Maling Pedang

Author : Felicia Yosiana Gunawan

15 Febuari 2012.

Setelah lama nunggak nulis dan ini-itu, akhirnya saya merasakan penyitaan perdana oleh Tuhan. Hikmat Pengarti Mimpi saya disita! Bayangkan! Saya sampai planga-plongo mendengar hujan mimpi teman-teman TD... Biasanya tidak sampai begini! Justru sebaliknya, malah. Wuah, yang jelas ini menggampar sekali. Rupanya di sini Tuhan mau mengingatkan bahwa TD sudah lama ‘nunggak’ meng-upload testimoni mimpi blog—dan saya salah satu yang kena batunya karena sempat malas mengartikan juga. Maka, setelah saat teduh kalut yang sebagian dipenuhi dengan niat ‘membalas dendam’ dengan penggeberan tagihan mimpi ke anak-anak, Tuhan pun menjanjikan akan mengembalikannya bila saya sudah mulai bayar hutang.
Sesi pertama, permohonan maaf karena telah nunggak pun berlalu. Saya mulai meminta untuk di-briefing lebih jauh sama Roh Kudus mengenai rencana perombakan total susunan acara Tim Doa dan Tim Persiapan. Kenapa harus dirombak? Karena menurut Tuhan, kami—Tim Doa dan juga kerabat kami, komsel di Jogja—telah memasuki lembaran chapter yang benar-benar baru. Dan tentu saja, TD-lah yang akan pontang-panting paling parah karena kami harus mengejar level yang Tuhan inginkan untuk kami capai.

Sebelum saya masuk lebih jauh, sekedar info saja, tanggal 12-14 Febuari adalah hari-hari di mana Tim Doa dilawat khusus oleh beberapa saudara dari komsel di Jogja. Singkat kata, kami, yang tadinya hanya kontak di Alam Roh dan lewat telepon serta internet, bisa bertemu muka dengan muka. Rasanya janggal sekali... Di satu sisi saya senang dan masih sulit percaya bahwa Tuhan telah merencakan semua ini, tapi di sisi lain, saya mulai marah terhadap diri sendiri.
Tanggal 13 adalah tanggal di mana kami saling ‘tular-tularan’ api Roh Kudus di medan perang. Perang Tim Doa benar-benar akan berubah selamanya sejak tanggal itu. Level keganasan kami rasanya dipompa berkali-kali lipat, dan itulah pertama kali kami bermanifestasi fisik saat peperangan. Ada yang mulai gebuk-gebuk lantai—padahal tadinya dia paling parah juga cuma meninju-ninju udara. Ada yang antara meneriaki maling sama menengking roh jahat udah nggak ada bedanya. Dan ada yang bahkan sampai ketawa-ketawa anarkis sambil menghajar roh jahat... Pokoknya parah, deh! Saya, yang ditempatkan di belakang sebagai Rear Guard sampai hopeless melihat aksi membabi buta mereka. Sekarang saja saya sudah mulai berpikir untuk mengevakuasi semua barang pecah-belah dari ruang tamu dalam perang-perang selanjutnya... Rumah saya tidak diasuransi untuk dihancurkan penghuninya sendiri, tentu saja.

Tidak usah saya perjelas sekarang detail tiga hari fenomenal itu. Tapi yang jelas, selain rasa sukacita dan semangat yang didatangkan Tuhan dari pertemuan kami dengan saudara-saudari dari Jogja, hal itu cukup membakar saya. Saya jadi begitu marah pada diri sendiri. Saya sadar bahwa saya masih kekanak-kanakan, mudah sekali lari dari proses Tuhan dan mencari tempat pelarian. Saya lemah, mudah mengeluh, dan tidak mengerti ini-itu. Pokoknya, saya benar-benar marah sama diri sendiri!
“Kenapa kamu bisa begitu lemah?” hajar saya pada diri sendiri pada saat teduh tanggal 15. “I’m tired of being this weak! Saya capek begini terus! Saya bosan! Saya pingin cepat-cepat tumbuh di dalam Tuhan dan jadi hamba yang bisa dipercaya! Saya mau jadi kuat di dalam Anda, Tuhaaaaan!!!” jerit saya bete.

Saat itu, Tuhan hanya mengangguk-ngangguk santai sebagai balasan. Tanpa   berkata apa-apa, Ia hanya mengarahkan saya untuk mencatat poin-poin perubahan beberapa struktur TD dan mengingatkan saya akan hutang kerjaan ini dan itu.

“Ada urapan babu, Tuhan?” tanya saya lagi di sela-sela timbunan pelunasan hutang.

“Adaaaa,” jawab-Nya santai.

