The Tower of Hope

Author : Felicia Yosiana Gunawan

12 Oktober 2012

(A/N : I wrote this note in English to fulfill my promise to the Lord. Well, enjoy.)

Let’s just admit it: it’s not easy to be hopeful while we feel pressed on both sides. Everyone must have felt this way, right? Well, I don’t know about you, but there are countless of times when my carnal mind yelled “Enough!” to my spirit. I, too, as a believer, often lost my hope and became tired of living my faith.

“You have to exercise your faith,” God once had told me.

At that time, all I had done was nodding in bewilderment.

But perhaps, I’d misinterpretated His words, as I’d often thought that faith stood alone—apart from hope. It was not long ago when God’d taught me a lesson about how all things are connected.

“Hope and faith cannot be separated, then?” I asked the Lord.

He nodded. “They cannot. None stands alone. The will not be complete without one another, as you cannot have faith without hope, and vice versa.”

“Then, does it mean that I should have hope in my faith? I’m getting more and more confused.” I know it was a simple matter, but somehow, it just didn’t click on my mind. “What does it mean to hope, Lord? Is it that I have to be hopeful that You’d fulfill Your promises in my life or something?”

A warm smile came upon His lips. I, once again, felt like a five-year-old asking her daddy how does the bird fly. “Don’t be confused.” He tilted His head slightly in wonder. “Hmm... Let’s see... What do you hope for, daughter?”

I blinked. “Huh? What do I hope for...?” A few ‘wishful thoughts’ came to my mind. Almost all of them were worldly, though. “I want to be a successful writer. I want to be able to help those around me. I want to become a better person. I want to be useful to You. I want to... well, see the Big Outpouring—Revival happening in my country. Do those count as hopes?”

“Yes, in a sense. But they’re more like what you desire and not what you hope for.”

“Is there a difference between desiring and hoping?”

“There is,” He said. “For instance, desiring means you’re wanting something to happen; something you’d thought of possible eventhough the chances may be slim. But hoping is far more than that, because it’s connected to the faith you have.”

More questions popped in my head, but I chose to keep silent. What was His point? What should I hope for then? Or rather, how should I hope...?

“Well, some questions you have,” He chuckled, reading my thoughts.

Yup, one benefit of being with the Lord is that you don’t really need words to communicate. The drawback? You practically have no place to hide and no secrets to hold.

“Have you ever heard a saying that says ‘hope renews one’s strength’?” He asked.

I nodded. “I think it’s in the Bible.”

“There are some verses talking about hope, and they are my favorite,” He said with a wink. My flickered curiosity seemed to amuse Him, since He began laughing softly against my ears as He drew me to His side. “You’re a thinker, daughter, and that is good. But sometimes, you have to drop your theories and carry on with only your faith and hope in your backpack. Think of them as a compass and a self-drawn map.”

I twisted my mouth in annoyance. For your information, I am a very insecure person when it comes into ‘walking blindly’ with the Lord. Theories, prejudices and anaylitical skills are my ‘weapons’ against my own fears. I always feel that I should calculate and speculate everything before I make a move, because if I felt like I was being dumbfounded or dumbstruck, I lost. 

“Are You trying to criticize me?” I mumbled.

“More like correcting you,” He replied, His tone was pleasant and light. “This is what I meant, daughter: You’re lacking hope.”

Realization hit me slow. “Does it mean that I don’t trust You enough to have ‘hope’ in You...?”

“Sadly, yes. But we can fix that,” He added with a smile.

“How?”

“By building your hope on a steady ground called faith.”

Was this just me or I felt like I was being toyed with? “You’re talking in circles, Lord.”

And as usual, He simply laughed it off. God and His carefree persona... “Not carefree; I prefer the term ‘easy going’,” He quickly said, making me almost snicker in compliance.


“Okay, Dear Lord. So, how do we fix it, then?” I asked. 

A vision of a white,  crumbling tower came to me. “Is that my tower of hope?” I could saw a tall tower standing before me. The foundation was solid and strong, but the pillars supporting the tower were cracked it looked like it could fall at any time.

