Mimpi - Jalan Berbatu

Author : Silvia Gautama

Saya membuat janji untuk makan bersama dengan seorang teman dalam mimpi ini. Setelah kami makan bersama, saya tahu saya seharusnya menemani teman saya dalam kegiatan kami bersama, tapi entah kenapa, saya langsung pulang. Dan begitu saya mau langsung kembali ke kampus, tiba-tiba turunlah hujan deras. Namun, berniat tidak kalah sama hujan, saya ngotot berjalan kaki dengan modal payung menuju kampus saya.
Anehnya, tiba-tiba suasana kampus saya mendadak berubah menjadi suasana sebuah rumah sakit bersalin. Dan saya ingat saya saat itu hendak memberikan kado kepada salah seorang dosen saya. Namun ternyata bukan itu yang saya lakukan; alih-alih memberinya kado, saya malah memberikan tas saya dan seluruh barang yang ada di dalamnya.

Adengan berganti. Tiba-tiba saya ada di gedung kost saya. Saya ingat saya sedang meminta KTP saya difotokipi. Namun yang aneh, KTP saya tidak dikembalikan dan saya hanya menerima hasil fotokopinya saja. Dan secepat yang saya tahu, saya telah berada di sebuah lokasi lain.
Saya berada di sebuah jalan yang lurus dan berbatu. Saya tahu tujuan saya sudah terlihat di depan mata, tapi rasanya itu masih jauh sekali...! Selama saya berjalan di sana, ada banyak tukang bangunan dan mereka menggoda dan memanggil-manggil saya dengan tidak sopan berkali-kali. Akhirnya, saya marah dan membentak mereka (saya jadi galak mendadak, saya sendiri saja sampai kaget bisa begitu), dan untungnya, mereka mundur. Saya pun sampai di tujuan.
Mimpi berakhir.




Arti mimpi menurut Hikmat:

·         Makan bersama teman maksudnya adalah menyantap makanan rohani. Di sini, kami bertumbuh bersama sebagai anak Tuhan yang tergabung dalam komunitas Tim Doa.

·         Keharusan menemani sang teman yang diabaikan author adalah adanya kemungkinan kita meninggalkan saudara seperjuangan kita dalam Kristus. Bisa jadi, justru di saat-saat dibutuhkan kita malah tidak mau menjadi saudara bagi mereka.

·         Aksi saya kembali ke kampus adalah peringatan bahwa manusia dapat saja kembali ke kehidupan lama mereka dan mengabaikan panggilan Tuhan.

·         Hujan deras yang turun tiba-tiba adalah aksi sabotase dari Tuhan sendiri. Ia tidak akan begitu saja melepaskan anak-anak-Nya kepada dunia.

·         Pemakaian payung adalah aksi manusia untuk lari dari tempaan Tuhan yang sebenarnya bertujuan untuk menyempurnakan kita di dalam Dia dan mengembalikan kita ke jalan-Nya.

·         Kampus author yang tiba-tiba berubah jadi rumah sakit bersalin adalah perubahan yang Tuhan lakukan kepada hidup kita. Rumah sakit bersalin menandakan kelahiran baru dalam Roh Allah sendiri. Ini juga mengandung arti bahwa keadaan kita yang sekarang ini seperti seorang wanita yang sedang mengandung (Roh Kudus maksudnya), dan siap melahirkan—yaitu pada saat Pengangkatan, dalam arti menuai hasil jerih payah dari “masa 9 bulan mengandung”.

·         Jalan lurus berbatu adalah jalan anak-anak Allah menuju Rumah di Sorga. Jalannya sudah jelas, tidak menyimpang sana-sini, dan penuh dengan halangan serta rintangan.

·         Mas-mas tukang bangunan yang kurang ajar adalah si Iblis dan antek-anteknya.

·         Aksi saya membentak mereka menunjukan bahwa apa yang dikatakan TuhanYesus masih berlaku: kita diberi kuasa untuk menginjak ular tedung dan mengusir Iblis di dalam otoritas Nama Yesus.

