasanya gimana sih setelah mengetahui siapa yang ada di balik semua kejatuhan Anda dan keluarga Anda selama ini? Bete, kan? Ya seperti itulah kira-kira perasaan saya waktu itu.


Setelah menguduskan rumah dan memasang ‘sekat’ Roh Kudus di rumah, sms dari Harvi masuk kembali. Isinya adalah daftar peran kami pada hari esoknya—semuanya didapat langsung dari Sang Komandan Agung.
Harvi bertugas sebagai Pemimpin, Penyerang Utama dan Peniup Sangkakala. Aloi bertugas sebagai Pengintai dan Penjaga Barisan. Sedangkan saya ditugasi Roh Kudus untuk menjadi Penjaga Api dan Stabilitator. Harvi menyertakan validasi penugasan saya dengan ayat Yoel 2:3 yang langsung ia dapat dari Tuhan.

“Tugas kamu,” celetuk Tuhan waktu saya sedang di-briefing secara personal, “adalah menjaga rekan-rekanmu. Kamu yang paling ‘tua’ di sini. Kamu bertanggung jawab atas ‘punggung’ mereka.”

Saya menelan ludah. Saya sudah tahu akan jadi seperti ini. Belum lagi, beberapa anggota Tim Doa sudah melaporkan berbagai pengelihatan soal Api Peperangan beberapa saat sebelumnya... Saya yakin banget bakal babak belur dalam perang berskala jumbo kayak gini. Tapi tidak apa, deh... Saya yakin Tuhan punya strategi dan taktik perang yang brilian. Nggak mungkin Dia mengutus kami untuk mati di tengah jalan.
Dan yang lucu, Tuhan sangat bersemangat di hari-hari itu. Saya tahu saya memang lagi terbakar Api Roh Kudus dan baru kesiram urapan perang, tapi saya sampai takjub sendiri melihat Tuhan se-semangat itu. Ia bahkan sampai mengirimkan 1 Raja-raja 13 melalui Harvi.

“Lihat,” kata-Nya hepi saat saya masih bengong sama ayat 3, “semua rencana-Ku keren, kan? Namamu saja sudah Kupersiapkan dan Kupikirkan baik-baik sebelum kamu lahir.”

Sekedar info, nama saya, Yosiana—“Josiah” atau “Yosia” dalam Alkitab—memiliki arti “Api Tuhan” dalam bahasa Ibrani. Saya rasa bokap dan nyokap saya tidak berpikir sampai kesitu waktu mencarikan saya nama, tapi rupanya Tuhan telah mempersiapkannya!

Saya pun menghabiskan sisa sore dan malam itu dengan menggali info dari Alkitab dan mendalami strategi perang Gideon—strategi perang yang akan kami gunakan. Saya juga dituntun Tuhan untuk bermazmur, dan mendeklarasikan iman saya secara audibel. Nah, di saat itulah Tuhan memberikan persiapan terakhir saya menjelang perang: sebuah pangkat.
Pada saat saya sedang sibuk bermazmur dan mendeklarasikan siapa Tuhan yang saya sembah, tiba-tiba dari mulut saya keluar kata-kata, “I salute Thee.”

Gile... Itu kata-kata bahasa Inggris dengan gaya archaic, gaya kuno kerajaan Inggris! Kenapa saya tiba-tiba bisa mencelos ngomong begitu sama Tuhan?

Sebelum saya sempat bingung sendiri, Hikmat mengalir dan saya langsung tahu bahwa saat itu roh sayalah yang berkata-kata, bukan jiwa dan pikiran. Dan saat itu juga pengelihatan menyeruak: saya sedang berada di hadapan Takhta Bapa. Tapi kali ini Taktha Bapa seperti sebuah War Council. Saya, dari sudut pandang orang ketiga dalam pengelihatan Alam Roh, melihat diri roh saya sendiri dalam balutan baju zirah perak dan jubah putih bersih. Diri roh saya sedang berlutut di hadapan Bapa, Putra dan Roh Kudus.
Sedetik setelah roh saya mengucapkan greeting ala ksatria Inggris kuno itu, Bapa mengangkat satu tangan-Nya. Dan Ia berkata, “Rise a Knight.” Yang berarti “Berdirilah sebagai seorang Ksatria.”

