The Rapture

Author : Benedictus Harvi



14 September 2011

                I was in the campus. Sitting down whilst conversing with the God. He then asked me if I want to see the happening of the rapture, and I said yes.

 Closing my eyes, He brought me the vision. 

The earth was crumbling greatly. The big glass-window across crashed into pieces, while I could see the town below in a mess. The floor was collapsing, and people around me freaked out and screamed. But somehow, I was calm even though the floor I stepped collapsed. On that very second, I began to float, and I went ‘zap’ disappearing.
[ Read More ]

PERINGATAN PENGANGKATAN!


Author : Felicia Yosiana

A/N : Bagi Anda yang kena tag atau kebetulan membacanya, tolong luangkan waktu Anda 5 menit saja!! ALLAH, yang adalah PENCIPTA, ingin Anda membacanya!

Harap diperhatikan bahwa JC menyuruh gw utk meng-translate notes di bawah ini yg gw baca dari http://www.divine-end-time-revelations.com/apps/blog/entries/show/8826692-another-group-of-messages- 

(Anda harus menjadi member untuk membaca)

Saat Ia menyuruh gw untuk translate, gw masih beku di kursi karena menyadari betapa gw adalah orang berdosa yang bebal dan degil. Kemudian Ia menghardik: “Kamu masih mau bernegosiasi dengan-Ku?!”

Guys, message di bawah ini KERAS dan PAHIT. Ini ditulis oleh Philpa Kuranche, seorang prophet of the Lord yang telah menulis berbagai ‘surat Tuhan’ seperti banyak prophets lainnya. Setelah membaca, segeralah pikirkan baik-baik opsi yang Anda buat dan carilah Wajah-Nya dan mintalah pengampunan!


Saudara Tercinta dalam Tuhan,

Ini adalah surat yang Tuhan Allah berikan kepada saya, Philipa, pada 7 September 2011:

“AKU membenci dunia ini dengan segenap Hati-KU. Kau pikir kau telah terselamatkan. Tapi biar Kuberi tahu kebenarannya: hanya bayi-bayi-lah yang mendapatkan kesempatan terbesar.

Aku telah melihat laporan Anak-KU. Hanya para bayi (0-7 tahun) lah yang memiliki kesempatan terbesar. Mereka semua akant terselamatkan kecuali mereka telah diambil oleh musuh-Ku.

Aku membenci porsi dosa kalian. Aku membenci itu semua.

Dan Anak-Ku telah mencurahkan Darah-Nya dalam kesia-siaan. Aku membenci ini semua. Kalian, kamu semua, telah menyalahi peraturan-Ku, mengecewakan Aku. Sekarang rekord-nya telah jelas, hanya 0,7% yang akan Terangkat. Ini telah berkurang secara drastis dari hari ke hari. Kuucapkan selamat tinggal, karena Roh Kudus-Ku sedang pergi perlahan-lahan meninggalkan kabut dunia ini.

Allah, Sang Jehovah, telah berbicara!”

Dalam surat sebelumnya di mana ada kode L8G4O>1223KEKDJAKJ?JDJJSKDKJ, Tuhan telah membukakan kepada saya bahwa ini adalah presentasi dari mereka yang akan Terangkat (terlepas dari para bayi). Baru hari ini Tuhan memperbolehkan saya untuk menyebarkannya. Ini serius. Bangunlah!!

Pada Jumat, 9 September 2011, TUHAN YESUS memberikan saya pesan lain.

Saya mendengarnya berteriak. Ia menutup pintu menuju Kerajaan Bapa-Nya. Sebelum menutup pintu, Ia memberikan satu peringatan terakhir:

“Sahabat-sahabt-Ku, Aku telah mencurahkan Hidup-Ku untukmu. Tapi Kau tidak menaati-Ku. Bangunlah dari tidurmu! Karena tanpa minyak, kau tidak akan dapat masuk ke Kerajaan Bapa-Ku. Oh, tolong dengarkan tangisan-Ku, dan jangan sia-siakan penderitaan dan Darah-Ku.”