Malamnya, hal yang sama kembali berulang: saya kembali ‘marah-marah’. Tapi kali ini, saya nggak mau memendung kemarahan itu, saya pun berinisiatif melampiaskannya sama roh-roh jahat nan jelek yang kerjaannya menggerecoki saya dari dulu. Mulai dari membanting-banting roh najis sampai roh pembuta saya lakoni demi menyalurkan tenaga. Dan yang lucu, saya melihat bahwa kali ini, tubuh roh saya sedang mengayunkan dua pedang alih-alih sebuah saja. Biasanya, senjata saya adalah sebuah glaive yang  mirip claymore besar—namun tetap mudah digerakkan. Tapi kali ini, saya positif melihat ada pedang kecil di tangan kiri saya.
Saya jadi ingat mimpi saya sekitar bulan Desember. Di mimpi itu, saya ingat saya dipinjami Pedang Kembarnya Bro Aloisius Kevin. Mimpi itu juga rupanya jadi validasi senjatanya di Alam Roh yang sering ia lihat namun masih ragukan saat itu. Dan saya juga ingat Rachel pernah bilang ia melihat saya membabat roh jahat dengan dua pedang.

Di situlah saya mulai mikir, “Jangan-jangan ini gue rampas dari Aloi tanpa sadar?”

Dan sebelum saya sempat bertanya apa-apa, tiba-tiba pedang tersebut berganti model. Tuhan langsung berkata, “Aku kasih deh yang baru, daripada kamu ngerampas punya Aloi terus.”


Jadi... Ini merupakan testimoni pengakuan dosa terhadap Bro Aloi, wakil komandan Tim Doa kami. Maaf kalau pedangnya sering hilang satu... Sekarang Anda tahu siapa yang suka nyolong pedang demi melampiaskan kebarbaran di kala api peperangan lagi berkobar.

Sekian testimoni tersangka... :p
[ Read More ]

Mimpi - Kedekatan Kedatangan dan Penghakiman

Author : Meitri Angelina

Saya dan keluarga saya sedang pindah rumah dalam mimpi kali ini. Seingat saya, yang paling sering muncul dalam mimpi adalah bokap dan adik saya. Saat itu saya pindah ke rumah yang sangat mirip dengan rumah lama saya, hanya saja lebih luas dan besar.
Saat itu, saya sedang membersihkan bagian dalam rumah tersebut. Dan memang, bagian dalam rumah itu sudah bersih, rapi dan terang. Dan tiba-tiba saya merasakan sebuah kejanggalan. Ternyata, adik saya yang terkecil menghilang!
Keluarga saya juga tidak tahu ke mana anak itu. Dan karena tidak ada clue sama sekali tentang keberadaannya, saya kembali melanjutkan beres-beres rumah. Saat saya selesai, saya keluar dan kaget melihat bagian depan rumah baru tersebut yang berantakan! Ditambah lagi, ada banyak lukisan-lukisan aneh yang bikin saya merinding tidak enak. Kemungkinan besarnya, lukisan-lukisan horor itu adalah hasil buangan bagian dalam rumah. Namun anehnya, saya merasa sangat malas membereskan teras rumah. Setelah itu, saya pun hanya memutuskan untuk menguduskan rumah bagian depan dan mendeklarasikannya sebagai milik Tuhan.

Persis saat itu juga, adik dan ayah saya sedang menatap langit. Adik saya berkata, bahwa bulan hari itu terlihat aneh, dan ia segera memanggil saya. Awalnya, saya merasa sangat malas dan ogah-ogahan untuk melihatnya, tapi adik saya memaksa terus. Dan saat saya menurutinya, saya melihat bulan terbakar oleh lidah api. Setelah itu saya langsung berteriak, “Pengangkatan!” kepada keluarga saya. Namun, mereka cuek bebek! Bahkan mama saya sempat marah, sedangkan ayah dan adik saya malah diam membeku.
Saya mulai panik,dan saya teringat bahwa saya tidak dapat menemukan adik saya yang terkecil. Dan saat saya menatap langit untuk melihat perkembangan selanjutnya, saya melihat bola-bola cahaya putih yang terbang menuju langit seperti komet yang keluar dari bumi. Saya berpikir dengan kalut, jangan-jangan saya tertinggal Pengangkatan! Panik, saya segera berlutut dan berdoa mengakui semua kesalahan saya. Setelahnya, saya tidak dapat mengingat apa-apa selain balutan cahaya putih dan perasaan terangkat ke atas.

Saya sampai di suatu tempat, saya yakin. Tapi saya tidak tahu di mana karena saya tidak dapat membuka mata saya. Saya hanya merasa bahwa saya sedang tidur di tempat yang dingin. Tidak lama kemudian, saya terbang lagi ke atas. Perasaan terbang kali ini terasa sangat nyata! Dan secepat yang saya tahu, saya telah berada di tempat Penghakiman, dan ini giliran saya untuk dihakimi. Sang Hakim menilik saya cukup lama. Puji Tuhan saya akhirnya diizinkan masuk, dengan alasan bahwa saya berusaha mengampuni adik dan ayah saya.
Setelah lulus, saya merasa bahwa saya kembali ke tubuh anak-anak. Dan... Saya terlihat mengenakan piyama putih yang agak kotor dan sudah menguning. Saya bingung. Saya seperti berada di awan, di mana ada banyak orang yang sedang menantikan orang-orang terdekat mereka dengan penuh sukacita. Kemudian saya terbangun saat saya bertabrakan dengan seorang wanita yang mengenakan baju khas bangsawan Eropa zaman Victoria.