The Lord nodded once. He pointed His index finger at the bottom part of the tall tower. “Look at the foundation,” He said. “You’re planted to a solid ground. To the only solid ground, to be exact.”

“You,” I blatantly stated.

“Yes. Me.”

A verse about the Lord being my solid ground and rock was being replayed in my head. But when it led to the “He is my strong tower” part, my shoulders slumped. “I’m not building anything solid and strong at all. How come?”

“Your hope is currently based on things that you can see,” He softly stated. “You only hope for what you think is possible to happen. Your faith is solid, but it’s lacking hope and trust. You see, the foundation alone can achieve nothing. They cannot shelter you or bring you to a higher ground.”

Wisdom was teaching me as He spoke, enabling my spirit to understand His words. “I only hope for the things that I could imagine happening. I’m not brave enough to hope higher—I’m frightened of being dissapointed, eventhough I know that the Bible says ‘those who put their trust in the Lord shall never be dissapointed.’”

“That’s it,” He concluded. “Your hope is frail, and it’s a waste of a good foundation.”

I agreed. “You want to say that this is related to the ‘blind faith’ curriculum You’re teaching me about?”

“Everything is connected,” He chanted a phrase I’d remembered too well. “Now that you know what to do, we can fix your tower.”

“So I simply have to aim higher, then? Placing my hope higher in You without demanding things?”

“A humble heart is always the key to success,” the Lord reminded, and we both laughed.
[ Read More ]

About to Judge Someone? Think Again.



Author : Silvia Gautama
            Pernahkah Anda merasa tidak akan pernah bisa ‘nyambung’ dengan seseorang? Mungkin Anda merasa orang ini tidak enak diajak bicara, aneh atau.. Yah, berbagai pendapat subyektif lainnya bisa kita kemukakan sehinga cenderung menjauhinya.
            Seringkali kita dengan mudahnya menghakimi seseorang tanpa mencari tahu kebenarannya. Tapi mari coba kita tilik lagi. Apakah orang itu memang benar-benar aneh atau kita hanya ikut menghakimi dia dari omongan orang-orang yang menganggap dia aneh?
            Saya punya seorang teman. Kebanyakan dari kami menganggapnya aneh. Pernah suatu kali saya mengobrol dengannya dan saya langsung berpikir saya tidak akan pernah bisa berteman dengan orang ini.  Kami sama sekali tidak nyambung.
            Saya juga tidak suka dengan cara berbicaranya yang saya tangkap sombong dan self-centered. Semua yang dia bicarakan hanya tentang dirinya sendiri. Walau begitu, saya tidak menjauhinya dan tetap berteman. Tapi hubungan pertemanan kami juga biasa-biasa saja dan tidak dekat.
            Suatu kali, dalam satu kejadian saya membutuhkan bantuannya. Ia bersedia membantu! Baru kali itu saya benar-benar berbicara lama dengannya. Biasanya, saat dia berbicara, saya hanya mendengarkan dengan setengah hati dan cenderung saya tidak terlalu peduli dengan apapun yang dia bicarakan. Kali ini, saya sungguh-sungguh mendengarkannya.
            Siapa sangka, saya tertawa terus-menerus saat mengobrol dengannya! Benar-benar tertawa maksud saya--bukan tawa palsu seperti biasa karena tidak mengerti apa yang dia bicarakan. Baru kali ini saya memandangnya dengan sudut pandang yang berbeda. Saya jadi berpikir  bahwa mungkin dia tidak seburuk itu dan orang yang cukup menyenangkan. Orang yang baik pula, melihat kesediannya membantu saya.
            Setelah lama sekali mengobrol dengannya, saya sadar dia orang yang cukup menyenangkan walau ada beberapa hal antara kami yang memang tidak cocok. Well, tapi ia tidak seaneh anggapan saya dulu. Saya yang berpikir kami tidak akan pernah cocok dulu dibuat terkesan ketika saya sungguh-sungguh mendengarkan omongan-omongannya. Ternyata banyak yang bisa saya pelajari darinya!
            Guys, seringkali tanpa sadar kita cepat sekali menghakimi orang. Entah kita menganggap orang tersebut aneh, freak, tidak nyambung atau apapun. Padahal, bisa saja semua dugaan Anda itu salah! Seringkali kita juga mengikuti pandangan lingkungan yang ternyata sebenarnya salah. Misal, orang-orang menganggap seseorang aneh hanya karena dia suka menyendiri, lalu kita ikut-ikutan menganggapnya aneh padahal kita belum pernah berbicara sekalipun dengannya.
            Saya ingin mengajak Anda untuk berpikir sejenak sebelum menghakimi. Apakah kita sudah cukup sempurna untuk menghakimi orang lain? Seringkali setiap melihat seseorang di kjalan, kita tergoda untul menghakimi mereka. Melihat penampilan orang yang acak-acakan, kita langsung mengira mereka orang yang tidak rapi. Padahal mungkin saja tebakan saya sama sekali salah.
            Coba pikirkan kalau kita ada di posisi sebaliknya : kita yang dihakimi orang lain. Tentu tidak mau bukan? Kita senang sekali menghakimi tapi paling benci dihakimi. Apakah Yesus sendiri menghakimi?
            Mari kita lihat Yohanes 8:3-11. Ada perempuan yang kedapatan berzinah, dan sesuai hukum Taurat semestinya perempuan itu dilempari batu. Orang-orang menganggap perempuan itu berdosa dan sudah sewajarnya dilempari batu. Tapi apa jawaban Yesus? "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." (ayat 7).
            Yesus pun tidak menghukum perempuan itu walaupun Ia punya hak untuk itu. "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang." (ayat 11). Ia turun dari kursi penghakimannya, menghampiri kita si orang berdosa, mengasihi kita dan bersedia memaafkan kita! 