Maka saya melihat seorang laki-laki lagi, membawa sebuah tongkat yang mulus namun menyeramkan. Dan saat laki-laki ini mengangkat Tangan-nya ke arah Sorga, Ia bergerak maju.

Sahabat-sahabat terkasih, Tuhan telah memberikan kita peringatan-peringatan melalui banyak anak-anak-Nya di hari-hari terakhir ini. Tolong anggap itu serius dan persiapkan hati kita


[ Read More ]

Jalan ke Rumah

Author : Felicia Yosiana


12 September 2011.

Pada awal memasuki September, Tuhan telah mengatakan kata ‘September!’ yang dengan jelas menggema di dalam roh saya. Kata itu sering terngiang di kepala saya dan saya tidak tahu sama sekali maknanya.

Dulu, waktu saya kelas dua SMP, pernah terjadi hal yang sama: Tuhan mengatakan ‘Mei!’ dengan jelas kepada saya yang waktu itu sedang menghadapi ujian kenaikan kelas. Saat itu tentu saya juga tidak tahu apa maksudnya, dan Ia tidak pernah menjawab ketika saya bertanya. Tapi semua jelas ketika pada akhir bulan tersebut Mami dapat keluar dari rumah sakit dan melanjutkan perawatan akhirnya di rumah.

Saya mengira bahwa peringatan Tuhan akan September adalah pesan yang personal. Dan karena Ia juga merahasiakan artinya dari saya, maka saya pun cuek dengan peringatan tersebut sampai saya mendapatkan jawabannya dari blog yang berisi tentang kumpulan pengelihatan anak-anak Tuhan di seluruh dunia.
(http://surattuhan.malang3000.com/?kata-pengantar,144)

Dalam blog itu ditulis bahwa segala tanda kedatangan Tuhan akan dimulai. Berawal dari bencana-bencana ‘kecil’, semua itu akan meluas dan mewabah seluruh bumi sampai Pengangkatan tiba.

Jujur, saya tidak terlalu kaget membacanya. Ia pernah mengatakan hal ini kepada saya (sekitar Juli-Agustus, saya lupa): “Kalau nanti bumi tertimpa bencana dan berbagai bencana alam, kamu tidak boleh panik! Tidak usah kamu kaget lagi dan tidak perlu kamu ketakutan karenanya!”

Hal ini diikuti dengan pengelihatan cepat mengenai apa yang saya baca di Kitab Wahyu:  Materai anak-anak Allah. Mata saya dibuka untuk melihat alam roh dan ya, tepat di depan dahi saya, ada sebuah tanda salib besar yang sangat terang. Itu seperti terproyeksi dan selalu ada di situ kemanapun saya bergerak. Singkatnya, di alam roh, saya seperti salib besar terang yang berjalan.


Well, that aside, saya melanjutkan sisa malam itu dengan pujian penyembahan kepada Allah. Saya meminta-Nya untuk mengampuni dosa-dosa saya dan meminta untuk selalu ditempa dan disempurnakan setiap harinya. Dan Ia meminta saya untuk berlutut.

“Ha?”

“Berlutut,” ulang Tuhan.

Tanpa kompromi, saya pun berlutut di karpet dan kembali menyembah. Saya tahu, biasanya kalau Ia meminta saya berlutut, Ia akan melakukan sesuatu yang hanya bisa saya terima dalam keadaan super-fokus. Saya mempelajari trik berlutut ini dari Tuhan sendiri saat Ia memberikan ‘Hikmat’ pada Baptisan Roh Kudus beberapa bulan silam. Dan pada prakteknya, posisi berlutut ini saya dan teman-teman terapkan setiap kali kami memasuki doa perang di Tim Doa.

