Lupa

Author : Aloisius Kevin

Pernahkan anda menghitung berapa kali Anda lupa dalam sehari? 3 kali? Atau bahkan 5 kali? Atau ketika sedang menghitung hal ini, Anda justru lupa sampai di mana tadi Anda berpikir? Saya rasa tidak berlebihan kalau saya mengatakanbahwa salah satu kelemahan manusia yang paling awam adalah lupa. Atau tepatnya, lupa telah menjadi salah satu kebiasaan kita.
Saya berani jamin: di dalam semua kegiatan manusia pasti ada lupa-lupanya, paling tidak 30% lah. Tidak ada tuh manusia yang sejak lahir sampai sekarang hidup ingat segala-galanya dengan detail. Mulai dari cleaning service sampe CEO pun saya jamin pasti pernah lupa. Lagipula kan memang tidak lucu juga kalau kita ketemu dengan orang yang ingat waktu dia berenang di dalam kandungan...
Dan pastinya, juga tidak ada orang yang pelupa dari lahir.

Dalam kasus saya, karena begitu seringnya saya lupa, saya sering bertanya-tanya sendiri,  “Kenapa ya kita bisa sampai lupa?”

Dari lupa ketemuan, lupa di mana menaruh barang, sampai lupa tutup kulkas, semua saya pernah alami. Kenapa, ya? Hmm... Rasanya bawaan dari lahir jelas nggak mungkin. Dan kayaknya tidak mungkin juga deh Tuhan menciptakan manusia yang memang pelupa dari Sono-nya.

Tapi coba lihat satu fakta ini: di perjanjian lama kita, bukankah banyak menemukan kejadian di mana bangsa yang diurapi Tuhan justru lupa siapa Tuhannya? Aneh, bukan?
Yah... Saya tidak tahu bagaimana menurut Anda, tapi buat saya, ini aneh. Jelas-jelas mereka ini sudah dikasih makan Tuhan, sudah dikasih tempat tinggal, dikasih kebebasan dan juga dijamin hak-haknya... Tapi kok masih bisa melupakan yang memberikan itu semua. Apakah mungkin, seperti di sinetron-sinetron, mereka kesetrum lalu langsung amnesia semua?
Jelas bukan itu alasannya. Yang saya temukan, manusia lupa Tuhan karena mereka tidak fokus.


Analoginya seperti ini: Anda sedang mengikuti ibu Anda di sebuah mall yang ramai.
Karena saking ramainya mall tersebut, Anda akhirnya terpisah dan terpaksa mengikuti ibu Anda dari belakang dalam jarak tertentu. Jika Anda berfokus terus pada punggung ibu Anda, maka tentu saja Anda akan dapat mengikutinya kemanapun ia pergi. Mau ia tiba-tiba belok ke toko buku sampai toko sendal, pasti Anda dapat membuntuti beliau.
Namun jika Anda berfokus pada sale-sale atau diskon yang terdapat pada toko-toko di mall dan melepaskan fokus Anda diri ibu Anda, ada kemungkinan besar bahwa Anda akan tertinggal. Dan kemungkinan yang lebih parah: kehilangan beliau di tengah keramaian. Implikasinya, sale-sale tersebut mungkin tampak catchy di mata Anda, tapi itu semua akan menjauhkan Anda dari sang ibu.


Nah, ini sama halnya dengan mencari Tuhan di dalam kehidupan kita. Kalau kita terus berfokus kepada Dia, otomatis kita akan terus mengikuti Dia. Ia melangkah ke arah manapun, kita akan tetap dapat mengikuti-Nya karena mata kita tertuju pada punggung-Nya.  Tapi, jika kita mengarahkan fokus kita ke arah 'kerumunan' dan hal-hal tidak penting yang lain, tentu saja kita akan kehilangan arah jalan-Nya dan akhirnya malah tersesat.
Namun jangan takut; Ia selalu siap untuk menemukan kita, sekalipun kita tidak sengaja masuk ke tempat sampah atau nyasar ke toko-toko aneh selama perjalanan. Karena bukankah Tuhan justru tidak pernah melupakan kita—tapi cenderung kita yang melupakan Dia? Satu hal yang saya tahu selama ini, latihan apapun yang saya alami dan seberapa besar tantangan saya, Dia tidak pernah sekalipun berpaling dari saya.

Lalu kenapa sering kali kita merasa Tuhan memaksakan dan meninggalkan kita?

