Doa Bapa Kami – Penyerahan, Permohonan dan Pengampunan

Author : Felicia Yosiana Gunawan

Kelanjutannya tidak mengherankan. Setelah nubuatan, pengharapan dan doa, Tuhan Yesus menyatakan suatu penyerahan diri terhadap Dia yang Empunya Kerajaan tersebut dengan mengatakan, “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” Kalimat yang simpel namun dalam. Ini adalah pernyataan diri bahwa manusia, dan segala makhluk ciptaan, bukanlah siapa-siapa dan tidak berhak menerima apa-apa. Tuhan ingin mengingatkan akan suatu fakta simpel, yaitu bahwa setiap jiwa yang bernafas ada di dalam Kuasa Ilahi Bapa. Satu kata dari mulut-Nya, dan kita dapat langsung terjun bebas ke neraka ataupun kembali ke sorga. Bila ada fakta yang tidak berubah dari awal hingga akhir dunia ini dijadikan, maka fakta itu adalah bahwa Allah Tritunggal tidaklah dapat tertandingi dan mahasempurna.
Sebagaimana Mereka adalah sempurna dan kudus, maka kehendak Allah juga adalah sebuah kesempurnaan. Tidak ada yang mengetahui secara pasti apa maksud rencana dan rancangan-Nya. Tidak ada seorang pun yang dapat menandingi atau bahkan mengupas Hikmat-Nya. Bahkan Lucifer, yang dulu disebut Luciel dan merupakan malaikat agung yang mewarisi ‘kesempurnaan’ sebagai ciptaan Allah, tidak dapat menyaingi kesempurnaan ilahi sehingga ia dilemparkan keluar sorga karena pembangkangan hatinya. Maka, bila kita tahu bahwa kehendak Tuhan adalah sempurna hanya tinggal di-amin-kan, tidak aneh lagi bila Tuhan Yesus mendorong kita untuk meletakkan kehendak kita di bawah kehendak Bapa.


Lalu, kenapa ada frase yang mengatakan bahwa kehendak-Nya harus terjadi di bumi seperti di sorga? Mudah. Kita semua toh tahu sorga itu sempurna. Di sana penuh dengan atmosfer kekudusan, penyembahan, tari-tarian kudus, dan berbagai hal yang otak kecil milik kita ini tidak dapat tangkap dan mengerti. Buah dari semua aktivitas kudus dan sempurna itu pun sudah dituliskan di Alkitab: Kebahagiaan tanpa ujung, perasaan damai sejahtera yang tidak terlampaui apapun, dan kesempurnaan hidup di dalam Roh Kudus yang akan terus menyertai kita sampai selama-lamanya. Jadi, inilah yang Ia inginkan. Ia menginginkan kebaikan bagi setiap dari umat-Nya, dan hal itu hanya dapat dicapai dengan penyerahan diri dan kehendak atas segala rencana dan pekerjaan-Nya.

“Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya,” menyatakan suatu sikap merendahkan hati. Bila tadi kita telah mengatakan bahwa kehendak Tuhan yang harus terjadi di muka bumi ini, maka kalimat ini mendukung kalimat berikutnya—terutama seara individual. Apa yang manusia inginkan selalu jauh melebihi apa yang ia butuhkan. Coba saja sekarang tanya, mana ada orang yang sama sekali tidak menginginkan sesuatu yang melebihi kebutuhannya. Ini adalah sifat karnal atau daging yang telah diantisipasi Tuhan. Maka, untuk mengajarkan cara mengalahkan daging, Ia mengajarkan kalimat ini dalam Doa Bapa Kami. Ya, kerendahan hati adalah kunci untuk mengalahkan keinginan daging.
Saya yakin, dari antara kalimat-kalimat yang telah kita kupas bersama, kalimat ini adalah yang paling tidak enak untuk diterima. Yah, saya tidak tahu Anda bagaimana, tapi saya sih awalnya merasa cukup keberatan dengan kalimat simpel ini. Saya waktu itu bahkan sempat bertanya-tanya, “Jadi saya nggak boleh menabung? Nggak boleh membeli sesuatu yang berlebihan dari apa yang dibutuhkan tubuh fisik?” Dan, puji Tuhan, Ia menjawab pertanyaan kekanak-kanakan saya dengan Hikmat.

“Tidak begitu,” kata Roh Kudus. “Kamu bisa berpikir seperti itu karena definisi dari ‘cukup’ yang engkau interpretasikan berbeda dari definisi Bapa.”

“Jadi maksudnya Tuhan selalu punya arti kata ‘cukup’ bagi setiap orang?”