Beberapa detik setelah saya berlutut, Ia bekerja. Saya menangis tak henti begitu hadirat Tuhan memenuhi roh saya. Saya menangis untuk kemurahan yang Ia berikan, untuk setiap memori yang tertanam bersama-Nya, dan untuk setiap nafas yang Ia berikan. Dalam versi alam roh, kami hanya saling memandang dan menyimak perasaan masing-masing tanpa bicara.

Dan sesuai dengan lagu yang saya pakai untuk penyembahan, “He brought joy to my soul”, Ia pun mengisi hati saya dengan damai sukacita yang begitu besar sampai rasanya saya pingin koprol-koprol sendiri di kamar—yang tentunya tidak saya lakukan mengingat bakal banyak barang hancur kalau saya nekad.
-
“Tenang saja, nak,” kata Tuhan geli. “Nanti di sini kamu bebas menari dan memuji dua puluh empat jam non-stop. Semua itu akan terlepas bebas dalam tarian dan pujian penyembahan tanpa harus terkekang lagi oleh daging.”
-
Sebelum saya sempat menjawab, alam roh kembali terbuka dan saya melihat sebuah salib yang besar terbentang di depan saya. Bagian panjang salib besar itu—yang terbuat dari marmer mirip kaca—adalah jalan panjang menuju Rumah. Awan dan sinar terang yang hangat melingkupi jalan yang agak sempit namun panjang itu. Yang membuat saya nyaris lompat adalah begitu saya melihat diri saya sendiri, dalam bentuk remaja umur 13 tahun versi alam roh, sedang berjalan di jalan itu sambil menari, melompat dan memuji Allah dengan sukacita yang besar!

Kembali ke alam nyata, Tuhan nyeletuk, “Masihkah kamu mau bete karena dunia?”

“Enggak, ah. Kan memang udah ditulis dunia bakal dihuni oleh pencemooh-pencemooh dan sebagainya... Ngapain saya kebawa-bawa bete sama mereka... Mending juga terus didoain sambil worship.”

“Kalau begitu, bersiaplah untuk pulang!” Seru Tuhan dengan bersemangat. Saya bergidik saat merasakan percikan emosi-Nya yang juga begitu ingin bertemu kembali dengan anak-anak-Nya di Rumah Bapa. “Ketaatan adalah segalanya, nak. Taat dan tempalah dirimu sampai saatnya tiba. Tidak ada seorang pun yang akan tahu waktunya (Pengangkatan), karena itu bersiaplah dan berjaga-jagalah!”
[ Read More ]

"Aku datang!"

Author : Felicia Yosiana



20 September 2011
Sehari sebelum renungan ini ditulis, saya mengalami apa yang Alkitab sebut sebagai ‘lembah kekelaman’. Yah, saya sih tak mau memusingkan apa sebutannya, tapi yang saya tahu, saya tidak bisa fokus dan berkonsentrasi kepada Tuhan hari itu. Pikiran saya kerap kali kabur ke tempat-tempat yang tidak seharusnya (ke daerah pikiran yang disebut sia-sia dalam Alkitab), dan itu menyebabkan saya jadi agak sulit menyimak perasaan dan suara Tuhan. Tentunya, hal ini juga memiliki efek buruk terhadap iman saya. Saya sempat sedikit ‘galau’ akan waktu kedatangan-Nya yang sudah mepet, bahkan mempertanyakan apakah Ia memang benar akan datang secepat itu.