Jawabannya karena Ia ingin melatih kita dan membuat kita tahu bahwa Dia menemani kita.
Mari saya jelaskan pelajaran yang saya dapatkan dari Roh Kudus. Belajar bersama Tuhan sama seimpelnya saat kita belajar bersepeda roda dua. Akan ada tiga proses:

1. Akan ada saatnya kita dipegangi dan diseimbangkan Tuhan terus.
2. Akan ada saatnya kita dilepas sedikit, namun tetap dipegangi oleh-Nya saat kita mau jatuh, agar bisa menyeimbangkan diri.
3. Dan akhirnya, ada saat nya kita dilepaskan-Nya secara total, namun dengan tetap dijaga dari jarak tertentu, agar kita tahu bagaimana cara yang benar untuk bersepeda sendiri.

Namun perhatikan baik-baik analogi di atas... Dari ketiga hal tersebut, ada satu faktor yang tidak pernah berubah: yaitu kenyataan bahwa Tuhan Yesus selalu menemani kita!
Ketika kita jatuh, Ia selalu siap untuk membalur luka kita dan membangkitkan kita lagi.  Pilihan kita di akhir akan menentukan apakah kita mau atau tidak disembuhkan-Nya. Bukankah semua pelajaran dan luka-luka yang kita dapat mampu membantu kita untuk ‘bersepeda’ dengan lebih baik? Bukankah hal itu lebih menyenangkan dibanding naik sepeda roda tiga terus menerus? Lagipula, mau sampai kapan kita terus menerus “disuapi” sama Tuhan? Sebagai manusia, saya sih tidak mau dianggap sebagai anak-anak terus menerus...
Manusia sering berkata, “Tuhan... Anda di mana? Kenapa Anda meninggalkan saya?”
Namun, bukankah jauh lebih baij jikta kita berkata, “Tuhan selama ini SAYA kemana? Jangan biarkan saya menjauh dari Anda...Tolong dong, balut luka-luka saya supaya saya kuat lagi berjalan bareng Anda.”

Sesimpel itu, bukan?


Maka, kesimpulan yang bisa saya ambil, adalah bahwa manusia memang terbukti pelupa, terutama dalam mencari Tuhan. Kalau kita kilas balik, sebenarnya kenapa sih kita mencari Tuhan? Apa alasannya? Apakah karena Dia adalah Allah—jadi memang kewajiban manusia untuk menyembah dan mencari-Nya? Atau karena kita ingin berkat-Nya melimpah dalam hidup kita? Atau mungkin, kita hanya mengikut Tuhan agar diterima komunitas tertentu...? Yang lebih parah dan esensial, sebenarnya kita kenal Yesus secara pribadi tidak, sih?
Memang Tuhan adalah Tuhan yang penuh kasih dan mengasihi pendosa. Ia juga memberikan segala apa yang kita butuhkan untuk memenuhi kebutuhan kita... Tapi apakah kita hanya mencari Tuhan untuk alasan-alasan kedagingan? Apakah justru kita mencari wajah-Nya semata-mata karena kita benar-benar mencintai persona-Nya?

“Even a King wants to be loved for who He is, not for what He has,” adalah kata-kata-Nya yang pernah Ia sampaikan melalui salah seorang saudari saya.

Ya, saya tahu memang tidak mudah meninggalkan kebiasaan ‘lupa’ kita, terutama lupa akan fokus dan tujuan kita dalam hidup mencari Tuhan. Tapi, setidaknya berusaha untuk menghilangkan kebiasaan tersebut lebih baik daripada bengang-bengong, bukan? Saya sih amit-amit ‘kesetrum’ dan ‘amnesia’ melulu... :p


Ulangan 4:9 
Tetapi waspadalah dan berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan hal-hal yang dilihat oleh matamu sendiri itu, dan supaya jangan semuanya itu hilang dari ingatanmu seumur hidupmu. Beritahukanlah kepada anak-anakmu dan kepada cucu cicitmu semuanya itu.
[ Read More ]