·         Saya yang akhirnya jadi memberikan tas dan seluruh isinya ke dosen saya adalah inti dari hidup kudus kita di Bumi. Yap, Ia ingin kita menyerahkan semuanya dan bukan hanya sepertiga atau setengah dari diri kita.

·         KTP yang difotokopi dan hanya dikembalikan hasil fotokopinya adalah penyerahan identitas diri kita ke tangan Tuhan, Allah yang memiliki rancangan sempurna atas hidup kita. Ini sama juga dengan aksi penyangkalan diri yang disebut-sebut Tuhan Yesus sebagai syarat mengikut Dia. Kita bukanlah lagi kita yang dulu—manusia lama—saat kita benar-benar berkomitmen untuk ikut Tuhan.


Validasi : Galatia 6:2, Kisah Para Rasul 13:10, 2 Korintus 5:17, Matius 16:24, 1 Petrus 2:2, Yohanes 3:3, Yohanes 3:6-7, Markus 16:17-18, 1 Yohanes 4:4, Galatia 6:1, Markus 8:35, Efesus 4:20-24, Mazmur 91:13.
[ Read More ]

Mimpi - Posisi dan Penggantian

Author : Vanessa Giovani


 Saya sedang berada di dalam pesawat dan duduk di salah satu kursi penumpang. Entah bagaimana, saya kemudian berdiri tiba-tiba dan meninggalkan kursi saya. Namun, sebelum saya sempat kembali untuk duduk di sana, saya melihat ada orang yang baru saja akan menempati kursi tersebut. Sempat saya terpikir untuk ganti menempati kursinya, namun saya merasa tidak enak mengambil kursinya begitu saja.
Anehnya, saya tidak menegor orang yang hendak menyabotase kursi saya, dan malah mematung—padahal pesawat baru saja mau take off. Dan kemudian, entah bagaimana orang tersebut kembali ke tempatnya semula dan duduk manis. Saya pun terbangun.

Arti mimpi menurut Hikmat:

·         Pesawat melambangkan ‘transportasi’ Pengangkatan, di mana anak-anak Allah akan segera diangkut kembali ke Rumah Bapa.

·         Aksi author meninggalkan kursi adlaah analogi bahwa tetap ada kemungkinan orang yang sudah dipilih Tuhan untuk Terangkat itu ‘mangkir’ dari tugasnya dan menjadi ‘tidak layak’ lagi di mata Allah. Ini banyak terjadi, baik karena kurangnya rasa tanggung jawab, sikap serius, menyepelekan posisi yang telah ditentukan Tuhan, atau bahkan kembali mengejar dunia.

·         Author yang pasif dalam menegur orang yang hendak mengambil kursi melambangkan kepasifan anak-anak Allah melawan arus dunia. Setan tentu ingin menjatuhkan kita dari posisi kita, dan kita tidak boleh duduk santai-santai saja menghadapinya.

·         Analogi keseluruhan pesan mimpi ini adalah peringatan dari Tuhan akan betapa Ia adalah Allah yang keras dan disiplin. Ia adalah Tuhan yang menumbuhkan dan menghancurkan, memilih dan mencabut. Ia dapat dengan mudahnya mencabut orang-orang yang tidak sesuai dengan visi-Nya dan mengisi posisi kosong tersebut dengan hamba-Nya yang Ia lihat lebih kompeten. Sama seperti Tuhan mencabut Saul dari posisinya sebagai raja dan menggantinya dengan Daud yang lebih cinta Tuhan, hal yang sama masih berlaku di zaman ini.

·         Ia pun adalah Allah yang tidak segan-segan memusnahkan orang-orang yang bengkok hati dan tidak satu visi dengan-Nya, sama seperti saat Tuhan membunuh ribuan orang Israel di padang gurun dan hanya menyisakan Kaleb dan Yosua—hamba-hamba-Nya yang setia dan penuh iman.