Siang sepulang kuliah, mengetahui ada yang tidak beres dengan diri sendiri, saya segera duduk di kaki Bapa dan mulai curhat, mengakui semua kelemahan saya: betapa saya tidak bisa fokus, mudah goyah, tidak percaya, berpikir negatif, menghakimi orang dalam pikiran, berdusta dan berkhianat dengan pikiran dan hati, takut ditolak orang lain dan sederet karakter daging lainnya. Namun saya tidak sempat curhat lebih lanjut dan bersekutu dengan-Nya dalam pujian penyembahan karena serentetan tugas-tugas emergency yang sudah mulai membunyikan alarm satu per satu di otak. 
Dan berhubung tugas kuliah untuk hari Selasa belum selesai, saya menghabiskan malam tanggal 19 dengan ngalong di depan laptop, mengubrak-abrik file dan internet sambil bernyanyi-nyanyi memuji Tuhan. Saya melakukan ini dengan agak memaksa diri, sebenarnya, mengingat fokus saya masih tak jelas.
 Jam 2 pagi saya baru tidur. Itu juga disertai dengna doa dan saat teduh yang lama dan agak ngalor-ngidul karena susah fokus. Pertempuran antara nurani—yang mengata-ngatai diri sendiri karena masih sempet galau—dan pikiran pun terjadi selama saya berdoa. Walaupun Tuhan dengan baik memberikan saya Ibrani 12 malam itu, saya sama sekali tidak dapat mendengar suara-Nya karena kedegilan hati saya.


Pagi-pagi sekitar jam 4.45, saya masih uring-uringan di dapur. Saya tahu saya harus puasa, tapi saya tidak ingin makan. Membayangkan makanan pun jijik. Entah saya terancam sakit karena capek atau apa, yang jelas saya sempat berniat untuk puasa tanpa sarapan.
“Kamu mau sakit?” Tuhan nyeletuk. Itu adalah kata-kata pertama-Nya di pagi itu setelah saya ‘gagal’ menyapa-Nya setelah bangun tidur (saya membiasakan diri untuk selalu mengucap salam dan doa setiap bangun tidur). “Makan,” perintah-Nya lembut.
Dengan tampang lecek, saya memanasi makanan dari kulkas. Perintah Tuhan jelas dan saya tahu ada sesuatu di balik nada-Nya yang kalem.

Berharap bisa menemukan jawaban dari blog yang sering saya baca (mengenai pengelihatan dan nubuatan akhir zaman para hamba Tuhan seluruh dunia: http://surattuhan.malang3000.com/?penglihatan-luar-biasa-mengenai-malaikat-yang-menari-di-hadapan-ruang-takhta-bapa,467), saya pun mulai browsing dengan Hp sambil makan.
Apa yang saya baca membuat roh saya berteriak.

TUHAN DATANG!

Hamba Tuhan, Augusto, mendapatkan pengelihatan pada malam sebelumnya bahwa sesudah ia menari bagi Sang Raja, Tuhan Yesus berdiri dan bersiap menjemput Mempelai-Nya dengan atribut Kerajaan Sorgawi yang lengkap!
Saat itu juga, suatu Suara menggelegar di roh dan batin saya: “AKU DATANG! AKU DATANG, OH YA, AKU DATANG UNTUKMU! TIDAK SELAMANYA AKU MEMBIARKAN ENGKAU DINISTA DAN DIHAKIMI DUNIA DAN MANUSIA! TIDAK KUTINGGALKAN ENGKAU DI BUMI YANG KOTOR DAN JAHAT INI!”

Saya pun mulai menangis karena sukacita dan harapan yang kembali memperbaharui jiwa dan roh saya yang lesu. Ia mau datang untuk saya! Ia mau datang untuk saya yang kotor dan hina!
Dan Tuhan pun melanjutkan, “Sebentar lagi saja! Sebentar lagi saja kamu hidup di bumi yang jahat dan penuh sesak ini! 

Aku telah memperhatikan susahmu, hatimu yang berduka karena dunia, aku memperhatikan keluh kesahmu dalam doa—biarpun engkau tidak merasakan-Ku saat kau bergumul ‘sendiri’. Aku memperhatikan air matamu, hatimu yang terluka karena dunia.

Dan Aku datang untuk menjadikan hatimu baru untuk selama-lamanya! 

Tidak selama-lamanya Aku meninggalkan engkau! 

AKU DATANG! Ya, untukmu, Aku datang untuk menyelamatkan dan memberikan kelegaan!”

Kemuliaan, hormat, dan segala puji-pujian untuk Raja Penebus yang sedang datang!
[ Read More ]