Ia tersenyum. “Tentu. Aku Allah yang pengertian dan memperhatikan setiap individu. Dan soal menabung, bukankah Amsal sudah menulis mengenai kata-kata hikmat soal hal itu?”

Nah, selesailah satu lagi protes dari sifat karnal saya.

Mari kita lanjut ke poin berikutnya. “Dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bseralah kepada kami.”
Yang satu ini sepertinya sangat jelas dan gamblang, ya. Mau protes seperti apapun, Tuhan sendiri yang menggariskan hukum mengampuni-Nya. Hukum yang simpel dan masuk akal, mengingat kita telah menyatakan bahwa kehendak kita harus tunduk kepada kehendak Tuhan yang mahabaik dan selalu menginginkan damai sejahtera dalam hidup umat-Nya. Ini hukum mutlak bila ingin diampuni Tuhan, dan tidak main-main pula karena Tuhan Yesus sendiri yang menyatakannya dengan tegas dan tanpa ba-bi-bu.
“Mau diampuni dan masuk sorga? Boleh. Mengampuni dulu,” kata Tuhan Yesus bila kita buat jadi bahasa sehari-hari.

Ada syarat kecilnya untuk masuk sorga. Mengampuni.

Lha, mengampuni kan sulit dan menyebalkan, kenapa dibilang ‘kecil’? Karena 1 Yohanes 2 : 12 menyatakan bahwa Allah telah mengampuni kita terlebih dahulu. Surat-surat Paulus juga mencatat bahwa Tuhan adalah Allah yang sangat baik dan mengampuni kesalahan jika saja kita mau mengakuinya dan bertobat—di mana bertobat termasuk juga mengampuni orang lain, tentunya.
Nah, sekarang mari kita hitung-hitungan sedikit sama Tuhan. Berapa kali kira-kira kita berdosa sama Tuhan setiap hari? Tentu saja, pikiran pun dapat berdosa, begitu juga dengna keinginan dan kedegilan hati. Jadi, hitung saja berapa lama dan berapa kali Anda merasa tidak bersyukur, memikirkan hal-hal negatif, mengeluh, bersungut-sungut, membenci orang lain dalam pikiran, atau bahkan mencuri kemuliaan Tuhan lewat pujian orang lain terhadap talenta pinjaman Anda.
Hmm... Lumayan juga, tuh. Saya sendiri tidak berani menghitung total hutang pengampunan saya akan Darah Kristus. Seperti kata Alkitab, harga penebusan seorang yang super-berdosa seperti saya ini terlalu mahal dan tidak mungkin dapat saya bayar.

Maka, apa inti perkataan Tuhan di sini? “Nggak sebanding sekali pengampunan-Ku dan luka hati-Ku dengan luka hati-Mu dan pengampunan manusia terhadap sesamanya.” Kira-kira begitulah yang akan Ia katakan bila harus saya tanya soal hal ini. Mau bagaimana lagi, kita yang satu derajat dan sama-sama masih makan nasi saja sulit mengampuni, bagaimana Seorang Tuan yang Mahatinggi bertahan dengan dosa dan pembangkangan miliaran ciptaan kerdil yang suka seenaknya sendiri? Puji Nama Tuhan atas kemurahan dan rahmat-Nya, karena Ia adalah Allah yang setia dan pengampun.
Satu poin tersirat yang Hikmat jabarkan kembali pada saya di sini berkaitan dengan poin mengenai kehendak-Nya yang terjadi di bumi seperti di dalam sorga. Sekarang pikirkanlah sejenak, jadi seperti apa isi sorga bila para warganya saling benci dan saling dengki? Rasanya akan jadi tempat yang suram. Puji-pujian pun pasti akan jadi menyebalkan karena harus melihat orang yang dibenci dan sama-sama menerima rahmat Bapa. Seram kan kalau sorga seperti itu? Bumi juga sama. Bila kita menginginkan apa yang ada di sorga, sebut saja rahmat, damai sejahtera dan kasih, dapat juga dirasakan di bumi, maka pengampunan adalah hal yang mutlak.

“Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.” Permohonan ini menunjukan bahwa manusia bukanlah makhluk yang mampu menang atas roh jahat dan segala perbuatan keji mereka. Kita ini bukanlah makhluk yang sepenuhnya rohani, juga bukan manusia super yang mampu membuat roh jahat berjengit seratus kilo dari tempat kita berdiri. Sebaliknya, kita ini santapan mereka, korban dan juga target. Tanpa Roh Tuhan yang Kudus dan senantiasa menyertai serta melindungi kita setiap detiknya, kita pasti sudah mati. Intinya, kembali ke kerendahan hati dan kesadaran diri bahwa kita membutuhkan Allah dan pertolongan-Nya yang murah hati.
Tuhan tidak mengajarkan kita untuk menantang bahaya, apalagi roh-roh jahat, dalam doa ini. Ia juga tidak memerintahkan ktia untuk berdiri dengan sok gagah di dalam doa. Sebaliknya, Ia mengajarkan pada kita untuk mengambil tempat yang paling rendah dalam berdoa kepada Bapa. Posisi yang rendah itu adalah posisi yang tentunya menyatakan betapa kita ini tidak mungkin aman tanpa perlindungan Tuhan, posisi yang sangat rawan terhadap segala rencana jahat si Iblis bila bukan Tuhan yang menghadang mereka.
Jadi jelas sudah, Ia tidak mengajarkan kita untuk berdoa sambil berbangga hati dan berbesar kepala.
Sebagai penutup yang deklaratif dan juga eksotik, Ia mengatakan, “Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan, dan kuasa, dan kemuliaan sampai selama-lamanya.” Bukankah kalimat ini sangat merangkum apa yang telah dibahas di atas? Kerajaan adalah punya Tuhan, jadi wajar bila Ia yang menentukan siapa yang layak atau tidak layak untuk masuk ke sorga. Tentu saja, Ia juga yang membuat standar dan syarat-syarat masuknya.
Kuasa menunjukan bahwa memang Allah Bapa adalah Pencipta yang memiliki kekuasaan dan kekuatan yang tidak tertandingi. Kuasa di sini, seperti yang telah kita bahas dalam beberapa poin, sangatlah tidak terbatas dan tidak terduga cara bekerjanya sama seperti kita tidak pernah mengerti seratus persen Hikmat Allah dalam pekerjaan-pekerjaan-Nya. Ia hanya menyatakan bahwa manusia harus percaya dan menyerahkan diri di dalam kerendahan hati kepada kuasa dan kebesaran Allah Tritunggal dan Ia pun akan bertindak untuk merombak kehidupan anak-anak-Nya dengan bebas.
Mengenai kemuliaan Allah yang layak dipuji dan disanjung oleh sluruh isi sorga dan bumi pun sudah cukup jelas. Ia mahamulia dan itu mutlak. Manusia kemudian hanya diberikan dua pilihan, yaitu diam dan menyembah di dalam kemuliaan Tuhan, atau hidup tanpa mengagumi ataupun menyembah Allah. Konsekuensi dari dua pilihan ini pun sudah jelas, tentunya. Makanan roh kita, selain Firman Allah, adalah penyembahan dan puji-pujian. Dari situlah sumber energi orang percaya: Kebenaran Firman Allah. Dan bila Firman Allah yang merupakan Kebenaran mutlak itu meyuruh kita yang percaya untuk menyembah di dalam roh dan kebenaran—seperti kata Yesus sendiri—maka sudah pasti ini tidak tanpa maksud yang krusial dan berarti.

Maka, sebagai kata penutupan paling akhir yang paling tepat, “Amin” pun mengakhiri doa singkat ini. Penyerahan total kepada rencana dan kebaikan Tuhan, itulah makna ‘Amin’. Yap, ‘Amin’ berarti ‘Terjadilah kehendak-Mu’, dan ini sangat pas untuk diucapkan sebagai manifestasi iman orang percaya di akhir doa deklarasi kepercayaan iman, penyerahan diri dan pengagungan.
Tentu saja, apa yang saya tulis di sini tidak mutlak dan berdasarkan tuntunan Roh Kudus kepada saya. Anda bebas menginterpretasikan arti dan filosofi iman dan roh dari Doa Bapa Kami sesuka Anda bersama Roh Kudus sendiri. Tapi satu hal sudah jelas, Doa ini merupakan doa simpel yang sangat merangkum semua aspek dasar kehidupan iman Kristiani.
[ Read More ]

Doa Bapa Kami – Pernyataan, Nubuatan dan Pengagungan

Author : Felicia Yosiana Gunawan

Apakah Anda hafal isi Doa Bapa Kami? Ya, saya sedang berbicara tentang doa simpel yang diajarkan-Nya secara pribadi kepada murid-murid-Nya ribuan tahun yang lalu. Saya yakin, sebagian besar dari Anda yang membaca tulisan ini pasti hafal. Saya juga hafal, berhubung Tuhan menyuruh saya untuk berdoa seperti itu setiap hari—yang, tentu saja, kadang saya suka telat atau bahkan lupa total...
Ehem. Bukan keteledoran saya yang mau kita bahas di sini, tapi isi doa simpel di atas. Sejak saya melakukan apa yang disuruh Tuhan, saya tidak pernah benar-benar mendalami makna dan filosofi Doa Bapa Kami sampai sekitar setengah tahun setelahnya. Dan begitu tabir Hikmat dibukakan kepada saya, kembali saya cengo akan betapa dalam dan luar biasa arti dari Doa Bapa Kami yang terbilang singkat dan mudah dihafal itu. Doa ini mengandung kerendahan hati, penyerahan total kepada kehendak Bapa, permohonan ampun, keinginan untuk memiliki hati hamba, dan peneguhan iman akan penyertaan Allah Bapa yang tidak ada putus-putusnya. Nah, izinkan saya membahas satu per satu apa yang Hikmat jelaskan kepada saya.