Saya, di dunia nyata, nyaris lompat dari posisi berlutut di pinggir ranjang. “Apaaaaaaaaaaaaaa?” teriak jiwa saya masih syok. Roh saya sih stay cool, tapi otak saya masih kejang. Frasa yang dipakai Bapa itu adalah kata-kata pentahbisan seorang prajurit yang tidak punya darah bangsawan menjadi seorang ksatria Kerajaan! Info tambahan, saya tahu hal-hal begini karena sempat punya hobi menulis fiksi dan banyak melakukan studi soal struktur kebangsawanan kerajaan-kerajaan kuno dan tingkat hirarki militer.

Oke, kembali ke topik awal: Knight itu pangkat yang lumayan tinggi dalam hirarki militer Kerajaan! Lha, saya ini masih cupu dan kurang sana-sini, kok bisa-bisanya Dia angkat jadi Knight?! Apalagi pangkat itu menyimbolkan status kebangsawanan tingkat awal!
Tapi rupanya Tuhan tidak menghiraukan kepanikan otak saya. Ia kemudian menyematkan semacam emblem emas berbentuk elang yang sedang mengembangkan sayapnya di armor saya. Dan saya syok berat waktu keesokannya, saya melihat tanda yang sama sudah tersemat di baju zirah Aloi dan Harvi...


—Bersambung... Serius, nih... Ini testimoni panjang banget dan gak mungkin saya skip langsung ke medan laga. Banyak info penting yang sudah dikecam Roh Kudus supaya dibagikan... Tenang, tenang, judul berikutnya langsung masuk ke adegan baku hantam, kok... :p
[ Read More ]

Mission Possible - The Dream 2

Sesaat setelah aksi nekadnya, barulah ia sadar kalau persenjataannya benar-benar tidak cocok dengan musuh yang susah mati ini. Nggak tanggung-tanggung, saya melihatnya membuang machine gun-nya dan mulai maju dengan modal granat lempar! Saya sampai terkagum-kagum dari belakang... Padahal, granat miliknya itu tidak sehebat laser canon saya daya rusaknya, tapi ia tetap maju dengan berani—selalu sekitar tiga puluh meter di depan saya dan lari ke sana ke sini.
Dan dengan begitu, tentunya pekerjaan saya jadi lebih mudah. Kalau ditotal, jadi hanya butuh satu kali tembakan dan satu granat untuk setiap monster ukuran jumbo. Ini sangat menguntungkan senjata saya yang memiliki waktu agak lama untuk reload karena tingkat destruktifnya yang tinggi.

Adegan kembali berganti. Saya kembali sendirian di pulau industrial yang sunyi itu. Dan entah darimana, tiba-tiba Aloi dan Harvi datang dengan persenjataan yang sama seperti saya. Satu-satunya yang berbeda dari kami hanyalah warna baju dan model perlengkapan perang kami. Tapi kurang lebih, senjata kami tingkat keganasannya sama.
Maju dengan hati-hati, kami pun membentuk formasi 2 – 1. Kalau Aloi dan Harvi sedang berjalan di depan, saya yang jaga belakang. Dan begitu juga saat kami berputar mengubah posisi dalam formasi. Dua orang di depan, satu orang di belakang untuk mengawasi. Pokoknya benar-benar maju dengan back-to-back sekali, deh!
Di saat itulah saya bangun.
Siapa sangka, mimpi aneh itu benar-benar analogis dengan apa yang akan terjadi pada perang besar 2 Febuari.



Inilah arti mimpi menurut Hikmat:

·         Kapal Perang merupakan zona pribadi peperangan kali ini—yang memang dirahasiakan Tuhan. Ini juga lumayan nyata dari buritan kapal yang kosong melompong, karena notabene, hanya tiga orang anak Tim Doa yang disuruh maju.

·         Pulau Industrial melambangkan teritori Allah yang sudah dipenuhi pabrik-pabrik musuh. Singkat kata, sudah dijajah Iblis. Benteng-benteng mereka berdiri teguh karena anak-anak Allah memberikan mereka surat pembangunan yang sah—seperti malas berdoa atau keterikatan pada suatu dosa, misalnya.

·         Musuh ukuran besar melambangkan bahwa perang kali ini sudah tidak main-main. Ini juga melambangkan betapa intensnya peperangan rohani setiap prajurit Tuhan di masa-masa akhir zaman ini.

·         Perlengkapan saya yang hi-tech menunjukan bahwa setiap prajurit Tuhan harus senantiasa meminta pembaharuan budi dan rohnya dan harus terus berlatih di dalam bimbingan Roh Kudus. Peperangan ini tidak main-main, dan saya tidak bisa membayangkan andaikata saat itu saya harus maju hanya dengan sebuah belati. Persiapan yang memadai sangat dibutuhkan dalam menjalankan komando Sang Raja.