            Sebelum kita menghakimi seseorang, marilah kita berhenti sebentar dan pikirkan seberapa banyak kekurangan kita yang sudah Yesus ampuni. Daripada menghakimi orang lain dan mencari tahu kekurangan mereka, lebih baik kita introspeksi diri. Apakah kita lebih baik dari orang yang kita hakimi?
            Mari belajar untuk tidak cepat-cepat menghakimi orang lain!
[ Read More ]

Faith and the Heart


Author : Felicia Yosiana Gunawan

3 Oktober 2012

Sore itu saya baru saja mendapatkan apa yang saya dari minta dari Tuhan: meja belajar baru! Jeng jeeengg~
Yap, sekitar tiga hari sebelumnya, saya sempat bilang ke Tuhan kalau saya kepingin meja baru. Memangnya ada apa dengan meja lama saya? Tidak sih, tidak rusak. Tapi sudah terlalu penuh dan sesak.
Meja lama saya itu super-multi-fungsi: buat gambar, menulis, nge-print, main laptop, mengerjakan tugas dan mengarang. Berhubung saya adalah orang yang tidak bisa bekerja tanpa referensi, setiap kali saya beraktivitas (entah gambar entah nulis), pasti di kiri dan kanan saya buku-buku dan kertas sudah menumpuk. Walau sering dirapihkan sehabis beraktivitas, biasanya buku-buku dan kertas-kertas itu tidak akan saya kembalikan ke lemari karena saya masih merasa butuh. Jadilah meja lama saya itu dipenuhi gunungan referensi dan catatan.

Tentu saja, hanya sedikit orang yang betah bekerja di meja yang sesak dan saya bukan termasuk dalam kelompok langka itu. Hal ini membuat saya jadi malas untuk meneliti Alkitab dan membuat catatan di meja (yang ujung-ujungnya cuma saya baca di atas ranjang sebelum bobo), lebih-lebih menulis kesaksian rohani. Memang sih, akhir-akhir ini saya sedang dalam musim pengasahan talenta di bidang lain selain bersaksi... (Semua talenta kan harus dipertanggungjawabkan... Nggak lucu kalau saya pulang dengan nilai kesaksian tinggi sedangkan yang lain minus. He is, after all, the God of seasons.). Tapi, kata Tuhan, bukan berarti saya boleh berhenti menulis total.
Nah, di situlah saya berdoa meminta meja belajar kecil yang bisa dijejalkan di kamar saya. Saya berharap, dengan hadirnya meja baru yang bebas dari serangan gunung kertas dan buku, saya bisa lebih termotivasi untuk melakukan tugas-tugas belakang meja yang diberikan Tuhan. Manisnya, doa itu terkabul hanya dalam kurun waktu tiga hari saja.