Matius 6 : 9 – 13 menyatakan doa simpel ini dengan indah dan to the point. Mari kita kupas pelan-pelan.

“Bapa kami yang di sorga,” menunjukan bahwa Allah, sekaligus juga Ayah atau Bapa yang kita sembah dan percaya dalam doa, tidak tinggal di Bumi ini. Ia tidak tinggal di alam semesta ataupun jagat raya buatan-Nya. Ya, Ia memang ada di mana-mana, dan kemuliann-Nya pun nyata dalam setiap karya tangan-Nya seperti yang Yesaya 6 : 3 katakan. Tapi kembali ke poin pertama, Tuhan Yesus, Anak Allah sendiri, mengatakan bahwa Sang Bapa tidak tinggal di dalam jagat raya ini. Ia memiliki tempat kediaman-Nya sendiri, tempat di mana takhta besar dan kudus-Nya merupakan sumber kehidupan dan pusat dari segala yang ada, yaitu tempat bernama sorga.

Kalimat simpel ini mengandung Hikmat dan Pengetahuan Ilahi paling dasar dari Kirstianitas, yaitu bahwa sorga itu benar-benar ada. Kenapa ini harus Tuhan tekankan? Karena Ia tahu bahwa sudah, dan akan muncul generasi setelah generasi zaman Yesus lahir saat itu, yang tidak mempercayai akan adanya kehidupan setelah kematian. Tidak usah kita jauh-jauh melihat referensi dari orang atheis, karena di dalam kelompok orang yang mengaku beragama Kristen pun ada yang tidak mempercayai keadaan sorga (dan neraka, seperti yang Tuhan Yesus sendiri telah sebutkan). Apa artinya? Bila apa yang Tuhan Yesus nyatakan adalah Kebenaran dan kita harus hidup berdasarkan dan bersama dengan Kebenaran tersebut, maka tidak mempercayai keberadaan dua tempat rohani ini merupakan penentangan terhadap Kebenaran yang Allah sendiri nyatakan lewat Putra-Nya.
Tidak ada negosiasi. Tuhan Yesus sendiri telah berkali-kali menyebutkan bahwa Firman-Nya, yaitu apa yang Ia katakan, adalah roti hidup dan kebenaran. Bila kita menolak makanan yang paling dasar dari doa yang Tuhan sendiri ajarkan, bagaimana kita mau melanjutkan ke kalimat selanjutnya?

“Dikuduskanlah nama-Mu,” adalah lanjutan yang sangat tepat setelah pengakuan bahwa Tuhan dan sorga sama-sama eksis. Kalimat ini adalah kalimat pengagungan. Ya, Anak Allah yang datang ke Bumi ini tahu benar Siapa Dia yang duduk di atas Takhta Kemuliaan dan Rahmat, dan karena itulah Ia menyembah dan memuliakan Bapa-Nya. Inilah juga yang Ia ajarkan kepada kita: Penyembahan dan pengagungan. Puji-pujian dan penyembahan adalah makanan dan sumber energi orang-orang percaya, dan ini bahkan telah menjadi sebuah norma dan keharusan serta kesenangan dari penduduk sorga sendiri. Apa buktinya? Baca lagi Wahyu, dan perhatikan ayat-ayat yang menyatakan betapa hebohnya malaikat-malaikat (dari segala jenis) dan orang-orang yang telah tertebus di sorga memuliakan dan menyembah Allah. Jadi, bila umat yang di bumi saja malas menyembah, bagaimana nanti bisa dijamin masuk ke tempat yang isinya penyembahan non-stop?

