Doa Perang 3

Author : Felicia Yosiana

“Berlutut, guys!” seru saya sedeti setelah memproses apa yang dikatakan Tuhan. Itu adalah perintah dan bukan permintaan, saya tahu. Saya tidak yakin apa yang Ia inginkan dari kami pada saat itu selain berdoa dan bersungguh-sungguh memohon keselamatan bagi bangsa-bangsa.

Saya tahu Tim Doa tidak terbiasa berdoa berlutut, apalagi bila harus sambil berdoa perang—kegiatan yang sangat menguras tenaga dan emosi. Saya tahu ini akan mengubah kehidupan doa kami selamanya dan saya yakin Tuhan memiliki rencana yang luar biasa bagi kami. Maka dengan susah payah, kami semua mengubah posisi kami dan mulai melancarkan doa demi doa.
Setiap tema terasa lebih ‘berat’ saat kami mulai berdoa secara bersuara. Kami semua mulai berkeringat dan berteriak-teriak pada menit pertama. (Note: biasanya diperlukan waktu lebih dari beberapa menit bagi kami untuk ‘menaikkan’ tensi Doa Perang, terlebih dengan pujian penyembahan dengan keadaan kami yang saat itu benar-benar capek dan beaten). Kami tahu beban yang ada di pundak kami sangat besar, kami juga tahu bahwa saat kami berlutut dan bersungguh-sungguh di dalam doa, urapan Allah diturunkan ke atas kami seperti hujan yang amat deras.

Doa bagi bangsa-bangsa dan Indonesia menguras seluruh emosi kami. Kami menangisi bangsa ini—dan itu bukan dari diri kami sendiri. Tidak ada dari kami saat itu yang telah bebar-benar tergerak untuk berdoa secara demikian hebatnya bagi Indonesia. Itu adalah ratapan Roh Kudus sendiri di dalam kami. Yang kami lakukan hanyalah berdoa sesuai dengan arahan-Nya.
Setelah Doa Perang selesai, tidak ada dari kami yang tidak tumbang. Semua anggota jatuh tersungkur sedang beberapa tergeletak lemas. Keringat dan air mata sudah nggak ada bedanya lagi dan kami kesulitan mengambil nafas. (Tentu saja, stok tissue sangat berarti dalam setiap acara Tim Doa. Tapi tidak pernah separah ini).

Seusai Doa Perang, kami kembali menyalakan TV sambil sharing apa saja yang kami rasakan dan lihat dengan mata rohani kami selama  prosesi tersebut. Dan apa yang saya dengar membuat saya benar-benar tidak tahu apakah saya harus teratawa atau menangis. Hampir setiap dari kami mengalami dan melihat hal-hal yang luar biasa. Bahkan beberapa di antaranya saling memvalidasi satu sama lain!
Gue liat JC! Gue liat JC!” teriak salah satu teman dengan kegirangan.
Gue liat langit kebuka tadi dan terang banget!”
Dia di tengah! Dia tadi di tengah!!”
Dan segudang lagi teriak-teriakan ‘norak’ lainnya. Yah... maklum... anak-anak Tim Doa selalu kayak anak-anak baru dapet permen kalo habis melihat atau merasakan JC... :B


Well, pengalaman kedua kami dalam Doa Perang paling intens adalah pada saat Tim Doa 12 November. Kami sepakat untuk melancarkan Doa Perang dengan intens hari itu, setelah sekian lama TD terhambat perjalanan kumpul-kumpulnya karena bertabrakannya jadwal satu sama lain. Maka, mengambil posisi berlutut dan meminta penyertaan serta petunjuk Roh Kudus, kami segera mulai.
Dari detik pertama tema dijabarkan dan dikroyok secara audibel, saya sudah mendapatkan feeling bahwa momen ini akan jadi sesuatu yang akan membekas di dalam sejarah Tim Doa (lebay mode on). Ehem. Tapi memang benar, kok...
Peluh dan air mata sudah langsung membanjiri kami saat Tuhan menjamah satu demi satu dari kami, memberikan kami kekuatan dan petunjuk mengenai bagaimana kami harus berdoa.