What was Lost

Author : Benedictus Harvian

Setelah sekian lama nama saya tidak pernah terpajang sebagai Author pada postingan blog, akhirnya saya menulis kembali...  Kenapa? Jawabannya panjang. Intinya, saya baru saja bangkit dari keterpurukan jangka panjang yang mungkin dapat dibilang pergumulan terparah saya selama ini dalam kehidupan dalam Kristus. Yah, bukan yang TERparah, saya tahu. Tempaan akan terus datang dengan level yang lebih tinggi lagi seiring kita juga ‘naik level’. Sesuai dengan yang Petrus tuliskan di Filipi 3:12-14, kehidupan rohani tiap anak Allah adalah penempaan dan pendewasaan yang terus-menerus.
Apa yang dikatakan 1 Korintus 10:13? Allah tidak membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita. Implikasinya: semakin kita bertumbuh ‘kuat’ dalam Dia, Allah akan mengizinkan pencobaan yang lebih berat lagi untuk kita tanggung—yang, tentu saja,  bertujuan untuk menempa kedewasaan kita.
Tuhan memiliki ratusan gelar dan nama yang agung dalam Kitab Suci. Di antaranya, ada satu gelar yang secara khusus saya sukai dalam kaitannya dengan apa yang sedang saya berusaha bagikan: ‘Penjunan’ (Yeremia 18:1-6). Kita adalah tanah liat dan Tuhan adalah Penjunannya. Dibentuk menjadi suatu bejana, dihaluskan, dibakar dalam api, dipecahkan lagi dan dibuat ulang, semuanya bertujuan untuk satu hal: untuk menghasilkan bejana yang indah.
Yah, sekian pengantarnya dan saya akan masuk pada testimoni saya.


Selama kira-kira 7 atau 8 bulan Tuhan membuat saya bergabung dalam Tim Doa, Ia ‘menggenjot’ iman saya dengan intens. Berbagai macam kejadian menempa saya dengan cara yang, well, menyakitkan. Lebih dari sekali saya sempat berpikiran untuk lari dari semua itu. Hanya karena Ia dengan rendah hati bersedia menjadi Kekuatan bagi saya sajalah, saya masih dapat mempertahankan pijakan saya sekarang. Adapun, kalau melihat ke belakang.. Dengan yakin saya dapat berseru lantang bahwa saya tidak menyesali itu semua. Intimasi dengan Tuhan, hak untuk melayani-Nya lebih dalam lagi, dan pengenalan akan Pribadi-Nya yang ajaib sudah menjadi hadiah yang sangat sangat lebih dari cukup! Tambah lagi, kesempatan untuk berbagi kasih dengan saudara-saudari seperjuangan di Tim Doa dan mengenal karakter mereka yang unik-unik.
Pada rangkaian perjalanan itu, ada satu titik puncak yang, bagi saya, cukup menentukan. Beberapa bulan lalu, Tuhan membawa kami ke level peperangan rohani yang semakin intens (buahnya dapat anda lihat pada testimoni-testimoni perang kami). Ia menentukan sendiri posisi dan peran kami dalam perang. Ada yang menjadi Frontliner, Left Wing, Right Wing, dan Rear Guard (Mungkin pada kesempatan lain saya akan menceritakan hal ini lebih banyak. Yang jelas kuasa pengaturan-Nya sungguh ajaib!)

Posisi saya? Frontliner. Ah, saya bersyukur pada Tuhan atas peran tersebut! Saya merasakan bahwa roh saya memang bersorak atas kesiapan sebagai respons. Lalu, apa masalahnya? Well... Selain mendelegasikan posisi tersebut, Ia juga menambahkan titel lain buat saya: Commander.
Dan reaksi saya?

“GYAAA!!! APA-APAAAAANNN, TUHAANNN!?? #$*@!+$##...!!!”

Yah, mungkin ini pembelaan diri, tapi.. Saya itu orang super plegmatis, dan introvert, jauh banget dari gambaran seorang pemimpin deh, pokoknya! Memang sifat serba tertutup saya sudah kena pangkas tanpa ampun sama Tuhan dalam beberapa tempaan telak—wajar! Gimana mau nyebarin Injil kalo kita sendiri tertutup...? Lagian, nggak banget kalau anak Tuhan punya cap yang terlalu negatif di mata orang. Saya sangat menyadari itu dan sudah bertekad untuk berubah sebagaimana Tuhan menghendaki diri saya. Tapi, tetap saja! Jadi Commander itu terlalu... Terlalu mustahil...!