“Datanglah Kerajaan-Mu,” kata Tuhan Yesus. Perlu diingat bahwa pada saat Tuhan Yesus mengucapkan kalimat ini, Israel sedang dalam penjajahan bangsa Roma. Orang-orang Israel sangat menanti-nantikan Mesias atau Raja Damai, namun penantian mereka sedikit berbeda dengan apa yang Tuhan maksudkan saat Ia bernubuat lewat nabi Yesaya. Orang Israel pada saat itu menantikan seorang Raja yang agung dan perkasa secara manusiawi, raja yang mampu membebaskan Israel dari penjajahan dan mendirikan kembali kerajaan yang telah dibangun pada masa Raja-raja.
Tapi rupanya, penantian ini agak meleset definisinya. Tuhan Yesus tidak lahir di sebuah keluarga bangsawan ataupun di dalam istana megah. Ia lahir di kandang domba dan datang bukan untuk membebaskan Israel dari penjajahan Roma. Lebih ilahi dan luar biasa dari itu, Ia lahir untuk memebebaskan seluruh umat manusia dari penjajahan dosa dan maut. Dan apa yang Ia janjikan dan katakan selama masa hidup-Nya? Yaitu bahwa ada sebuah Kerajaan Ilahi yang tidak dapat terlukiskan di balik kehidupan manusia yang singkat ini, dan itu semua milik-Nya! Ia bahkan memegang kekuasaan untuk memasukkan dan menolak orang-orang sebagai warga negara Kerajaan-Nya, seperti pada saat Ia mendeklarasikan kewarga-negaraan penjahat yang mengakui dosanya di kayu salib.
Bukan hanya itu, Ia bahkan menjanjikan bahwa Kerajaan tersebut akan berdiri untuk selama-lamanya dan akan menguasai seluruh alam semesta—minus Neraka, karena tempat itu akan dikosongkan ke dalam Lautan Api pada saat Tuhan Yesus kembali ke Bumi dan mengalahkan Naga Tua seperti yang dituliskan di Kitab Wahyu. Jadi jelaslah bahwa kalimat ini menyatakan suatu nubuatan, harapan, sekaligus doa orang percaya, yaitu bahwa Kerajaan Allah benar-benar ada dan akan datang, entah kepada setiap individu secara pribadi (dalam arti kita ‘mudik’ ke Kerajaan tersebut), atau secara massal pada saat Pengangkatan dan Penghakiman Terakhir.

Bersambung... J
[ Read More ]

Back to Stage One - The Simple Truth

Author : Felicia Yosiana Gunawan

Setelah mengakhiri masa setengah tahun lebih digembleng gila-gilaan dalam bidang roh dan segala yang berbau Ilahi, maka saya pun masuk ke sebuah babak baru di akhir zaman ini. Ya, babak ini berjudul ‘Transformasi’. Kalau bukan ‘Perbaikan’, maka babak ini dikhususkan bagi saya, dan beberapa teman TD, untuk menyatukan apa yang kami pelajari di ‘Babak Roh’ ke kehidupan nyata yang lebih riil dan membaur. Saya mulai diarahkan Tuhan untuk ikut aktif di berbagai kegiatan organisasi, aktif dalam pelayanan ini dan itu di luar TD, dan segudang kegiatan lainnya yang lebih bertema sosial.
Sekedar info, ini adalah suatu pelajaran kecil bagi saya: Bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang memiliki musim bagi setiap anak-anak-Nya. Ada saatnya di mana kita akan digembleng gila-gilaan di bidang rohani sampai dikatai ‘aneh’, ‘ekstrem’ dan ‘sok suci’ oleh orang-orang yang tidak mengerti, tapi akan ada saatnya di mana Ia akan mengakhiri bab tersebut bila kita sudah dirasa mencapai target rohani-Nya. Ada juga saatnya di mana kita akan didorong untuk lebih aktif di kegiatan sosial, atau bahkan lebih aktif di belakang layar. Pokoknya, Ia tahu apa yang kita butuhkan. Saran kecil dari saya: Hiraukan saja orang lain mau bilang apa, toh mereka tidak tahu Anda sedang menjalani ‘musim’ yang seperti apa dari Tuhan. Manusia bisa berkata-kata dan menghina, tapi Tuhan yang memegang Palu Penghakiman. Jadi, selama Anda tahu apa yang Anda jalani, santai saja dan tetap melangkah di dalam Tuhan.