Maka, dengan mood pleasant di suatu sore hari yang terlalu cerah bagi pengidap sindrom  kalong kronis seperti saya, saya bertanya kepada Tuhan: “Anda mau saya menulis apa?”

Jawabannya langsung muncul: “Percakapan.”

Saya mengerjap. “Heh? Kenapa?”

“Berbagai alasan,” jawab-Nya. “Tapi salah satunya adalah untuk mengasah pendengaranmu lagi. Mendengar saja dan mendengar disertai bersaksi itu berbeda kualitas, lho.”

“Hmm... Gitu, ya,” ucap saya sambil manggut-manggut bego. “Okelah kalau begitu. Topiknya apa, nih, Tuhan?”

“Apa yang kamu mau perbincangkan?”

Saya manyun-manyun sambil mikir. “Terserah saya, nih? Soal hati, bagaimana?”

“All right.”

“Saya tulis dalam bentuk paragraf ala novel boleh nggak, Lord?”

“Boleh.”

Wah, pikir saya setelah beberapa detik, ini saja sudah masuk ke tulisan kesaksian. Oke, oke, saya akan langsung masuk ke topik kalau begitu. Ehem.


“Begini, Tuhan,” saya memulai, “saya sering sekali mendengar kata-kata ‘ikutilah kata hatimu.’ Itu kalimat yang sangat tren: dari jaman batu sampai jaman ATM, dari romantis sampai klise dan garing. Menurut Anda, apakah kalimat itu bisa dipegang di dalam iman Kristiani?”

“Apa kata Alkitab soal hati?” tanya Tuhan balik.

Saya memutar ulang memori soal Amsal dan Mazmur. “Di beberapa bagian dikatakan bahwa kedalaman hati itu tidak terselami bagi manusia. Di bagian lain dikatakan bahwa apa yang keluar dari hati-lah yang dapat menajiskan orang. Ada juga ayat yang bilang bahwa Tuhan adalah Allah yang menilik hati.”

“Itu semua benar. Nah, coba buka Yohanes 14.”

Saya menurut dan kaget saat melihat ayat pertama pada pasal itu. Tertulis begini: ‘Janganlah gelisah hatimu, percayalah kepada Allah dan juga kepada-Ku.’

“Apa maksud Anda di sini?” tanya saya, masih kagum dengan presisi Roh Kudus.

“Hati menentukan iman,” kata Tuhan dengan kalem. “Yang dapat gelisah dan memerintahkan seluruh bagian tubuh dan jiwa untuk gelisah adalah hati. Mereka saling terkait. Coba kalau seandainya iman ditentukan oleh pikiran, maka ayatnya akan berbunyi: ‘Janganlah gelisah pikiranmu’ atau ‘otakmu,’ kan?”

Benar juga.

“Aku adalah Allah atas iman,” lanjut-Nya tegas. “Iman adalah sesuatu yang menjadi bahan bakar dalam kehidupan rohani anak-anak-Ku. Tentu saja, dari kehidupan rohani itulah buah-buah dipetik: baik yang rohani, jiwani maupun jasmani. Aku tidak akan pernah berbicara di luar konteks iman. Kamu mendengar karena iman. Kamu melihat karena iman. Kamu berjalan dan bernafas karena iman.”

“Bahkan bagi orang atheis?”

“Ya. Mereka beriman bahwa Allah tidak ada, walau di sisi lain mereka memiliki iman bahwa alam semesta ini hidup—sehingga memungkinkan mereka untuk hidup juga. Apapun yang manusia percayai, itu adalah rupa dari iman. Namun hanya satu akar iman yang benar.”