Validasi : 1 Samuel 15, Ibrani 12:6, 1 Korintus 3:13, Bilangan 14, Roma 11:17-21.
[ Read More ]

Mimpi - Duel

Author : Benedictus Harvian

19 Februari 2012.

Belakangan ini, saya ikut merasakan apa yang Sister Feli rasakan tentang ‘kena sita’ sama Tuhan. Hanya berbeda objek sedikit. Karunia pengarti mimpi saya masih jalan, puji Tuhan. Tapi yang membuat saya agak frustrasi, saya TIDAK BISA MENULIS!! Rutinitas saya sekian hari ini adalah: bangun, buka laptop, utak-atik Ms Word untuk menulis kesaksian supaya dapat ditaruh di blog, bolak-balik menghapus tulisan yang baru diketik sedikit karena mandek, lalu setelah hampir satu jam saya nyerah dan menutup laptop dengan tampang bete. Tidak pernah sesulit ini untuk menulis testimoni...! Rasanya bagaikan urapan untuk menulis—kalau memang ada—itu dicabut sama Tuhan!
            “Gara-gara loe sendiri,” batin saya ke diri sendiri, ”yang mangkir nunggak-nunggak nulis testimoni waktu itu, tahu...!”  Ampun, Tuhan... Sepenuhnya salah saya... L
            Ehem. Jadi, masuk ke intinya. Saya memohon kepada Tuhan untuk memberikan saya pengelihatan atau mimpi yang bisa dituliskan—nggak perlu banyak brainstorming dan penyusunan bahasa, soalnya—dan Ia mengabulkan hal tersebut. Betapa Allah kita adalah Tuan yang baik! Saya langsung dapat mimpi! Saya dapatkan ini kemarin saat tidur siang.


            Kesadaran pertama saya adalah bahwa saya berada di sebuah daerah terbengkalai ala padang pasir, dengan langit yang merah dan keadaan kering kerontang. Mencekam juga, kalau diingat-ingat. Tangan saya memegang sebuah spatula dan membolak-balik sesuatu yang tidak begitu jelas di wajan—ah, saya sedang memasak rupanya. Saya ingat bahwa kompor dan perangkat masak lain tertata lengkap di daerah terbuka padang gurun itu. Tiba-tiba, saya merasakan keberadaan pendatang lain di daerah yang terisolasi itu.
            Keberadaan yang mencekam! Spontan Sensor Roh saya aktif dan mewanti-wanti pikiran saya akan adanya bahaya. Dengan berjalan menyeret-nyeret kaki dan mengoarkan hawa menyeramkan khas kepunyaan roh jahat, sosok ‘pendatang’ tersebut semakin mendekat. Ternyata ia berwujud mirip manusia--seorang laki-laki muda, lebih tepatnya. Namun, rasanya tidak ada manusia normal yang dapat mengeluarkan keberadaan roh jahat sebesar itu! Saya berpekulasi kalau ia kerasukan atau memang hamba setan.

            Ia kemudian menengok ke arah saya dan mendengus garang. Apakah ia sedang bersiap-siap untuk menerjang saya? Untuk beberapa alasan, saya sama sekali tidak gentar dan hanya menatapnya balik dengan ekspresi datar—bahkan saya masih memegang spatula dan mengurus sesuatu yang sedang saya masak! Sedikit kelegaan memancar saat orang tersebut berpaling dan meneruskan jalannya. Saya kembali memusatkan fokus sepenuhnya pada masakan.
            Selang beberapa saat, saya mendengar kericuhan di kejauhan. Teriakan-teriakan histeris bergaung kuat. Merasa tidak bisa mengabaikannya, akhirnya saya meninggalkan masakan dan bergegas menuju TKP. Saya mengklaim seluruh Perlengkapan Senjata Allah selagi berlari dan merasakan bobot tubuh saya memberat karena Armor tak terlihat yang mulai terpasang di seluruh tubuh saya.