Di tengah-tengah prosesi, saking kerasnya suara kami dan sulitnya mengontrol emosi saat berdoa bagi bangsa-bangsa dan mereka yang terhilang, Tuhan sampai menyuruh saya menutup pintu rumah agar suara tidak terlalu bergaung ke seluruh kompleks. Yah... Saya rasa ada faktor simbolik di situ—yakni untuk memastikan bahwa kami menutup pintu bagi semua kuasa jahat yang mencoba mengintervensi doa-doa kami. Setidaknya, itu yang dijabarkan Hikmat kepada saya.
Doa Perang terpanjang dalam sejarah Tim Doa yang berlangsung selama nyaris setengah jam itu pun berakhir dengan menggelepaknya semua anggota tim. Dan lagi-lagi, kami cuma bisa cengar-cengir saat setiap member menceritakan apa yang mereka lihat dan rasakan dalam roh dan iman saat Doa berlangsung. Bahkan, salah satu pendoa mengatakan bahwa ia melihat perjamuan sorgawi yang telah siap dan tertata rapi, menunggu kita untuk masuk ke dalam Rumah Abadi dan menikmati hidangan pesta bersama Tuhan dan Bapa kita.
Tidak ada yang dapat kami lakukan selai memuji dan menyembah Tuhan yang begitu luar biasa dan murah hati!
[ Read More ]

Sebuah Mimpi - Infiltrasi

Author : Felicia Yosiana

21 November 2011

Mimpi ini saya tidak begitu ingat kronologisnya. Namun dengan iman dan bimbingan Hikmat, saya mengetahui bahwa ini adalah mimpi analogis mengenai Peperangan Rohani yang sedang kami—anak-anak Tim Doa—alami.

Saya sedang berkunjung ke sebuah rumah yang lumayan besar di mimpi itu. Saya ingat, ada beberapa teman dan keluarga saya di sana walau saya tidak ingat muka-muka mereka. Kami tiba di ruang tunggu rumah besar itu yang memiliki jendela besar ke halaman dan garasi di depan rumah. Rumah itu bersih dan luas, tapi karena mendungnya cuaca, atmosfer di dalam jadi terasa agak... spooky.
Salah seorang anggota keluarga pemilik rumah yang mengajak kami masuk kemudian menyuruh kami untuk duduk di ruang tamu. Merogoh sakunya, ia mengeluarkan sebuah ‘kunci’ seperti kartu dan mulai mengotaka - atik komputer pada pintu. “Wah,” pikir saya, “ribet sekali pengamanan rumahnya. Pakai kunci digital segala buat masuk ke dalam...”
Setelah sekian lama ia mengotak-atik komputer, tidak ada hal yang terjadi. Karena bosan, saya kemudian mengalihkan perhatian ke halaman di depan rumah. Betapa kagetnya saya ketika menemui seseorang sedang berusaha mencopot gembok pagar dan berusaha masuk! Seketika itu juga suasan berubah. Kami mulai merasakan aura tidak mengenakan (ya, seperti aura kehadiran si Jahat) yang hendak masuk menerobos rumah tersebut.

Saya panik. Orang-orang yang bersama saya juga mulai panik. Kami bangkit dari duduk kami dan mendengar suara-suara pintu diotak-atik dari salah satu ruangan. Salah seorang dari kami kemudian bergegas meninggalkan ruang tamu melalui pintu lain (yang tidak butuh komputasi data untuk dibuka) dan mengatakan, “Gue coba lihat keadaan dulu,” seraya membuka segala perlengkapan perang rohaninya.
Saya, yang masih terhenyak di ruang tunggu, tidak berdaya menghalanginya walau perasaan saya sangat tidak enak. Saya yakin dengan pasti, ia sendirian tidak akan mampu melawan segerombolan ‘penjahat’ yang sedang berusaha menerobos ke dalam.
Detik itu saya melonjak terbangun.


Apa maksud Anda?” adalah pertanyaan spontan saya saat menyalakan lampu kamar dengan panik. Saya kembali menyetel CD puji-pujian dan duduk di tepi ranjang, berdoa mencari Allah. Sekali lagi, saya memberanikan diri bertanya, “Apa maksud Tuhan dengan mimpi tadi? Kenapa Engkau mengizinkan saya melihatnya?”
Hikmat mengalir turun ke roh dan pikiran saya. Tuhan tidak membutuhkan kata-kata dalam menjelaskan hal ini, rupanya. Saya langsung mengerti bahwa dibanding berperang sendiri-sendiri seperti orang yang meninggalkan ruangan tersebut (yang bisa saja menganalogikan diri saya sendiri), adalah jauh lebih baik bila kami maju bersama di dalam kuat kuasa Tuhan.