Saat itu, lebih karena ketidaktahuan akan tugas-tugas seorang Komandan, saya membiarkan hal itu lalu begitu saja. Saya bertindak sesuai kapabilitas saya, menurut pada apa yang Tuhan suruh saya sampaikan kepada teman-teman, dan berkontribusi sebatas kemampuan saya. Namun, bagi Tuhan itu tidak cukup! Dan saya mendapat kesadaran penuh akan hal ini setelah kontek dengan sis Gitta Diana.
Sekedar info, Sis Gitta menjabat sebagai Commander di komselnya. Tuhan mendidik dengan berbagai macam cara—salah satunya adalah membiarkan kita ‘ditampol’ lewat orang lain secara tidak langsung. Dedikasi dan komitmen Sis Gitta sebagai Commander menyadarkan saya betapa gabut-nya (gaji buta--red) saya sebagai Commander juga. Malah, yang makin saya sadari ketika saya masih meragukan apakah memang saya benar-benar menduduki peran itu adalah pertanyaan beliau apakah saya adalah Commander di TD. Dengan masih ragu, kira-kira saya menjawab, “Yah... Tuhan memang pernah bilang gitu sih sama saya.. Memang kenapa, sis?”

Jawabannya mengagetkan saya, “Saya memberanikan diri nanya begitu karena uda ada dugaan kuat, brother... Soalnya keliatan banget sih dari spesifikasi roh brother! Yang mata rohani saya lihat seperti itu.”

Karena sekian bulan saya sendiri ga nyadar-nyadar juga, Tuhan sampai mengambil jalan memutar untuk membiarkan hamba-Nya dari penjuru pulau yang berbeda, yang notabene tidak pernah bertemu dengan saya dan hanya kontek lewat facebook dalam waktu yang singkat, untuk menyadarkan saya secara tidak langsung! Itu cukup untuk membuat saya mengambil titik balik. Saya mau menjalankan apa yang Ia titahkan kepada saya sesuai dengan apa yang Ia kehendaki, tanpa mangkir-mangkir tidak jelas lagi!
Teman-teman Tim Doa, terutama sang Hansip, Feli, dengan setia membantu saya dalam proses perubahan karakter ini dan bersedia maklum ketika saya gagal. Sungguh, sokongan dari mereka sangat tidak ternilai! Bagaikan siklus yang berulang-ulang, saya semangat 45 untuk mendalaminya, saya merasa tertekan, saya jatuh, saya mangkir dan demo sama Bapa untuk menggantitugaskan saya, dan saya bangkit kembali. Tak terhitung berapa banyak itu berulang—namun hebatnya Tuhan kita, saya dapat mengambil pelajaran dari setiap jatuh-bangunnya.

Jujur saja, secara roh, untuk memimpin saat jalannya peperangan, saya tidak akan terlalu banyak protes. Tapi, yang menjadi problem itu malah bidang secara ‘jiwa’-nya, yang non-roh! Keharusan untuk memimpin jalannya rapat, mengatur dan mendelegasikan tugas dalam projects non perang kepada teman-teman, menjadi pemimpin diskusi. Semua itu membuat saya stres! Saya sama sekali bukan manusia depan layar...
Satu kejadian yang menentukan adalah saat saya sedang sulky-sulky-nya tentang peran ini dan Roh Kudus dengan tegas mengundang saya untuk beradu argumen dan menyelesaikan ini semua, lalu saya dibawa ke Takhta Bapa untuk ‘disidang’. Bayangkan! Disidang di depan Takhta Bapa dengan Penghuni Takhta sebagai saksinya! Atas tuntutan Tuhan, saya pun mengeluarkan semua uneg-uneg dan pendapat saya saat itu juga...

Counterattack Tuhan sungguh simpel nan mengagumkan—hanya beberapa baris percakapan yang Ia butuhkan hingga saya disadarkan untuk terus maju saja tanpa menganggap itu semua menyulitkan, dan bahwa semua itu sebenarnya simpel. Ya, mekanisme pertahanan diri kita saja yang membuat hal simpel jadi ribet, dan itu terjadi ketika kita menolak hal tersebut. Terima saja dan melangkah, kata-Nya. Yah, di situ saya menandatangani surat kontrak untuk maju sebagai Commander sebagaimana perintah-Nya, keputusan tak bisa ditarik lagi yang telah dimeteraikan.
Atas dasar itu saya melangkah maju. Namun, kembali situasi terasa begitu menekan. Krisis ini dan itu membutakan pandangan saya, api penempaan terasa dalam panasnya yang tertinggi. Saya sadar, Tuhan sudah tidak main-main lagi. Lolos tempaan menghadiahkan kenaikan level, dan gagal atasnya mengakibatkan kejatuhan yang sangat dalam.