            Betapa terkejutnya saya melihat si orang bermata merah sedang mengobrak-abrik perkemahan penduduk di situ! Perkemahan tersebut lumayan besar dan didiami banyak orang, ditilik dari jumlah orang yang berlarian ke sana ke sini. Si Mata Merah (mulai sekarang saya akan menyingkatnya begitu, untuk alasan kepraktisan) berlari menuju seorang ibu paruh baya yang sedang menggendong bayi. Teriakan histeris si ibu menggerakkan seluruh sel tubuh saya untuk berlari sekuat tenaga demi melindunginya! Action dimulai! (Yeah!!!)

            Untunglah, saya tepat waktu. Si Mata Merah tidak butuh pemberitahuan tambahan akan tantangan bertarung ketika ada yang menghalangi usahanya untuk menyerang sasaran. Ia langsung saja ganti menyerang saya, berusaha menebaskan sesuatu yang ia genggam kuat-kuat kepada saya. Refleks terlatih membuat saya mengangkat tangan kiri untuk memblok serangannya. Bunyi desingan metal berdengung saat benda logam yang ia tebaskan menghantam Shield of Faith yang terpasang di lengan kiri saya. Rupanya ia membawa pedang! Kilauan logam itu sempat saya tangkap sesaat sebelum ia menariknya kembali.
            Tidak mau kalah, saya menekan balik dengan Sword of Spirit di tangan kanan. Hanya butuh beberapa sabetan pedang untuk menyadari bahwa lawan juga memiliki perisai dan armor lengkap. Ia lalu menyeringai tanda menantang di tengah aksi pedang kami yang sedang beradu. Alis mata saya berkerut sedikit sebagai respons. Kami saling mengelakkan diri ke belakang dan saling berputar dalam lingkaran, waspada dan siap menyerang balik.

            Ini di luar dugaan saya. Dengan perawakan seperti itu, saya sempat mengira lawan adalah tipe musuh yang sembrono dan bodoh, tipe yang mudah untuk di-outsmart dengan beberapa langkah saja. Kenyataan pertarungan membantah dugaan tersebut. Ia tipikal prajurit pembunuh terlatih yang penuh akal bulus dan licik!
            Ini membutuhkan pergantian strategi, batin saya dalam intensitas aura duel tersebut. Sepersekian detik memutar otak dengan genting membuahkan satu keputusan: Saya akan menyerangnya dengan hati-hati dan penuh perhitungan, menunggu celah terbuka! Pemikiran itu bergaung di benak saya bagaikan sangkakala tanda mulainya pertarungan kembali ketika kami sama-sama berderap maju.
            Menghindar, menebas, memblok serangan, bermanuver... Rangkaian pertarungan terus berkelanjutan seiring saya membawanya menjauhi perkemahan ke padang pasir terbuka. Pedang saya mulai terasa sangat berat. Dan, oh, perisai saya juga! Ada apa gerangan? Apakah kelelahan yang menurunkan stamina fisik saya? Apapun itu, saya tidak sempat memikirkannya karena serangan dari musuh semakin kalap.


            Tiba-tiba saja, scene berganti. Saya melihat lantai putih dan lemari coklat... Juga ada jendela dengan kusen biru di dalam adegan baru ini. Dalam pandangan saya yang terbatas karena masih beringsut dalam pertarungan, saya segera menyadari kalau ini adalah rumah saya sendiri! Kesadaran itu mencurahkan kekuatan baru yang misterius pada saya. Saya berhasil menekan sang lawan dan memojokkannya ke sudut, hanya untuk mendapati bahwa ia semakin garang dan membabibuta dalam serangannya ketika terpojok.
            “Tuhan, berilah kekuatan padaku buat menunjukkan bahwa kekuatan-Mu lebih besar dari dia!”

            Pada seruan itu, saya membuang pedang yang saya genggam dan entah bagaimana berhasil menangkap lawan pada kedua tangan dan menjejakkan kaki kanan saya kuat-kuat ke depan, tepat mengenai dadanya. Gerakan tersebut membawanya jatuh ke tanah. Ia meronta-ronta dengan putus asa. Saya mengencangkan kuncian dengan air muka tegas.