“Anda,” jawab saya spontan.

Tuhan tersenyum. “Itu juga iman. Coba kamu ingat-ingat lagi: bagaimana kamu mendapat meja barumu.”

Well, waktu itu saya ngedumel berhari-hari karena meja lama saya yang selalu berantakan setiap saya melakukan sesuatu. Tapi tidak terpikir oleh saya untuk membawanya ke dalam doa. Tiga hari sebelum tulsian ini ditulis, Roh Kudus menantang saya untuk meminta langsung pada Tuhan. Saya, dengan agak takut dan ragu, bertanya kepada Allah apakah saya bisa mendapatkan meja baru. Ia menjawab singkat: “Minta saja ke Papi habis ini.” Dan jawaban-Nya tersebut saya imani sebagai lampu hijau. Singkat kata, semuanya mulus dan lancar dan datanglah sang meja idaman.

“Mobilmu juga sama, kan,” lanjut Tuhan setelah saya berpikir sejenak.

Wah, yang ini baru lebih bombastis. Saya memang baru mendapatkan mobil ‘iman’ beberapa bulan yang lalu sebagai kado ulang tahun. Sebenarnya, mobil adalah sesuatu yang sudah saya minta dalam doa dari tiga tahun yang lalu. Saya dulu berpikir, kalau punya mobil berarti bisa lebih bebas pergi ke mana-mana, bisa lebih bebas menjalankan pelayanan dan jauh lebih irit waktu. Bagian terpenting dari impian saya punya mobil adalah bahwa saya bakal bisa worship sekencang-kencangnya selama perjalanan.
Saya ingat dengan jelas, pada malam beberapa tahun yang lalu saya berdoa dengan sungguh-sungguh meminta mobil, saya mengutarakan bahwa saya takut membebani Papi dengan biaya pembelian mobil yang tidak murah di Indonesia ini. Uang 200 juta itu kan bisa buat kuliah, hidup beberapa tahun, dan sebagainya... Tapi, saat itu saya mendengar Roh Kudus berbicara dengan tegas: “Kamu tidak akan keluar uang sepeser pun untuk mobilmu nanti!” Saya mengimani kata-kata itu sampai tiga tahun, dan itu terjadi. Papi mendapat uang dari seorang kerabat yang jumlahnya melebihi biaya mobil yang saya incar!

“Itu semua buah iman,” kata-Nya.

“Namun ketaatan, harapan dan kasih juga menjadi kuncinya,” sambung saya.

“Benar. Andai kata kamu pupus harapan di tengah-tengah masa penantian tiga tahun itu, Aku bisa saja menarik mobilmu.”

Bahu saya langsung melorot lemas. “Lalu, Anda mau mengimplikasikan bahwa semua itu datangnya dari hati?”

“Dari hati yang dibimbing Roh dan Kebenaran Allah,” Ia melengkapi. “Firman itu sangat powerful bila diimani dengan benar dan dengan harapan, Nak. Tapi jangan lupa, manusia tidak dapat dan tidak akan pernah bisa mengetahui isi hatinya sendiri. Kalian terlalu lemah dan mudah goyah untuk mendengar kebenaran tanpa bimbingan Roh-Ku. Hal ini disebabkan oleh karena kalian masih mengenakan tubuh jasmani yang di-handicap dosa. Walaupun roh kalian merdeka di dalam-Ku, tubuh tetap daging, dan daging tetap akan mati dan membusuk. Tetapi rohmu itu abadi, lebih-lebih karena Roh-Ku berdiam di dalamnya.”

“Yohanes 14:26, ya...”

“Ya. Jadi, adalah bijak untuk menanyakan segalanya kepada-Ku dan kepada firman-Ku alih-alih hatimu. Hati sering menipumu. Suaranya sendiri tidak akan bisa membawamu keluar dari masalah dan kegelisahan yang dibuahkan oleh dosa di dunia ini. Namun aku mengerti keinginan hati, roh, dan yang terpenting, keinginan Bapa di dalam hidupmu.”