Saya ingat saya sedang bergumul mengenai hal ini sebelumnya. Seorang teman Tim Doa yang sering mendapat mimpi profetik dari Tuhan, Yani, mendapatkan mimpi yang serupa sebelumnya. Ia bercerita bahwa saya dan dia ada dalam mimpi tersebut. Kami sedang berada di ruangan gelap saat tiba-tiba sesosok makhluk menyerupai manusia dengan wajah yang mengerikan muncul di hadapan kami. Kami segera bereaksi dengan mengikat, mematahkan, menghancurkan dan menengking si Jahat di dalam Nama Yesus. Tapi hasilnya nihil; Iblis itu tidak bergerak sama sekali, seakan-akan tidak mendapatkan perlawanan berarti dari usaha kami.

Setelah gagal dengan metode pertama, Yani melihat saya membuka segala perlengkapan rohani dan meng-quote ayat sebagai Pedang Roh. Ia melihat ada pedang besar yang terayun saat saya mulai mengucapkan ayat demi ayat. Namun ternyata itu juga tidak membuahkan hasil; si jahat malah semakin siap menyerang kami! Saat kami tidak lagi dapat melawan, kami lari dari ruangan tersebut dan mimpi saudari saya pun berakhir.
Hikmat segera mengalir saat ia memberitahu saya tentang mimpi tersebut dua hari sebelum tanggal di atas. Iblis itu melambangkan harga diri.


Tuhan kemudian segera melanjutkan apa yang ingin Ia ajarkan pada saya, bahwa ada waktu untuk maju berperang dalam nama-Nya, dan ada waktu untuk membiarkan-Nya berperang bagi kita. Ada saat-saat di mana sekuat apapun kita di dalam Allah, kita harus menundukan kepala kepada-Nya dan memohon pada Tuhan untuk turun berperang bagi umat-Nya. Dengan begitu, kita tidak akan terjerumus kepada rasa tinggi hati karena telah ‘terbiasa’ berperang di dalam Nama Tuhan.
Kamu tahu apa yang seharusnya kamu lakukan?” tanya Tuhan setelah saya mencerna Hikmat. “Kamu tahu jawabannya.”

Menyembah.”

Benar. Daripada berjuang dan terpisah, adalah lebih baik bila kalian bergandengan tangan membuat satu lingkaran dan menyembah Allah, menyatakan kemuliaan dan kuasa-Nya. Dengan itulah kalian mendeklarasikan ketergantungan kalian kepada Kami, Tri Tunggal Maha-Kudus.”

Dan itu juga yang harusnya kami lakukan saat berhadapan dengan ‘Pride’ dan ‘Vain Glory,” jawab saya lemas.

Benar. Ada waktunya untuk mengangkat senjata, ada waktunya untuk menyembah kepada-Ku. Peperangan tidak dimenangkan dengan aksi si pejuang semata, bukan? Sekali waktu, Sang Commander perlu turun dan menyatakan kehebatan-Nya untuk menghalau musuh dan menurunkan morale mereka.”

Saya tersenyum lemah dan berkomentar, “Taktis abis...”

Bukannya kamu suka belajar strategi perang? Omong-omong, ini juga dilakukan agar kalian tidak terjebak pada perangkap ‘harga diri’. Kalian butuh Kuasa dan Kekuatan-Ku untuk maju. Menyembahlah. Deklarasikan kepada musuh bahwa kalian bergantung kepada Tuhan yang tidak mengecewakan.”
[ Read More ]

Serangkaian Pengelihatan dalam Penyembahan

Author : Felicia Yosiana

19 – 20 November 2011.