            “Udah kebukti kan, loe nggak punya kuasa!! Kuasa Tuhan gue doang yang besar!!”

            Hentakan itu berhasil membuatnya terdiam. Perlahan, wajahnya berubah menjadi wajah seseorang yang menyerah.

            Dan saya pun terbangun segera dengan frantic, sementara Tuhan dengan kalem menyuruh saya mencatat mimpi itu.


            Seperti biasa, izinkan saya untuk membagikan apa yang saya dapat dari Hikmat:

·         Padang pasir menggambarkan dunia, dengan kekering-kerontangannya akan Hadirat Tuhan.

·         Saya yang sedang memasak adalah gambaran anak-anak Tuhan yang bekerja untuk Dia. Walaupun di tengah padang gurun sekalipun, Tuhan akan menyediakan seluruh fasilitas masaknya. Analogis sekali, bukan? Ia pasti menyediakan—seperti Nama-Nya, Jehovah Jireh (God who Provides).

·         Si sosok bermata merah adalah si jahat atau hamba-hambanya. Ia tidak menyerang saya saat itu juga karena saya sedang berada dalam proteksi penuh Tuhan. Seperti yang Anda tahu, Iblis tunduk pada kode etik dari Tuhan sendiri. Seperti yang dikatakan Firman, Tuhan adalah tembok api di sekeliling kita. Dan apa yang menyebabkan Iblis punya hak untuk menyerang kita, atau bahkan mengambil kontrol atas tubuh kita? Dosa. Pelanggaran akan Firman Allah menyebabkan adanya pintu masuk bagi mereka.

·         Perkemahan orang-orang adalah himpunan orang percaya. Arti yang disisipkan Hikmat agak miris, sebenarnya... Mereka ini tidak siap dengan serangan Iblis sehingga diporak-porandakan dengan mudah. Kita harus selalu waspada dan siap, kata Tuhan. Tidak ada persekutuan atau gereja manapun yang boleh me-neglect peperangan rohani. Prajurit harus terus siap kapanpun ada panggilan tugas bela negara, bukan?

·         Selanjutnya, si Mata Merah itu sendiri. Dalam mimpi saya sempat tertegun sejenak karena ia lebih kuat dari yang saya bayangkan. Ini memberi pesan untuk tidak memandang rendah lawan kita. Tentu, kita tidak usah takut sama sekali karena Bapa yang menyertai kita jauuh lebih besar. Namun bukan berarti kita dapat menganggap enteng mereka juga.

·         Kekuatan baru yang misterius yang saya dapat ketika scene berganti menjadi rumah saya adalah OTORITAS. Saya punya otoritas dan hak yang lebih untuk mengusir dia keluar karena itu rumah saya sendiri. Itu juga yang Tuhan tekankan, yaitu untuk menerapkan otoritas dan kuasa yang sudah kita terima dari Dia dengan sepenuhnya. Hal ini juga melambangkan Zona Kudus. Akan lebih mudah bertarung di kandang sendiri (zona yang telah dikuduskan terlebih dahulu—misalnya dengan pujian penyembahan, pemberian materai dengan media dan seringnya dibuat berdoa).

·         Kemenangan saya dapat ketika saya menyerukan permintaan tolong pada Tuhan. Kemenangan adalah milik Tuhan, peperangan rohani seperti apapun adalah milik Tuhan, dan kita tidak boleh lupa bahwa kita tidak sanggup apa-apa di luar Dia.