Hampir satu minggu saya uring-uringan. Tuntutan untuk melakukan ini-itu secara internal di TD terasa sangat di luar kemampuan saya. Rentetan to-do list untuk improvisasi peran sebagai Commander membuat saya sangat ingin lari, kalau boleh jujur.
‘To live by faith and not by feelings. To obey the God in everything I do.’
Dalam keputusasaan, saya terus berseru mengingatkan diri sendiri akan kata-kata itu. Rasanya, api rohani saya hampir mati..
Saya memaksa diri untuk menghabiskan waktu berjam-jam untuk worship dan menonton video-video rohani, namun ‘api’ saya tetap tidak tersulut. Kekosongan mendominasi semuanya, dan saya hampir kembali ke lifestyle lama saya. Kalau ditanya alasannya... Saya merasa ‘kehilangan’ sesuatu. Saya kehilangan motor penggerak kehidupan saya. Ingatan bahwa saya masih punya banyak list mustahil yang tidak sanggup saya lalui sangat menekan saya.
Sampai setelah sekian hari saya hampir kalah total dalam pergumulan melawan daging ini, Tuhan membangunkan saya dengan cara yang tidak terduga. Saya tidak usah jabarkan detilnya, pokoknya Tuhan menyodorkan tugas sangat mendesak dan berat yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya! Andaikan saya seorang tentara yang lagi enak-enakan nyantai mangkir dari tugas, tiba-tiba negara saya kena serang. Spontan saya mau tidak mau mengakhiri kemangkiran saya demi membela nyawa orang-orang se-negara saya, bukan? Kurang lebih seperti itu efek dari penugasan malam tersebut.

Yah, api saya kembali berkobar dan saya ber-rekonsiliasi dengan Bapa saat itu juga. Detik itu juga saya sadar apa yang hilang dari diri saya: kobaran api untuk melayani-Nya!
Hal kecil namun berharga yang Tuhan berikan sebagai Hikmat kepada saya esok harinya, yaitu bahwa selama ini saya hanya memandangi to-do list itu secara keseluruhan dan hanya mengeluh ‘susah, gak mungkin bisa, mustahil’. Dan... Apa yang dianalogikan Roh Kudus ketika kita mulai melangkah tanpa mengeluh, menerima semuanya apa adanya? Kita akan berfokus pada satu per satu poin pada list dan menjalaninya, mencentrangnya bila poin itu sudah tercapai.
Sekian sharing pribadi dari saya.

Hm... Rasanya testimoni saya selalu mengenai kejatuhan saya, ya... Memalukan? Biar sajalah... Semoga bisa menjadi berkat.. :p
[ Read More ]

Mission Possible - Winged Mounts

Author : Felicia Yosiana Gunawan

Katak dan belalang berwarna hijau dan cokelat segera mendominasi pemandangan Alam Roh. Saya bergidik jijik dari atas kuda. Memang sih, mereka tidak nempel-nempel sama kami, tapi tetap saja saya agak bete. Maklum, saya punya fobia serangga yang lumayan parah. Bayangkan... Melihat kecoa ukuran mini dari jarak sepuluh meter saja saya bisa salto-salto sambil berteriak kalap. Syukur sejuta syukur roh saya tidak fobia serangga. Kan nggak lucu kalau saya yang tewas saat para belalang itu membanjir melewati barisan kami.
Dengungan lebah segera berkurang, dan kami mulai bisa bernafas lega. Tapi ‘pembersihan’ belum selesai, benteng kami masih disusupi para roh najis dalam bentuk-bentuk aneh. Tidak usahlah saya perjelas seperti apa, yang jelas cuma satu: mana bisa kami bertempur dengan efektif dengan benteng yang kebobol musuh?

“Doa pertahanan dan penyucian benteng!” teriak saya.

Harvi dan Aloi juga rupanya telah mendapat perintah sama dari Roh Kudus dan kami pun mulai bergerak. Pertama-tama kami meminta Roh Kudus untuk mengikat roh-roh pembobol yang sedang asyik berkeliaran di dalam benteng. Saat itu juga saya melihat rantai perak yang segera menjurus di dalam benteng, di setiap koridor dan pintu interior kastil pertahanan kami, dan membelenggu si jahat yang mulai berteriak-teriak. Dan saat kami mematahkan, menghancurkan dan membakar kuasa kegelapan mereka di dalam Nama Tuhan Yesus yang Agung, saya melihat rantai itu menyala dalam kobaran api seraya menjerat mereka sampai jadi debu. Saya tahu roh tidak bisa mati, tapi jangan tanya saya ke mana mereka dideportasi Roh Allah. Yang penting benteng bersih dulu.
Singkat kata, dalam waktu sekitar sepuluh menit benteng kami sudah mulai kembali higenis. Tentu saja, Darah Yesus lebih dari apa yang kami butuhkan untuk menyucikan benteng rohani tersebut dari dalam. Dan sebelum kami sempat tahu apa yang akan diisukan Roh Kudus, tiba-tiba hujan besa rmengguyur, seakan-akan itu adalah sinyal bahwa: “Bersorak-sorailah dan menggempur sekarang! Tetangga nggak bakal komplain!”