Saya tersenyum, mulai mengerti maksud Tuhan pelan-pelan. Hati bukanlah kunci segala jawaban; ia hanya sebuah kontainer besar yang isinya tidak dapat disortir dengan sempurna, bahkan oleh pemiliknya sendiri. Hati orang benar terpaut kepada Firman, namun itu belum cukup. Manusia membutuhkan kunci kerendahan hati dan iman untuk mengakui bahwa dirinya tidak dapat mengerti apa-apa dan meminta petunjuk Allah.
“Rasanya jadi lebih simpel, ya,” kata saya setelah berpikir sejenak. Semua hal terkait. Ia menciptakan segalanya saling berkaitan di dalam harmoni yang begitu indah dengan Roh-Nya sebagai perekat. Dosa memang telah meruntuhkan keindahan itu di dunia ini, tapi tidak menghancurkannya. “Anda dulu berpikir tentang apa ya saat menciptakan segala-galanya?”

Tuhan mengerjapkan satu mata dengan perlahan. “Kamu akan tahu saat kamu sampai di sini.”

Surga. Rumah. The thought of coming Home instantly eased my mind and heart from my worldly concerns.

“Terima kasih buat bincang-bincangnya, Tuhan. Saya harap Anda mau memegang hati saya terus supaya motivasi saya mengikut Engkau bisa terus disempurnakan setiap hari.”

“Doa yang Kuterima,” jawab-Nya lembut. “And you’re welcome.”

[ Read More ]

Beda Warna dengan Rumput Tetangga

Author : Felicia Yosiana Gunawan

26 Agustus 2012

Saya ini tadinya punya kebiasaan buruk: selalu merasa rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri. Singkatnya, saya adalah orang yang sangat jarang merasa puas. Tentunya, kalau sudah sulit puas seperti itu, maka saya juga adalah orang yang kalau bersyukur jadinya setengah-setengah. Yah, ini blog, kan... Jadi saya bebas dong menggunakannya untuk pengakuan dosa?
Ehem. Kembali ke topik bahasan tentang saya yang suka kurang bersyukur dan overambisius ini. Sebenarnya saya sudah sering ditegur oleh Firman Allah dan juga Roh Kudus supaya lebih bisa bersyukur, tapi apa mau dikata, baut di otak sudah berkarat dan sulit untuk dicabut. Butuh waktu yang lama bagi orang berkepala batu kayak saya untuk ganti program.

Nah, suatu kali, saya sempat tergampar oleh suatu pertanyaan yang biasa dilontarkan ke anak-anak Tim Doa: “Bagaimana cara kalian berkomunikasi sama Tuhan?”
Mendengar pertanyaan itu, saya—yang biasanya sudah punya mekanisme menjawab otomatis—tiba-tiba merasa di’cubit’ Roh Kudus. Saya tiba-tiba sadar, bahwa selama ini, saya tidak berbeda dari orang-orang yang menanyakan pertanyaan itu kepada saya.

Well, karena sifat yang susah bersyukur dan dipenuhi paradigma negatif, saya ini sering sekali bertanya-tanya bagaimana orang-orang sukses yang berhasil membuahkan banyak karya di dalam Tuhan bisa jadi sehebat itu. Saya sering bertanya, kira-kira mereka saat teduh berapa lama dalam sehari, bagaimana mereka memandang Allah, cara mereka menyembah, dan seterusnya. Bisa dibilang, saya terobsesi mempelajari cara hidup orang lain yang saya nilai telah cukup ‘sukses’ dibimbing Tuhan mendaki tangga kemenangan. Karena merasa rumput tetangga selalu lebih hijau en empuk dibanding rumput sendiri itulah saya sering sekali menghabiskan waktu mempelajari cara mereka merawat rumputnya.
Tapi ternyata, bukan itu yang Tuhan mau saya lakukan.