[ Read More ]

Starting Over

Author : Felicia Yosiana Gunawan

16 Febuari 2012.

Saya benar-benar dalam keadaan kalut. Entah kenapa, perasaan saya agak aneh: ada perasaan pingin guling-guling sendiri, teriak-teriak, dan emosi membuncah namun diselingi rasa grogi dan uring-uringan untuk mencari penyebabnya. Setelah saya memaksakan untuk masuk ke dalam penyembahan, barulah terkuak apa penyebab kegalauan di Kamis malam tersebut: perasaan ingin berontak
Yep, saya pingin berontak dan menerobos segala jeruji yang menghalangi jalan saya untuk mencapai Tuhan. Saya merasa, hidup saya benar-benar dirintangi oleh segudang protokol buatan manusia yang membatasi gerakan Tuhan. Ini bikin bete! Saya nggak suka sekali dibatasi, apalagi dalam hal berhubungan dengan Tuhan. Anda minta contoh? Salah satunya adalah protokol dalam ‘pembaptisan Roh’. Ada beberapa aliran yang bikin saya gerah dalam hal ini... Ada segudang pengkotak-kotakan dalam tubuh Gereja—terutama mengenai tema di atas. Dan saya merasa semakin tertekan dengan dinding-dinding menyebalkan ini. Saya mau bebas! Saya mau lari mengejar Tuhan dan tidak mau terperangkap di ruangan kecil ini!

Maka, berniat menjebol perasaan terhalangi tersebut, saya berdoa teriak-teriak dalam roh kepada-Nya. Dan ini diperparah keadaan roh saya yang lagi homesick dan haus parah akan hadirat Allah. Jadilah malam itu ajang pemberontakan terhadap daging sendiri.
“Tuhan, aku nggak mau lihat manusia! Saya nggak cari hamba-Mu, saya nggak cari pendeta atau manusia—saya mau cari Engkau! Engkau saja cukup!” jerit roh saya histeris. “Saya nggak mau terkekang begini, saya mau bebas di dalam hadirat-Mu!”

Dan persis saat itu, saya melihat pengelihatan kilat: saya melihat tubuh roh saya sendiri sedang berteriak-teriak histeris sambil mengguncang-guncang sel besi yang mengurung roh saya. Saya tidak tahu itu kerangkeng apa, tapi saya tahu pasti ini menghalangi saya untuk sampai ke hadirat Tuhan. “Bukaaaaaaaa!” jerit saya. Tubuh jasmani saya meresponi teriakan itu dengan erangan kesakitan. Ini kedua kalinya saya merasa kesakitan secara nyata karena merasa tidak bisa menggapai Tuhan!
Dan karena aksi tersebut gagal mendobrak jeruji sel, tubuh roh saya mulai membentur-benturkan diri ke sel. “Buka! Bukaa! Keluarin gue!!! Gue mau ketemu Bapa!!!”

Pengelihatan berganti. Saya berada di suatu tempat di Ruang Takhta. Saya tidak persis berada di Ruang di mana Bapa berada, tapi saya ada beberapa ruang terpisah dari Ruang tersebut. Tubuh roh saya, sama seperti tubuh jasmani saya, sedang bermuka stres dan menangis marah-marah. Roh saya sedang dalam posisi bersujud saat itu, dan saya memakai Perlengkapan Rohani lengkap. Kemudian, dengan tampang jijik dan desperate, roh saya mulai membuka Perlengkapan Rohani tersebut satu-satu. Saya mengerti apa yang roh saya maksudkan: “Saya kembalikan semua Perlengkapan ini asal Anda mau biarkan saya mengenal Anda lebih jauh!”

Di dunia nyata, otak saya mulai berpikir sedikit ‘waras’... Apa yang kira-kira tubuh roh saya lakukan? Apa ini legal di mata-Nya?

Dengan kalut, saya mengalihkan perhatian ke Alkitab yang tergeletak satu jangkauan saja di depan saya. Roh Kudus mendorong saya dengan cepat untuk mencari validasi dari apa yang saya lakukan. Dan bum... Sabda bahagia di Matius saya temukan. “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.”

Roh saya rasanya langsung lompat begitu baca ini.

Namun, sebelum saya sempat mengatakan apa-apa lagi, Tuhan Yesus berkata, “Kamu tahu, jeruji ini punya fungsi kedua selain menahanmu.”