·         Senjata yang diganti menunjukan dua hal: yang pertama adalah kearifan Tuhan terhadap mereka yang mau maju bagi nama-Nya, yang kedua adalah perlengkapan ekstra yang disediakan-Nya pada saat-saat genting. Tuhan kita bukan Allah yang cuek dan mengirim prajurit siap mati; Ia adalah Jehovah Jireh, Allah yang Memperlengkapi dan Menyediakan. Tentu saja, diberikan atau tidaknya ‘senjata’ heboh itu berkaitan dengan seberapa jauh Anda mau maju bagi-Nya.

·         Musuh yang sangat pasif di dalam kompleks industrial itu menyatakan kuasa Tuhan sekaligus strategi-Nya yang brilian. Ia di sini memberikan kami poin spesifik untuk terlebih dahulu mengikat musuh di dalam nama-Nya sehingga mereka tidak mampu memberikan perlawanan yang terlalu barbar. Bukan berarti tidak capek atau gaji buta, lho... Hanya saja, efek serangan baliknya diminimalisir.

·         Tidak adanya alarm yang berbunyi saat saya jelas-jelas membantai musuh menunjukan satu poin lagi: meminta Tuhan untuk menahan dan membutakan bala bantuan pasukan lawan. Ini berkaitan dengan Tulah Kegelapan yang akan kami pakai di hari itu seturut bimbingan Roh Allah. Penjabaran Tulah lebih lanjut kami tuliskan di bawah poin-poin ini.

·         Meitri yang tiba-tiba muncul dan beraksi nekad menunjukan aktivitas rohnya di Alam Roh. Dan memang benar, setelah kami konfimasi dengan orangnya, ia mengakui bahwa rohnya telah mendapat ‘gelitikan’ dari Tuhan mengenai perang kami dan ia pun berdoa perang di malam sebelumnya. Memang saat itu senjatanya belum di-upgrade seperti saya karena yang dikhususkan untuk maju hanya saya, Aloi dan Harvi... Tapi nyatanya, apa yang dilakukannya sungguh berarti dan membantu kami. Tambahan: ini juga menunjukan ‘kesadaran’ rohnya yang mulai peka—karena ia telah terbukti dapat menangkap sinyal alert dari kami bertiga tanpa pemberitahuan. Dan inilah yang dibutuhkan setiap prajurit Allah: roh yang peka.

·         Formasi yang dibuat saya, Aloi dan Harvi menunjukan garis besar taktik perang kali ini. Secara posisi tempur, Harvi dan Aloi memang berada di depan sebagai Frontliners. Sedangkan saya, sesuai dengan analogi mimpi, memang telah ditempatkan Tuhan menjadi Rear Guard—penjaga garis belakang. Strategi dan taktik sangat penting dalam peperangan rohani. Tuhan kita adalah Allah yang Merencanakan dan akurat dalam setiap gerak-gerik-Nya. Ia tidak akan melepas anak-anak-Nya tanpa modal strategi ataupun taktik tempur. Walau tentu saja, untuk melaksanakannya, sangat dibutuhkan iman.


Setelah analisa mimpi yang singkat ini, kami pun mulai bersiap-siap dan saling bertukar strategi yang didapat dari Tuhan. Seperti biasa, dalam perang dalam tim, Tuhan selalu memberikan poin dan petunjuk spesifik kepada setiap anak-anak-Nya. Sehingga, umumnya poin yang ditanamkan Tuhan kepada setiap individu berbeda namun saling berkaitan dan saling memvalidasi. Bahkan, waktu saya lagi pusing menyusun bahan rapat Tim Doa, Tuhan langsung menyambar, “Kamu tidak usah pusingkan poin ini, ini sudah diurus Harvi. Kamu fokus ke poin kedua dan ketiga saja.” Dan yang Ia katakan benar-benar terjadi. Harvi dan anak-anak Tim Doa lain yang ikut rapat adalah saksi hidupnya.
Ia benar-benar Allah yang mengerti fokus! Sama seperti zaman para rasul dahulu, di mana ada pembagian tugas di antara para rasul, sekarang pun Tuhan kita tetaplah Tuhan yang sama. Ia adalah Tuhan yang mengkhususkan Rasul Paulus untuk menginjili orang-orang non-Yahudi dan mengutus Petrus untuk fokus ke lingkup orang-orang Yahudi. Tuhan Yesus tetap sama; dahulu, sekarang, dan selama-lamanya, Amin.