Hikmat mengajarkan saya saat itu juga, bahwa sebenarnya, menghabiskan waktu memperhatikan tetangga mengurus rumputnya itu percuma. Kenapa? Karena tipe rumputnya beda!
Yep, rumput saya dan rumputnya Cindy Jacobs beda. Begitu juga rumput Cindy Jacobs dan rumputnya Rebecca Brown. Semuanya unik dan butuh cara perawatan yang berbeda-beda; tidak bisa disikat sama rata. Jenis pupuk yang dapat membuat rumput Cindy Jacobs subur dalam waktu satu bulan mungkin saja malah membuat rumput saya langsung kering.

Tuhan ingin menunjukan bahwa Ia punya cara yang kreatif dan unik bagi setiap individual untuk bertumbuh di dalam-Nya. Memang, protokol-protokol dasar seperti pembacaan dan perenungan Firman secara rutin, berpuasa dan berdoa syafaat itu tetap berlaku bagi setiap orang percaya, tapi cara pelaksanaan dan timing-nya pasti berbeda-beda. Ia tidak akan memaksakan cara-Nya dalam mendidik saya kepada orang lain, dan begitu pula sebaliknya. Di situlah, menurut Roh Kudus, landasan setiap orang untuk bersyukur dan berharap kepada Allah.
Coba kita lihat sedikit contoh yang ada di Alkitab. Perhatikan baik-baik gaya hidup Rasul Paulus yang nomadik dan gaya hidup sederet tokoh Alkitab lainnya yang berbeda-beda warna. Ada Daud, gembala yang dipanggil Tuhan menjadi raja. Ada Yohanes, rasul yang dipilih Allah untuk menuliskan Kitab Wahyu pada hari-hari pembuangannya di pulau Patmos. Ada juga Yohanes Pembaptis yang dikhususkan sejak lahir dan hanya makan belalang serta madu. Nah, bukankah mereka semua punya gaya hidup di dalam Tuhan yang berbeda-beda?

Lihat: yang dipanggil menjadi Rasul berjalan dari satu kota ke kota yang lain dengan fokus menyebarkan Injil. Yang dipanggil menjadi raja berdiam di dalam istana dan sibuk mengatur negara serta urusan politik demi umat Tuhan. Mereka yang dipanggil menjadi imam senantiasa mondar-mandir di Bait Allah untuk melaksanakan panggilannya, dan saya rasa tidak perlu lagi saya sebutkan sederet perbedaan lainnya dalam hidup di dalam Firman Allah.
Maka, apakah semua orang dipanggil menjadi rasul? Tentu saja tidak, karena kalau iya, kita tidak usah repot-repot membuat rumah dari beton dan semen. Bikin saja tenda dan perkampungan nomadik, toh semua orang tidak butuh tempat tinggal permanen. Atau apakah semua orang dipanggil jadi guru? Ya, enggak lah. Kalau iya, siapa yang jadi murid, pedagang dan petani? Semua orang prajurit? Lebih horor lagi.

“Jadi, buat apa kamu manyun-manyun begitu lihat rumput tetangga?” tanya Tuhan.

Saya mingkem.

“Aku nggak kurang kreatif untuk selalu membuat jalan cerita baru dalam buku kehidupan setiap orang, kok,” tambah-Nya.

Manggut-manggut bego, saya menjawab, “Tambahin iman saya, dong, Tuhan.”

“Yang kamu butuhkan sekarang bukan iman. Percuma imanmu sekarang Kutambah kalau cara berpikirmu tidak diubah. Sama saja seperti mengisi bensin ke tanki bocor tanpa memperbaiki kebocorannya.”

Ouch.

Saya bisa merasakan di dalam roh bahwa Tuhan tersenyum. Tersenyum menantang dan iseng. “Jadi, apa yang harus kamu lakukan?”

“Mulai bersyukur sama kehidupan sendiri dan mendalami panggilan pribadi,” jawab saya monoton.

“Tuh sudah tahu.”

Oke. Dia memang Tuhan. Tuhan yang sangaaat mengenal anak bandel nan pembosan kayak saya.
[ Read More ]