Saya manyun dan membatin, Apaaaaa? Jeruji nyebelin ini punya sisi lain?

“Ya,” kata Tuhan membaca isi hati saya. “Di luar jeruji ini adalah ‘dunia’ terbuka. Akan lebih mudah memang menemukan Aku di luar, tapi bahayanya juga meningkat berkali-kali lipat. Secara teori, kamu aman di dalam kerangkeng ini.”

“Dan saya akan terus diperlakukan sebagai anak-anak yang nggak bisa makan makanan keras?” tanya saya agak sebal.

Tuhan mengangkat alis dengan maklum. Hikmat segera mengalir bahwa ini adalah peringatan mengenai bayar harga. Ya, bayar harga untuk tumbuh dan mengenal-Nya lebih jauh lagi. Secara jiwa dan roh, saya langsung celingak-celinguk di dalam diri sendiri dengan frantic, mencari-cari apa lagi yang bisa saya gadaikan buat jadi harga bayaran ke Tuhan.


Beberapa jam setelah saya lebih tenang dan kalem, Tuhan menghampiri saya untuk mengobrol santai. “Sekarang kamu ingat rasa haus dan lapar itu.”
Memori saya akan pencarian kalut saya akan Dia pada masa-masa SMP dan SMA diputar ulang. Dan saya baru sadar, bahwa persis satu tahun yang lalu, kami—anak-anak Tim Doa yang masih baru cari Tuhan secara sungguh-sungguh—sedang bergila-gila ria di dalam pengenalan akan Dia. Roh Kudus menuntun saya, melihat lembaran-lembaran perjalanan kehidupan Tim Doa dari awal terbentuknya di awal tahun 2011 sampai sekarang.

Saya dibawa mengingat bagaimana dulu kami benar-benar semangat memuji dan menyembah. Hadirat Tuhan sangat bombastis saat kami, sekumpulan bocah-bocah dari berbagai kalangan, masuk ke atmosfer penyembahan. Kami belum tahu banyak soal Tuhan dan kegiatan komsel atau tim-tim doa lainnya saat itu. Kami juga dulu tidak memusingkan status Tim Doa yang tanpa pembina dan naungan gereja atau organisasi oikumene. Yang kami tahu, kami mau bergerak sama-sama untuk tumbuh di dalam Tuhan. Kami dulu akan sangat norak dan semangat bukan main kalau sudah membicarakan dan bercanda soal Tuhan. Ia Allah yang humoris, dan kami sangat terkagum-kagum dengan kerendahan hati-Nya yang mau memandang kelompok bocah-bocah nyasar ini.
Memang, secara pengetahuan, Hikmat dan pengenalan akan Allah, kami semua bisa dihitung sebagai batita-batita rohani saat itu. Tapi kami tidak pernah ambil pusing dengan protokol ini dan itu; kerjaan kami selalu tertawa dan menangis bersama setiap berkumpul. Walau sering dihakimi dengan berbagai cercaan aneh karena tidak punya figur orang dewasa dan pembina dalam kelompok, rasanya dulu kami tidak pernah memusingkan hal itu. Kami membela satu sama lain kalau ada orang yang menghakimi salah satu anggota, dan kami berdiri benar-benar bagi Tuhan dan Tim Doa bentukan-Nya dengan kasih dan keteguhan hati seorang anak yang mengasihi Bapanya. Rasanya begitu luar biasa!