Validasi : 1 Korintus 15:44, Markus 16:17-18, Ibrani 13:21, Roma 13:11, Matius 26:41, Efesus 6:18, Efesus 6:12.


—Bersambung... :p
[ Read More ]

Mission Possible - The Dream 1

Author : Felicia Yosiana Gunawan

1 Febuari 2012.

Saya, Bro Aloi dan Bro Harvi mendapatkan tugas super-edan dari JC beberapa hari sebelumnya. Tugas ini, yang Ia sampai delegasikan kepada Sis Gitta Diana karena kami masih tidak percaya, tergolong kelas berat dan nyaris mustahil. Apa tugasnya? Perang bertiga membantai sekitar seratus lebih jenis roh yang sedang mengusik Tim Doa, Komsel Sis Gitta, dan Indonesia juga.
Serius, ini kami tidak ada persiapan sama sekali kok disuruh perang? Hutang perang kami saja sama Tuhan masih menggunung, ini lagi tambahannya agak-agak tidak masuk akal...!

“Ini perang penting,” adalah satu-satunya yang Roh Kudus katakan kepada saya saat itu. Yah, saya waktu itu memang lagi dalam masa-masa setres pasca-perang satu minggu  sebelumnya. Sekedar info, seminggu sebelum tulisan ini ditulis, Tim Doa dan Komsel di Jogja mengadakan perang gabungan yang... ehem... Penuh warna dan tergolong barbar. Kelas berat sekali pokoknya. Dan berhubung saya saat itu memegang perang sebagai Tembok Luar, semua serangan musuh terhadap kami pasti kena ke saya duluan. Bisa Anda bayangkan sekarang betapa gilanya luka-luka saya setelah perang. Tidak tanggung-tanggung, saya langsung uring-uringan dan bad mood selama sekitar lima hari setelahnya. Baru setelah saya mendapat tugas inilah saya ‘bangun’ dan siap-siap dengan kelabakan.
Saya bingung sekali saat pertama kali disuruh berperang dengan tiga personil. Apa yang kami akan lakukan? Kemarin saja perang bertujuh lebih (belum ditambah bala bantuan dari Komsel dari Jogja) kami babak belur dan masih hutang. Ini ada apa lagi?
Rupanya jawabannya muncul dari Tim Doa sendiri.

Setelah Hikmat mencerahkan pandangan saya—yang baru galau berhari-hari—saya baru menyadari bahwa baik Tim Doa dan Komsel sedang diserang besar-besaran. Itu semua nyata sekali dari mood teman-teman TD yang lagi tidak karuan, perseteruan, serangan mimpi buruk dan bahkan ancaman perpecahan dalam TD. Dari sisi Komsel Sis Gitta di Jogja, mereka sedang mengalami serangan beruntun berupa kecelakaan, serangan fisik dari roh-roh jahat dan hal-hal serupa. Bahkan di Alam Roh, saya dan Harvi sudah melihat keadaan yang sangat mengenaskan... Beberapa prajurit TD ada yang sudah membuang pedangnya dan duduk sambil bengong, ada yang lagi asyik joget sendiri tanpa memikirkan teman di sebelahnya, ada juga yang masih babak belur pasca-perang dan sedang bertarung dengan kewalahan. Oke, ini cukup bikin saya tambah bete.
Di situlah Roh Kudus memberikan Hikmat, bahwa kalau saat itu ada yang harus bertahan di garis pertahanan terakhir, itu adalah kami bertiga: Harvi sebagai Komandan Tim Doa, Aloi sebagai Wakil Komandan, dan saya sebagai Pilar Fondasi TD rangkap Hansip...

“Cepat bangun!” gebrak Tuhan dengan kencang pada tanggal 30 Januari. “Kamu mau biarkan Tim ini hancur? Siapa lagi yang akan berperang kalau bukan kamu?! Maju!!!”