Nah, di babak baru ini tentu saya tidak berjalan sambil nyany-nyanyi tanpa beban. Sebaliknya, saya banyak jatuh, terperosok ke lubang keraguan, menabrak tembok-tembok paradigma serta logika, dan masih banyak lagi rintangan lainnya. Dan tentu saja, semuanya sukses membuat saya down, bete, capek serta marah-marah terhadap Tuhan. Mulai dari pertanyaan mengenai identitas diri, ambisi pribadi, karunia rohani sampai iman menghantui hidup saya selama sebulan penuh. Saya jadi bingung; saya merasa benar-benar dilempar Tuhan ke titik awal—seakan-akan semua yang saya lalui selama 18 tahun lebih tidak ada nilainya sama sekali. Saya merasa dibuang begitu saja, ditendang ke tempat pelatihan bicara anak batita rohani di mana saya merasa sudah siap untuk menjadi dewasa muda, terlebih di hadapan Allah. Rasanya kebenaran apapun yang saya temukan selalu dihancurkan di tengah-tengah.
Semua kejatuhan dan protes-protes ini membuat saya terus-terusan mempertanyakan logika dan rencana Tuhan. Saya tahu semua ayat yang menyatakan bahwa rancangan Tuhan itu tidak terduga, tidak teraba dan sempurna—membuatnya begitu jauh dari pengertian manusiawi saya. Tapi tetap saja, hati saya tidak mau menerimanya. Terkadang, pikiran dan hati saya suka berantem mengenai hal-hal ini.

“Gue nggak terima! Kenapa begini lagi? Kenapa Tuhan suka sekali lihat gue terpuruk begini?” jerit pikiran saya dengan murka pada suatu titik.

“Tapi bukannya Dia baik? Bukannya Dia selalu bekerja dalam cara-cara yang nggak bisa dipahami manusia?” balas hati—yang pasti bicara karena dikomporin Roh Kudus.

“Tapi kenapa Tuhan biarkan gue jatuh begini lagi? Bosaaan!”

Dan... masih panjang lagi skrip asli perdebatannya. Ini berlangsung selama kira-kira tiga minggu. Pikiran penat + super-sarkastis versus hati yang berusaha sok tabah dan menyerah kepada kehendak Tuhan. Lalu hasilnya apa? Saya menjauh dari Tuhan selama lebih dari dua minggu. Saya jadi malas berkontemplasi (karena berpikir bahwa itu tidak ada gunanya), malas berdoa (karena saya bosan menunggu), dan malas menyembah (karena saya merasa tidak layak).
Saya jadi malas dan mengeraskan hati. Saya mulai jadi lebih sarkastis dari biasanya dan nyaris tidak mau berkomunikasi dengan Tuhan karena malas kalau ‘salah sambung’ sama kedagingan sendiri atau si jelek. Keputusan egois saya waktu itu adalah, “Kalau emang gue dilempar terus ke level awal, mending gue nggak usah maju sekarang. Habis entar juga kan gue dilempar balik lagi ke sini... Jadi buat apa capek-capek merangkak ke level yang lebih tinggi kalau ujung-ujungnya sama ke sini lagi juga?”


Setelah capek-capek berdebat dan bersarkastis ria selama berhari-hari, akhirnya saya mulai bete sendiri sama perasaan stagnan dan tidak maju-maju. Alih-alih bertanya-tanya sambil ngomel-ngomel terus, saya akhirnya memutuskan untuk mengambil satu konklusi simpel: “Kebenaran milik saya adalah milik saya seorang. Orang lain punya Kebenaran mereka sendiri, tapi saya punya Kebenaran saya secara pribadi.”
Yap, sudah cukup Kebenaran saya dihancurkan terus oleh orang lain. Sudah cukup Kebenaran saya diusik oleh pandangan Hamba Tuhan A, Gereja Tipe B, atau Buku Rohani C. Saya punya Kebenaran simpel yang tidak bisa diutak-utik pandangan orang lain ataupun Iblis, sebuah fakta kecil yang akan terus menarik saya kembali untuk lari mengejar Tuhan dengan cara saya sendiri. Jesus loves me. Itu adalah Kebenaran saya. Dan kalau Ia mengasihi saya dan saya mengasihi Dia dan sungguh-sungguh mau mencoba mencari hidup di dalam Dia dan melayani, saya yakin Dia pasti akan turun tangan dan membimbing saya. Kalau saya benar-benar nekad ingin mengejar visi Tuhan, saya yakin Ia akan turun tangan membetulkan semua kesalahan-kesalahan saya dan mengajar saya mengenai apa yang berkenan pada-Nya. Itu saja cukup untuk saya yakini.