Tertawa puas, kami pun segera mengambil posisi untuk maju bertempur kembali. Agak sulit, mengingat status kami di Alam Roh itu masih dikepung dari segala penjuru. Pengelihatan-pengelihatan kami masih agak tumpang tindih, dan pujian penyembahan kami agak macet pada awal sesi penyerangan kedua ini. Tapi kemudian saya mendapatkan suatu pengelihatan yang membuat kami digampar untuk segera bangun: saya melihat Sis Gitta Diana—saudari dari Jogja di dalam Kristus—sedang menghalau bala bantuan musuh di garis belakang! Saya sempat melihat beliau bertarung dengan fierce dan gigih di tempat, menjaga agar tidak ada roh-roh jahat yang membobol garis pertahanan dan membacok di punggung kami.
“Kita nggak boleh sia-siakan usaha orang,” komentar roh saya datar, sengaja bermaksud untuk terdengar sarkastis. “Apa loe mau ‘dilindungi’ terus dan nggak bisa berkontribusi? Loe udah diutus perang, meeen... Cupu amat kalo loe setres sama kroco-kroco kecil ini? Bukannya ada JC yang super-gede itu dalam barisan loe?” Kira-kira perkataan seperti itulah yang ditodongkan roh saya kepada diri sendiri supaya terpompa untuk maju lebih gigih lagi.

“Oke,” sahut kesadaran pikiran saya dengan nada menantang. “Jadi sekarang Tuhan mau kami gimana? Kami harus gimana supaya bisa menerobos barisan hitam-hitam nan tebal ini?”

Jawabannya langsung tiba: dalam waktu kurang dari sedetik, pengelihatan mengenai sayap dikirimkan kepada saya. Oiya, yah... Kuda-kuda perang kami kan sudah diberikan sayap seminggu yang lalu sama Tuhan, kenapa nggak diklaim sekarang? Batin saya.

Sebelumnya, biar saya curcol sedikit soal sayap ini. Iyep, sayap. Kuda-kuda kami telah diperlengkapi Tuhan dengan sayap-sayap yang unik menurut ciri khas penunggangnya masing-masing. Waktu saya mendapatkan pengelihatan itu untuk yang pertama kali dan saya bertanya “buat apa?”, Tuhan hanya menjawab, “Peperangan bakal tambah intens. Kamu butuhkan ini.” Dan setelah saya coba konfirmasi ke Komsel Perangnya Sis Gitta Diana di Jogja, ia mengiyakan apa yang saya dapatkan; komselnya telah terlebih dahulu diberikan pengelihatan dan validasi soal pemberian sayap kuda itu beberapa hari sebelumnya. Well, Dia memang Allah yang sangat peduli dengan bukti dan pembenaran...

Saya segera memberitahukan hal ini kepada Aloi dan Harvi, yang segera mendapat lampu hijau dari Roh Kudus untuk menggunakan fasilitas baru ini. Saya sempat melihat dua sampai tiga kali kalau sayap kuda saya itu terbuat dari api. (Aneh-aneh deh sayap kuda-kuda kami... Bahkan ada yang sayapnya berupa gelombang listrik statis.)
“Kami klaim sayap-sayap yang telah diberikan Tuhan kepada kami!”

Dan, bum... Kami semua lepas landas dengan bombastis.

Sayang sejuta sayang, momen heroik ini harus dirusak fakta bahwa kami nggak biasa terbang. Jadi selain merasa agak jetlag di dunia nyata, terbang kami naik turun dengan canggung seperti capung yang sayapnya lepas satu. Rasanya kayak baru pertama kali disuruh mengemudikan pesawat terbang! Sangat konyol, kalau nggak mau dibilang memalukan. Tapi serius, ‘terbang’ itu menguras tenaga, iman dan energi roh. Berulang kami doa harus ‘diperbaiki’ karena terbang kami yang nggak stabil dan pengelihatan kami yang terlalu bikin mabok. Norak abis, deh pokoknya...! Benar-benar mikjizat kami tidak jatuh dari kuda atau justru nyangkut di benteng musuh.