Teriakan itu rupanya juga dirasakan oleh Harvi. Dan baru di situlah kami sadar bahwa perang ini adalah perang demi saudara-saudara kami sesama wajib militer Allah sendiri. Dan berhubung Hikmat mengatakan untuk merahasiakan perang ini dari anak-anak Tim Doa lainnya, kami pun tutup mulut. Saya hanya mengedarkan sms yang isinya adalah ajakan untuk meminta proteksi lebih dan untuk bergumul dengan Tuhan untuk minggu-minggu ini. Setidaknya, saya berharap mereka akan lebih dahulu bangkit sendiri dari keadaan mengenaskan yang saya lihat sebelumnya. Baru deh urusan pengepungan si jelek diurus lewat perang.
Dan setelah dua hari lebih saya bersiap ini dan itu, dibuat berlari dari satu tempat ke tempat lain oleh Roh Kudus dan ghostbusting besar-besaran di rumah, Tuhan memberikan saya sesuatu. Sebuah mimpi yang menjadi kunci perang 2 Febuari 2012.


Latar mimpi itu adalah sebuah kapal perang yang canggih, seperti dalam game perang tembak-tembakan yang hi-tech. Saya ingat keadaan saat itu: langit cerah, dan saya yang lagi bergila-gila ria dengan musuh yang mengejar-ngejar kapal. Saya saat itu berada di buritan kapal perang yang ‘plong’. Tidak ada orang di buritan selain saya, dan saya dapat melihat musuh-musuh aneh berupa monster-monster berbentuk gurita besar sedang melayang dengan cukup cepat ke arah kapal. Saya, dalam balutan baju militer hi-tech dan bersenjatakan machine gun, menembaki mereka dari jarak yang lumayan jauh.
Tapi sulit sekali menumbangkan satu saja dari mereka! Mereka besar, dan pertahanannya tebal sekali. Saya harus menembaki mereka dengan tembakan beruntun selama kurang lebih dua menit baru mereka mati. Itu juga mati satu tumuh seribu. Saya makin panik, tahu pasti bahwa persenjataan saya sangat minim untuk musuh besar jenis ini.

Tiba-tiba, sebelum saya sempat komplain, Tuhan Yesus muncul. Saya tidak ingat melihat muka-Nya, tapi Ia saat itu seperti dalam rupa kabut terang yang tidak berbentuk. Ia mengambil senjata lama saya dan menukarnya dengan sebuah laser canon super-besar yang sampai harus dipasang di bahu saya biar bisa dibawa-bawa. Dan ini sungguh luar biasa! Dalam dua tembakan saja, saya bisa menghancurkan musuh yang ukurannya jumbo-jumbo! Keadaan segera berbalik dengan cepat.
Adegan berganti dan rupanya kapal perang yang saya tumpangi telah sampai dengan selamat ke daratan. Saya ingat bahwa daratan itu adalah pesisir sebuah pulau besar yang kelihatannya seperti kompleks perindusterian yang sangat besar dan rumit petanya. Saya tidak melihat ada orang lain ataupun musuh di situ. Maka, berjalan hati-hati dan sembunyi-sembunyi di setiap blok, saya mulai menyusuri pulau sepi itu.

Rupanya saya tidak sendirian. Ada musuh sejenis monster gurita berkepala otak yang besarnya setara dengan mobil mini-bus. Monster-monster ini tapi agak aneh. Mereka tidak lagi terbang-terbang dan bergerak bebas seperti saat mereka mengejar-ngejar saya sebelumnya. Mereka melekat kepada dinding atau lantai pabrik. Ada juga yang melekat kepada persenjataan artileri besar di sana—spekulasi saya, untuk mengontrolnya. Saya pun segera mengarahkan senjata dan membidik mereka dari kejauhan, tetap berusaha tersembunyi. Dan bum... Satu tembakan saya lepaskan. Efeknya besar, dan lagi-lagi, hanya butuh dua tembakan untuk mengalahkan monster aneh ini.
Tapi ada yang aneh. Biarpun mendengar suara laser canon saya, tidak ada alarm yang berbunyi atau musuh yang segera mencari keberadaan ‘penyusup’ di pulau itu. Rasanya pulau itu benar-benar kayak industri mati. Tapi tentu saja, ini tidak benar. Saya melihat mata mereka bergerak-gerak, hanya saja mereka tidak bergerak dan tetap melekat pada tempatnya. Ada juga sih, monster-monster yang lebih kecil dari si otak-gurita dan bisa berjalan, tapi gerakan mereka lamban sekali dan ada polanya, jadi mudah untuk saya prediksi.