Pengelihatan 1
Saat saya sedang dalam penyembahan dan hanyut dalam sukacita dan kehangatan sorgawi, sekali lagi, saya melihat sebuah salib terang di depan dahi saya. Salib itu sebesar tubuh saya dan terlihat seperti proyektil yang murni terbuat dari cahaya / api putih yang bersinar dengan luar biasa terang. Di dalam roh saya, saya langsung tahu bahwa itu adalah materai yang disebut-sebut pada kitab Wahyu.


Pengelihatan 2
Saya sedang dalam penyembahan di kamar tidur saat saya melihat diri saya sendiri di ruang ‘bawah’ atmosfer penyembahan. (Untuk lebih jelasnya, silahkan baca ‘Pujian Pendongkrak’ pada buku ‘Canvas’ atau blog Adoniyah). Roh saya meluap dalam kegembiraan bersama dengan Roh Kudus karena saya tahu di situlah saya harus menyembah.


Pengelihatan 3
Setelah melihat pengelihatan kedua, saya melihat tubuh roh saya dalam versi kanak-kanak berusia 6-7 tahun sedang duduk di tepi tebing bersama Yesus. Latar belakangnya adalah suasana pegunungan di pagi hari yang amat cerah dan terang. Saya sedang menutup mata dan menyanyi dengan bahagia, dan Tuhan Yesus menyanyi juga dengan wajah senang di samping saya. Kami memuliakan Bapa bersama-sama.
Pengelihatan selesai.
[ Read More ]

A Challange? Why Not?

Author : Felicia Yosiana G

Saya cukup sering merenung sendiri akhir-akhir ini. Saya banyak kecewa, mempertanyakan dunia, dan berpikir sendiri alih-alih mencari Tuhan lebih sering di tengah pergumulan batin yang menumpuk. Salah satu pertanyaan saya kepada diri sendiri adalah, “Apakah gue salah dalam hidup kudus?”
Sebenarnya, pertanyaan ini mulai tersulut setelah ada beberapa orang—termasuk teman-teman dekat yang ‘pelayanan’ dan pembina suatu persekutuan—yang mempertanyakan komitmen beberapa anak-anak Tim Doa yang mereka cap ‘ekstrem’. Kami memang mengambil komitmen untuk tidak menyentuh barang sekuler dan memperdalam Saat Teduh dan hidup kudus. Di situlah mereka, yang merasa tidak ada salahnya untuk sekedar nonton bioskop, main games, dan mendengarkan lagu-lagu sekuler, menentang kami. Seringkali saya menemukan orang-orang mengkritik, “Buat apa loe idup kayak gitu? Masa nonton aja kaga boleh? Tuhan gak sejahat itu kalee..."
Walau komitmen saya tetap teguh dengan mempercayai dan mencontoh kehidupan para pejuang Kristsu dalam Alkitab (yang menjauhkan diri dari hal-hal duniawi dan memperbanyak waktu bersama Tuhan), hati saya ternyata mulai getir. Saya mulai terombang-ambing dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut dan parahnya, tidak berkonsultasi langsung dengan Tuhan karena kurang mempercayai Suara-Nya.


Suatu kali, saat saya sedang memikirkan hal tersebut untuk yang ke-sekian kalinya, Tuhan bertanya lembut kepada saya, “Kamu kenapa?”

Saya agak ragu dalam menjawab. Saya ragu sekali bahwa itu Suara-Nya. Bisa dibilang, itu efek negatif dari ‘galau’ terlalu lama tanpa Tuhan. (Note: itu sebabnya Dia membenci kata ‘galau’).
Tapi Tuhan begitu perhatian dan rendah hati, Ia tidak menyerahkan anak-Nya kepada tangan pemikiran dunia begitu saja. “Kamu iri dengan teman-temanmu yang bisa nonton di bioskop? Kamu iri dengan mereka yang masih enak-enakan main game online?”

Saya tetap diam. Setelah beberapa lama mempertimbangkan pertanyaan tersebut, saya menjawab, “Bukan iri. Saya capek dan bete...”

Kamu tahu kamu berjalan di jalan yang mana?”

Saya menggeleng.

Kamu berjalan di jalan yang sangat sempit, nak,” Tuhan melanjutkan dengan nada kalem dan simpatik. “Sangat sedikit yang mau melaluinya.”