Tapi seperti saat kami baru pertama kali mendapat kuda dan merasa canggung di atasnya, tidak dibutuhkan waktu lama untuk membiasakan diri. Memang sih, momen-momen terbang kami singkat sekali, cuma sekitar dua sampai tiga menit saja, tapi itu benar-benar membawa perubahan luar biasa! Rasanya menyerang dari atas itu jauh lebih gampang, dan menyenangkan sekali rasanya bisa terpisah dari tanah yang masih dipenuhi belalang dan katak...


Validasi : Mazmur 139:9, Yesaya 40:31, Yoel 2:1-11, Ibrani 13:21, 1 Korintus 15:44.


—Bersambung... lagi.
[ Read More ]

Mission Possible - Against the Odds

Author : Felicia Yosiana Gunawan

Setelah satu malaman saya berdoa meminta proteksi dan kekuatan secara bombastis, akhirnya saya menutupnya dengan mengatakan, “Maaf ya, Bapa, saya cerewet...”

Bapa tersenyum geli. Ada kehangatan yan gmenjalar dari senyuman-Nya. “Nggak apa, kok.”

Saya merasa agak kurang sopan telah membombandir Beliau dengan sederet ‘tuntutan’. Jadi, untuk menyeimbangkannya sedikit, saya bertanya, “Apa yang Anda inginkan untuk besok?”

Senyum Bapa tambah lebar dan antusias. “Proklamasikan kebesaran Nama-Ku! Majulah! Jangan khawatir dengan penyertaan-Ku!”

Sebelum saya sempat membalas, Tuhan Yesus muncul di samping saya. Ia SANGAT besar! Kira-kira... seratus juta kali saya. Ia sedang mengendarai kuda putih yang telah berbalutkan baju zirah. Dan Tuhan Yesus sendiri mengenakan baju zirah emas! Betapa luar biasanya Jehovah Tseaboth—Ia ikut maju bersama para prajurit-Nya!
Menangkap antusiasme saya, Tuhan Yesus tersenyum dan menoleh kepada saya seraya berderap pelan. “Daughter, daughter, are you ready?”

Saya pun hormat sambil nyengir, lalu undur diri dari Takhta Bapa. Memasuki 2 Febuari dengan sederetan kejadian aneh, api peperangan pun akhirnya disulut tinggi-tinggi di Alam Roh.


Pagi 2 Febuari pun datang. Saya bangun sekitar jam 10 A.M... Maklum ya, saya benar-benar harus istirahat panjang untuk mempertahankan stamina. Tuhan baik sekali memberikan saya istirahat sepanjang itu di hari-hari insomnia saya.
“Pagi, pagiiiii,” sapa saya setengah tidur setengah semangat pada seluruh isi rumah—para malaikat perang yang telah berjaga di dalam dan sekitar rumah saya dan tentu saja, Tuhan sendiri.

Mereka semua menoleh serempak dan tersenyum. “Siang,” koreksi mereka serempak.

Saya tertawa.

Setelah sarapan dan bersiap-siap untuk Saat Teduh dan briefing terakhir di hari itu dengan Tuhan secara personal, kembali sms dari Harvi masuk. “Doa, doa, doa!” isi pembuka smsnya. “Ada badai yang berusaha memadamkan api peperangan kita—gue dan Aloi udah kena. Ini gue bangun dengan badan kayak mau flu. Tapi entah kenapa, api loe tetap gede, big sis...”

Hmm... Apa saya nggak kepengaruh badai karena saking cueknya, ya? Atau malah terlalu udik dan kurang persiapan...? Ah, bodo amat lah. Yang penting, badai ini harus segera ditangani. Tapi bagaimana caranya, ya?

“Markus 4,” bisik Roh Kudus.

Saya menurut, dan segera membuka pasal yang Ia diktekan. Dan... Saya nyengir lebar saat menemukan judul perikop yang saya butuhkan: “Angin Ribut Diredakan”. Yeah! Tuhan kita memang keren! Dan tentu saja, saya pun langsung melakukan apa yang telah Ia contohkan: menghardik badai itu. Dan... pengelihatan memvalidasi bahwa badainya telah surut. Saya segera menyebar sms kepada Harvi dan Aloi untuk melakukan hal yang sama.
Akhirnya, jam yang ditunggu-tunggu datang. Kami bertiga berkumpul, dan entah kenapa, kami kalem sekali. Sis Gitta, yang akan menjaga barisan belakang kami sementara kami maju berperang, yang malah nervous. Ia memang tidak diperbolehkan maju berperang bersama kami oleh Tuhan, alasannya adalah ia harus hemat tenaga untuk perang hari Sabtu. Jadilah ia ditempatkan Tuhan di garis belakang untuk menghalau bala bantuan musuh. Kesaksiannya akan kami masukan setelah testimoni ini.