Kembali ke Garis Awal bukan menjadi masalah besar lagi bagi saya sekarang. Saya tahu Ia mengasihi saya, dan saya tahu saya juga penuh dengan kekurangan—sehingga Ia merasa perlu bagi saya untuk kembali ke sini dan mendalami berbagai pelajaran dasar. Rencana-Nya bukan rencana kecelakaan, minimal itu saya mau pegang. Kalau Ia merasa saya perlu kembali ke awal, maka itu adalah demi keselamatan dan pertumbuhan saya. Dan, harus saya akui, tidak buruk-buruk amat kok kembali ke Garis Awal. Saya jadi bisa lebih santai menghadapi serentetan tugas dan tuntutan karena saya memegang senjata terdasarnya: Tuhan mengasihi saya.
Tujuan saya membagikan ini kepada Anda adalah satu: Agar Anda juga termotivasi untuk mengukuhkan dasar-dasar di dalam Kristus, sesuai dengan Kebenaran yang Anda pegang dan yakini. Tidak usah terpengaruh dengan kata-kata orang lain, ambil saja yang baik, dan tilik lagi kebenaran perkataan dan pandangan mereka melalui Kebenaran Firman Allah. Tidak usah repot-repot memusingkan validasi perkataan A, dogma B, dan seterusnya... Pegang saja Kebenaran paling dasar, yaitu bahwa Tuhan mengasihi Anda. Hanya pertanyaannya, sudahkah Anda mengasihi Tuhan seperti Ia mengasihi Anda?
[ Read More ]

Menggombal..?

Author : Aloisius Kevin

Coba bayangkan Anda dan kekasih Anda sedang makan bersama di sebuah restoran mewah! Ia dan Anda duduk di sebuah meja dekat dengan jendela.. Udara pun mulai terasa hangat dan suasana restoran terasa tenang, Pijaran lampu kuning yang nyaman tutrut menghangatkan suasana. Alunan musik melantun indah di telinga Anda, memainkan lagu cinta favorit Anda. Langit yang cerah dan bintang yang berkelap-kelip melengkapi suasana Anda berdua, rasanya bagaikan mereka sedang berpihak pada Anda..
Ia menatap Anda dengan mata yang berkilauan. Kehalusan dan kelembutan terpancar dari raut wajahnya yang tenang. Tanpa sadar, tatapan matanya membuat Anda tersenyum kecil, memberikan sukacita dan rasa nyaman yang tidak pernah Anda bayangkan sebelumnya. Ia hanya terdiam sambil menatap Anda, dengan tatapan mata yang seakan-akan ingin memberitahu Anda sesuatu..

Senyuman kecil selalu terpancang pada wajah lembutnya. Dan seketika, ia mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Anda dengan lembut namun kuat,  berkata..

“My love is no ordinary one…
For I know what Love is, and for I know who you are..
If only you could know My desire to love you..
You will know…..
That I had loved you for thousands of year,
 and will always love you for a year of Eternity…
"

Apa yang Anda rasakan ketika dihadapkan pada situasi di atas? Saya pribadi sih, akan spontan merasa curiga sekaligus aneh. Dengan wajah datar dan sorot mata bete, saya hanya akan menggumamkan,‘Pasti ngegombaall…’ Yah, karena menurut kamus saya, setiap kata-kata indah yang terkesan dilebih-lebihkan itu sama dengan gombalan.

Gombalan, yang tadinya terkenal di kalangan remaja sebagai senjata penakluk hati wanita atau pria yang disukai, sekarang ini justru lebih dianggap sebagai bahan tertawaan. Kita lihat saja kenyataannya. Bagi mereka yang jomblo, gombalan dianggap sebagai bahan tertawaan. Bagi mereka yang mempunyai pasangan, gombalan dianggap sebagai obat cinta. Bagi mereka yang sering bergonta-ganti pasangan, gombalan dianggap sebagai senjata penakluk lawan jenis. Singkatnya, gombalan sendiri bisa menimbulkan berbagai macam efek, mulai dari ngakak sendiri, jijik, eneg, atau bahkan mabuk asmara.
Tipe-tipe gombalan juga sangat beragam! Ada yang terdengar sangat straight-forward, seperti ‘I will always lop you poreperr’. Ada juga jenis gombalan yang  bikin kita pengen makan mie, seperti ‘Papa kamu tukang mie ayam ya? Abis kamu membuat hatiku keriting bagai mie, sih..’

Tenang, saya bukan hendak membuat artikel tentang ‘1001 fakta tentang gombalan’ kok.. Yah, intinya, karena perihal gombal-menggombal di masyarakat ini, timbul satu pertanyaan di benak saya: ‘Sebenarnya, apa sih menggombal itu?’

Selama ini saya selalu berpikir bahwa gombalan adalah sebuah ungkapan yang disusun sok puitis. Tujuannya? Paling untuk main-main atau untuk membuat lawan jenis megap-megap  cinta. Akhirnya, lebih karena rasa penasaran dan iseng-iseng, saya akhirnya memutuskan untuk membuka kamus di laptop. Saya memainkan jari jemari mengetik kata ‘gombal’, dan menekan enter. .....Guess what. Ternyata arti dari kata gombal, jika diterjemahkan dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris adalah ‘false, empty’..
“Loh…Ternyata begini toh artinya…”, kata saya dalam hati. Izinkan saya untuk memperjelas. Yang dimaksud dengan kata false atau empty di sini adalah kata-kata yang kosong atau tidak memiliki arti. Yap, Anda benar. Yang namanya ‘gombalan’ bukan dilihat dari susunan kata-katanya, namun dari tujuannya.