Saat Tuhan mengatakan hal tersebut, saya langsung teringat sebuah bait lagu yang berbunyi seperti ini: All along the road less travelled, I have crawled and I have run. I have wondered through the wind and rain until I found the sun. The watching eyes asked me why I walked this narrow way. I would gladly give a reason: “For the Hope I have today.”

Tuhan tersenyum kecil. Namun saya dapat menangkap perasaan sedih dan miris pada senyuman-Nya. “Cobalah kamu tilik ulang, bagaiamana hidupmu setelah kamu dan beberapa anak-anak Tim Doa lainnya mengambil komitmen hidup kudus. Bukankah kalian maju dengan luar biasa pesat? Pengelihatan-pengelihatan Kuturunkan menghujani kalian. Hikmat-Ku mengalir dengan deras tanpa harus terhalang porsi hati kalian yang dulu kalian berikan untuk hal-hal duniawi. Banyak juga doa-doa kalian yang terjawab dan kalian dapat memperkenalkan Injil kepada semakin banyak orang.”

Maafkan saya, Tuhan,” gumam saya menahan tangis, merasa bodoh karena sudah ‘menduakan’ Tuhan di pikiran saya dengan pergumulan-pergumulan hidup.

Ya. Kamu harus tahu, ada harga yang harus dibayar saat kamu mau mencapai level yang lebih tinggi dengan Aku. Aku tidak menghendaki kehidupan anak-anak-Ku biasa-biasa saja. Aku dan Bapa-Ku sangat senang dengan kalian—para penerima berkat dan karunia-Ku! Hidup kudus yang kuinginkan adalah penyaliban daging dan penyangkalan diri. Bukankah kamu melakukannya saat kamu memutuskan untuk meninggalkan dunia gaming dan penulisan fiksi? Aku melihat itu. Aku sangat menghargai itu.”


(Gambar mengenai penantian Mempelai Wanita yang menjaga hidup kudus. Gambar yang sangat saya sukai).


Saya mengangguk dengan susah payah karena menahan ledak tangis. Tuhan membela saya! Ini lebih dari apa yang manusia kotor seperti saya dapat harapkan: Dibela Tuhan Alam Semesta dari dakwaan dunia!

Alkitab banyak memberikan kisah yang luar biasa tentang hidup kudus,” lanjut Tuhan. “Ada Musa, yang hidupnya menjadi sangat terpisah dengan orang-orang di sekitarnya dan dunia saat ia menghabiskan waktu dengan-Ku di kemah pertemuan. Hamba-Ku Daud juga melakukannya dan menghabiskan waktunya menulis Mazmur dan puji-pujian bagi-Ku. Tentu, mereka tidak tanpa cacat cela, tapi lihatlah hal-hal yang dapat kau ambil dari kehidupan orang-orang yang Kuberkati secara luar biasa ini.”

Musa naik ke gunung untuk menemui Tuhan sendirian, saya ingat. Ia juga menemui Anda di kemah pertemuan seorang diri. Ia mengalami pertemuan yang luar biasa dengan-Mu.”

Dan lihatlah harga yang ia—secara tidak langsung—harus bayar: Dikecam oleh saudara-saudara sedarahnya. Miriam dan Harun menanggung hukuman yang mengerikan saat mereka berani mengecam hamba-Ku, Musa.”

Saya bergidik. “Penyakit kusta.”

Hiduplah kudus, Yosi,” lanjut-Nya. “Bila kamu hidup kudus di hadapan-Ku, masakan Aku, yang adalah poros hidupmu, Alahmu yang hidup, tidak membelamu? Apa dakwaan yang bisa dituduhkan kepadamu saat kamu berjalan di jalan-Ku? Tidak ada.”

Maafkan saya, maafkan saya...”

Tuhan mengangguk. “Datanglah kepada-Ku seperti seorang anak kecil yang haus akan Suara dan belaian ayahnya. Aku mengasihimu, Aku mengasihimu jauh dari yang kau tahu. Engkau tidak ingin membagi porsi itu dengan film-film dan lagu-lagu sekuler, nak. Tidak. Jangan kejar Suara-Ku, pengelihatan, atau karunia-karunia saja. Kerjalah Aku, yang memberikan semuanya itu. Bahwasannya Aku menyertaimu sampai akhir zaman.


[ Read More ]