Di tengah-tengah misi saya memberantas monster di kompleks sunyi tersebut, mendadak saya menemui seorang saudari Tim Doa, Sis Meitri. Saya bingung, kenapa orang ini ada di sini...? Bukannya kami merahasiakan perang ini dari anggota TD manapun selain mereka yang dipanggil perang?
Pertanyaan ini terjawab belakangan saat saya bangun. Tapi di dalam mimpi analogis tersebut, Meitri datang dan membantu saya mengalahkan para monster dengan sangat barbar dan bersemangat. Walaupun persenjataan dan perlengkapannya tidak secanggih saya, ia benar-benar nekad dalam menjalankan misi. Kalau saya bergerak hati-hati dan sembunyi-sembunyi, ia jauh lebih sering lompat pagar dan main hantam one to one sama musuh. Padahal, kalau saya tidak membantu menembak musuh dari belakang, pasti butuh waktu lama untuk mengalahkan monster jumbo jenis gurita itu!

—Bersambung... :p
[ Read More ]

One Week Prayer - 3


Author : Aloisius Kevin

Hari Keenam

Pada hari tersebut, saya mendapatkan pokok doa untuk mendoakan orang-orang sakit. Tema doanya seputar kesehatan dan keluarga saya. Dan seperti yang sudah-sudah, saya mengambil posisi berlutut di tepi ranjang dan mulai mendoakan mereka.
Di tengah-tengah doa, rasa penasaran saya muncul dan saya mulai bertanya-tanya apakah yang akan Ia berikan kepada saya setelah doa ini. Alhasil, mulailah saya tidak berkonsentrasi pada pokok doa. Pikiran saya mulai melantur. Singkat kata, sisa doa itu saya lewati dengan rasa penasaran dan tidak tenang—sibuk mengspekulasi apa yang akan terjadi setelahnya. Ini tentunya, sangat berbeda dengan sikap doa-doa saya di hari-hari sebelumnya: di mana saya lebih fokus pada tema doa, bukan kepada apa yang akan saya dapat setelah berdoa.

Akhirnya, saya sampai pada penghujung doa. Dengan rasa penasaran yang tinggi, saya menanti-nantikan apa yang akan Tuhan berikan kepada saya. Namun setelah menunggu sekian lama, tidak ada yang terjadi. Mulai deh saya protes ke Tuhan, “God, Anda mau memberikan apa hari ini? Kok saya nggak melihat apa-apa?”

Tuhan akhirnya memberikan satu pengelihatan kepada saya. Saya melihat berbagai roh-roh yang mengikat keluarga saya dan menguasai rumah saya. Mulai dari roh kesombongan, kecemburuan, kekerasan, hikmat dunia, penghina, kekanak-kanakan dan pola hidup konsumtif. Semua roh-roh tersebut diberitahukan-Nya kepada saya melalui serangkaian gambaran yang berbeda-beda.
Saya, yang akhirnya, kurang puas dengan apa yang saya dapatkan, mula bertanya, “Kenapa Anda tidak menunjukan diri Anda lagi seperti kemarin? Kenapa saya dikasih pengelihatan yang jelek-jelek?”

Tapi syukurnya, otak saya yang kecil ini langsung sadar: ada yang tidak beres dengan diri saya. Saya ternyata telah menjadi seorang prajurit yang mengejar reward atau balasan...!
Di situ Tuhan langsung berbicara, “Baru sadar?”

Pembicaraan kami pun diakhiri dengan saya yang bermuka suram-cemberut sambil terus meminta maaf pada-Nya...


Secara tidak sadar ataupun sadar, kita sering berlaku seperti ini. Kita sering lebih antusias melihat ‘balasan’ atau hadiah terlebih dahulu saat mencari pekerjaan. Saya tidak bilang kita tidak boleh menerima ‘reward’, loh ya. Tuhan Yesus pun pernah berkata bahwa seorang pekerja layak mendapatkan upahnya, bukan? Namun, poin pentingnya adalah agar jangan menjadikan ‘balasan’ tersebut menjadi motivasi utama kita dalam melakukan pekerjaan. Kkarena jika demikian, kita akan malas dan jadi ogah-ogahan dalam menjalankan pekerjaan—terbuai duluan dengan iming-iming imbalan. Ini sangat berbahaya, apalagi dalam tema Pelayanan.
Bekerjalah karena Anda memang ingin memberikan sesuatu bagi Tuhan kita. Bekerjalah karena anda ingin memberikan sesuatu bagi Tuhan kita. Permulaan, proses, dan hasil pekerjaan kita layak untuk kita berikan bagi kemuliaan-Nya semata. Dengan begitu pula saya yakin Anda pasti akan dapat lebih mencintai proses pekerjaan Anda.
[ Read More ]