Kami tidak mengerti banyak. Kami tidak tahu cara menyembah yang benar. Kami tidak tahu mengenai ini dan itu. Tapi dulu, kami semua haus akan Allah dan kami tidak lihat kanan-kiri untuk lari mengejar hadirat Kudus-Nya. Kami sekumpulan anak-anak yang berlari mengejar matahari walau orang-orang mengatai kami bodoh dan bermimpi muluk-muluk. Dan kami melakukannya dengan penuh gelak tawa dan kepercayaan bahwa suatu hari nanti, kami pasti menang di dalam iman itu.
Setelah beberapa saat mengingat titik awal Tim Doa, saya termenung... Apakah ini yang hilang dalam diri saya—kasih dan semangat di dalam Tuhan? Kenapa dulu saya bisa mengejar-Nya begitu rupa walau saya dihakimi dan terbentur sana-sini? Kenapa sekarang saya jadi lemah dan lebih sering berhenti berlari di tengah jalan dan ngambek sama Tuhan? Apa karena saya merasa Dia tidak adil dengan tidak memberikan kami seorang pembina rohani atau naungan? Atau apa karena saya kehilangan kasih yang murni layaknya anak kecil kepada Bapanya?

“Saya tidak mau ambil pusing,” kata saya akhirnya. “Saya tidak mau memusingkan cara, protokol, perkataan orang lain atau standar dunia. Saya mau cari Anda sampai dapat. Saya mau kenal Anda sedalam yang saya bisa.”

Tuhan mengangguk mendengarnya. “Itu resolusi. Tim Doa ini memang berbeda dari kelompok doa kebanyakan, tapi bukankah iman yang membenarkan kalian, yaitu bahwa kalian mengimani Akulah yang mensponsori kalian? Jangan kehilangan kasih itu. Jangan pernah kehilangan pengharapan.”

“Anda bisa lakukan apapun yang Anda mau, termasuk membawa kami Pulang saat ini juga.”

“Tapi kamu tahu jawabannya kenapa itu tidak Kulakukan.”

“Karena Anda adalah Allah akan proses.”

“Itu pelajaranmu selama delapan belas tahun berjalan dengan-Ku.”

Saya menarik nafas, mulai bisa merasa lega perlahan-lahan. “Terserah kalau orang mau bilang cara saya berjalan dengan Anda aneh. Bukannya dari awal juga Anda menjangkau saya dengan cara yang aneh? And still, I am nothing and don’t deserve anything.”

“Berjalanlah, nak.” Ia kemudian mengarahkan pandangan-Nya ke kejauhan padang rumput Alam Roh, tempat di mana kami sering bertemu sejak saya SMP. “Layangkan pandanganmu ke belakang jika perlu, lihat bagaimana Aku menggapaimu dan bagaimana engkau berlari mengejar-Ku. Lalu layangkan pandanganmu ke depan, kepada pengharapan, kepada Bapa dan tangan-Nya.”

“I want to start over,” gumam saya, memandang kaki sendiri. Lagu Under Grace yang saya putar terus menerus di kamar saya lantunkan perlahan, sedang Tuhan menyimak dalam diam dan kesunyian yang menenangkan. “My life’s forever changed by the Master. My life forever given to praise, and I’m forever grateful for my salvation.”

Dan sambil menyanyikannya sekali lagi—dengan Bapa, Tuhan Yesus dan Roh Kudus yang mendengarkan dalam keheningan kudus dan kasih—semua memori mengenai kehidupan saya terputar ulang: Saya diambil-Nya dari sampah. Saya diangkat-Nya menjadi anak. Dan Ia mengajarkan saya cara berjalan dan berlari.
Itu cukup. Itu semua lebih dari cukup.
Saya boleh sendirian, saya boleh terlahir sebagai anak tunggal... Tapi itu tidak akan mengubah kenyataan bahwa saya dihujani oleh Kasih Agape, bentuk kasih yang tertinggi dari segala kasih. Kasih Bapa sendiri. Dan saya tahu ada begitu banyak orang yang juga harus disadarkan mengenai Kasih yang luar biasa ini. Pikiran saya kembali berputar ke arah para penderita kanker, khususnya anak-anak.... Dan sambil berdoa sekali lagi dalam posisi bersujud bagi mereka, lagu yang sama saya biarkan terputar ulang.


“Rain, rain, come again, I pray. Heaven’s rain, rain, come again. Washing over all my sin. You are washing over all my sin.” —Under Grace
[ Read More ]