Misalnya perkataan ini : ‘I will always love you’. Bagi beberapa orang, termasuk saya, ungkapan di atas terdengar seperti gombalan. Tapi dari pengalaman iseng-iseng saya membuka kamus, saya jadi tahu bahwa ungkapan di atas belum tentu sebuah gombalan. Ia hanya akan disebut sebagai gombalan jika orang tersebut tidak bersungguh-sungguh dalam ucapannya—jika  kata-kata tersebut tidak keluar dari hatinya.
Ungkapan tersebut baru bisa disebut sebagai  curahan hati jika orang yang bersangkutan bersungguh-sungguh dalam ucapannya.

Tuhan Yesus tiba-tiba nyeletuk, “Seberapa sering kamu menggombal sama Aku?”

 “Hmmm…Mungkin sangat sering ya Lord..” Wah, jangan-jangan.. Benar juga! “Ahaa!!”, seru saya dalam hati sambil mengangguk-ngangguk mengerti.

Implikasinya, di satu sisi kita selalu mengucapkan I lop You kepada Tuhan, sambil memintanya untuk memaafkan segala kesalahan yang kita miliki, tapi di sisi lain kita selalu mengharapkan Tuhan untuk maklum dengan segala dosa-dosa kita. Dengan santainya kita dapat berkata.. ’Maap ya Tuhan.. Saya khilaf… Love You dech.. Muaacchh’ Well, jika Anda berada di pihak Tuhan, maukah Anda memaafkan orang tersebut?

Bayangkan  saja Anda memiliki seseorang pacar  yang selalu mengatakan I love you kepada Anda di pagi hari, namun di malam harinya ia selalu bermesraan dengan orang lain. Kesel?  Marah?  Benci?  Keki? Seperti itulah yang Tuhan rasakan ke kita. Mungkin, jika saya berada di pihak Tuhan, saya akan langsung melemparkan orang tersebut ke neraka, menceburkan orang tersebut ke kuali panas sambil tertawa sinis, ‘Bwahahahahahahaaa…Makan tuh lope lope..’
Memang di satu sisi Dia akan mengampuni kesalahan-kesalahan yang kita perbuat, tapi di sisi lain kita AKAN dan SEHARUSNYA menuruti segala perintah-Nya, jika kita mengaku mengasihi Dia.

Yoh 14:15                  
“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.”

Saya mencoba membolak-balik halaman Alkitab dan ini yang saya dapatkan :

1 Yoh 3:18
“Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.”

Inti dari perikop di atas, Tuhan seakan-akan ingin berkata, ‘JANGAN CUMAN NGOMONG DOANG..BUKTIIN DONG!!! Katanya anak Tuhan..Kok bersikap kayak selingkuhan si jelek.??!!’

Jika kita selalu mengatakan ‘Aku mencintai-Mu Tuhan..Aku ingin menjadi hamba-Mu..’,
tetapi tidak pernah bersikap demikian, maka sebenarnya kita sedang MENGGOMBAL
terhadap Tuhan. Malah, lebih parahnya lagi, kita sedang selingkuh dengan dosa-dosa kita! Misalnya, pagi hari kita berdoa minta ini-itu, bilang I lop You sama Tuhan.. Namun, sepanjang hari itu, lantas lidah kita tidak dikekang--bukannya menyebarkan berkat, malah kutuk yang disebar.  Malam harinya, kita hanya berkata, ‘Maap ya Lord…besok gak lagi deh..’. Keesokan harinya? Hal yang sama kembali terulang.
Helllooooooo…!! Bukankah itu artinya Anda sedang menggombal dengan Tuhan?
Bukankah itu artinya Anda sedang selingkuh dengan dosa kita
? Bukankah Dia adalah Tuhan yang melihat dan mengetahui isi hati kita? Percuma saja kalau kita berharap bahwa dengan menggombal Ia akan terbuai dan terus-terusan memaklumi kita, kalau kata-kata yang kita keluarkan bukan berasal dari hati kita.

Jadi, singkatnya, jangan hanya bilang ‘I lop You’ sama Tuhan, tapi benar-benar kita buktikan melalui pemikiran , perbuatan, perkataan, hati, dan bahkan tubuh kita sendiri. Jangan pernah mau dibilang selingkuhan dosa, tapi mari kita buktikan bahwa kita adalah kekasih Yesus yang sejati.
Godspeed.
[ Read More ]