Setelah mengawali dengan puji-pujian dan doa proteksi dan pengaktivan sekat Roh Kudus, kami pun mulai menggempur secara intens. Harvi, seperti perannya, melesat kencang ke depan dan membuka barisan. Semua yang terjadi pada awal benar-benar sesuai dengan Yoel 2 yang baru diberikan Tuhan kemarin! Yah, sesuai sampai kira-kira di pertengahan.
Setelah sekitar sepuluh menit kami menggempur pertahanan terdepan mereka, pengelihatan kami mulai bekerja dan kami melihat berbagai hal yang menjijikan. Rupanya para letnan dan komandan barisan musuh sudah mulai mengamuk dan bersiap menerjang. Wah, kami harus gimana? Saya dengan jelas melihat Tauros, Anubis, dan sederet roh-roh pejuang tingkat wahid lainnya di hadapan kami, sedang berteriak-teriak menyusun barisan. (Info tambahan: roh-roh jahat memang bentuknya macam-macam. Jangan tanya saya kenapa, itu akan kami jabarkan sebisa kami nanti.)

“Tulah!” tiba-tiba kata itu menyeruak di benak saya. “Tulah, guys! Tulah! Kita bisa pakai Tulah untuk mengembalikan keadaan!” teriak saya di tengah-tengah.

Tentu saja, Tulah Allah! Senjata yang sangat mengerikan dan luar biasa ini kenapa tidak dipakai kalau surat pemakaiannya tertera di dalam surat prajurit kami? Roh Kudus segera memberikan approval dan kami mulai meminta arahan bagaimana cara menggunakan senjata keren ini. Dan Puji Tuhan, jawabannya mengalir melalui Hikmat dalam beberapa detik saja.
“Apa Tulah yang dapat mengacaukan dan melemahkan barisan musuh?” batin kami.

Dan jawabannya segera muncul: “Kegelapan!”

Segera saja kami bertiga mulai berdoa dan menyembah Tuhan, agar Ia mau menurunkan tabir kegelapan ke atas barisan musuh. Dan itu terjadi! Pengelihatan segera menghinggapi kami, memperlihatkan barisan musuh yang kacau balau karena mereka tidak dapat melihat. Memang musuh-musuh di barisan depan tidak terlalu terpengaruh dengan tulah itu—karena secara posisi mereka berhadapan langsung dengan kami, anak-anak Terang yang membawa Nama Tuhan.
Tapi rupanya mereka tidak mundur. Malah sebaliknya: serangan mereka tambah membabi buta. Bahkan lebih dari sekali para roh-roh penyelundup berupa imps dan shadows menyusupi benteng yang telah kami kunci. Dan itu benar-benar menambah kerjaan kami...! Kok bisa pada masuk, sih? Bukannya benteng kami sudah dikunci dan disekat oleh Nama Tuhan?

“Lebah,” kata roh saya dan mulut saya bersamaan. “Mereka menggunakan lebah untuk membuat celah kecil dan masuk melalui retakan-retakan mini...! Kita mesti gimana?”

Keadaan tambah memanas dan kami mulai agak panik. Efek benteng yang tersusupi sangat mengganggu: kami mulai merasa tidak nyaman, agak mual dan pusing, serta mengalami beberapa manifestasi roh jahat secara fisik di sekeliling kami. Saat itu roh dan jiwa saya bekerja sama berpikir keras, Tulah apa yang kira-kira dapat membasmi lebah-lebah menyebalkan ini?

Kali ini, rupanya Tuhan sendiri yang menjawab. “Katak dan Belalang! Panggil mereka di dalam Nama-Ku! Kalian punya otoritasnya!”


Validasi : Yohanes 12:36, Mazmur 35:6, Mazmur 91:11, Yakobus 1:18, Yeremia 23:12, Ulangan 20:4, Mazmur 144:1, Mikha 2:13, 2 Timotius 4:22.


—Bersambung... :p
[ Read More ]