Berdasarkan tuntunan Hikmat, inilah makna mimpi tersebut:

·         Pindah rumah menandakan kelahiran baru dan komitmen untuk pindah dari keadaan ‘tidak mengenal Allah’ menjadi ‘sahabat Allah’. Analogi perpindahan ini pernah beberapa kali dipakai oleh para rasul dalam surat-surat mereka untuk menjelaskan perpindahan status kita dari orang-orang yang tadinya tidak mengenal Tuhan, jadi ‘dikenal’ sebagai kepunyaan-Nya.

·         Proses author membersihkan bagian dalam rumah adalah proses membersihkan hati dan inner self sebagai Bait Allah yang Kudus. Kata Alkitab, diri manusia itu terdiri dari tiga bagian, yaitu roh, jiwa dan tubuh. Pendobrakan dan gerakan yang dilakukan Tuhan selalu dari dalam ke luar, dari roh, baru ke jiwa dan tubuh. Dan setelah seseorang menerima Yesus, maka Roh Kudus akan dengan sendirinya berdiam di dalam roh orang tersebut, membersihkannya dari segala noda. Tapi bukan berarti roh itu tidak dapat kotor kembali. Hati—yang merupakan bagian dari jiwa dan bukan roh—juga demikian. Hati, bila tidak ditilik dan tidak rutin dibersihkan, tidak akan mampu melaksanakan kehendak Roh Kudus dengan baik. Bisa saja ada orang yang rohnya sigap dan tanggap akan Roh Kudus, tapi jiwanya malas dan ogah-ogahan dalam bekerja dan bersekutu dengan Tuhan.

·         Keputusan untuk mendeklarasikan bahwa bagian depan rumah adalah milik Tuhan Yesus adalah keputusan untuk bayar harga dan menempuh penempaan.

·         Bulan yang terbakar menunjukan betapa dekat waktu sekarang ini dengan kesudahan segalanya. Ini dicatat sebagai salah satu tanda akhir zaman dalam Kitab Wahyu.

·         Bola-bola cahaya putih yang terbang ke langit adalah mereka yang terangkat.

·         Adik terkecil author yang hilang menunjukan bahwa setiap anak kecil yang di bawah umur, memiliki kesempatan lebih tinggi untuk terangkat karena kemurnian hati mereka. Tuhan sendiri sering menganalogikan bahwa setiap orang-orang yang mau memasuki Kerajaan Sorga harus menyambutnya seperti seorang anak kecil.

·         Piyama yang menguning menunjukan ketidaksiapan untuk Pesta Perjamuan Kawin Anak Domba. Ini juga merepresentasikan keadaan batin seseorang yang bisa saja masih dianggap kotor di hadapan Bapa.

·         Awan di mana orang-orang menanti kerabat mereka dengan sukacita menandakan keadaan Sorga sendiri. Bukankah telah ditulis bahwa kita memiliki banyak saksi di Sorga seperti awan yang mengelilingi kita?

·         Wanita yang memakai baju pesta, gaun ala zaman Victoria, menunjukan betapa tidak siapnya kita dibandingkan orang-orang yang telah lama menunggu-nunggu Kedatangan Tuhan Yesus dengan baju pesta yang pantas.


Validasi : Yohanes 14:15-26, Ibrani 12:1, Matius 22:1-13, Ibrani 9:14, 1 Tesalonika 4:13-17, 1 Tesalonika 3:7, Wahyu 3:18-19.
[ Read More ]

Berjalan di Atas Air

Author : Aloisius Kevin

Seperti apakah Tuhan bagi Anda? Apapun jawaban Anda, bagi saya, Tuhan kita adalah Tuhan yang menarik dan keren sekali! Dalam pandangan saya, Ia adalah Tuhan yang memberi makan ketika kita lapar. Tuhan yang menyembuhkan. Tuhan yang menyediakan segala sesuatu yang kita butuhkan. Tuhan yang tahu segala yang terbaik bagi kita. Ia adalah Allah yang siap ketika kita memanggil-Nya. Dan yang luar biasa, Ia adalah Tuhan yang menyuruh kita untuk mengikuti jejak-Nya berjalan di atas air.
Akhir-akhir ini, tampaknya Ia adalah Tuhan yang sedang menyuruh saya berjalan dengan iman. Memang saya tidak berjalan secara harafiah di kolam renang, tapi maksudnya, saya ditantang untuk menembus dan menghadapi badai kehidupan. Sebagai contoh kecil, saya sedang sedang mengalami bermacam-macam hal kecil yang menyebalkan: flu, batuk, demam dan sakit kepala selalu jadi teman seperjalanan saya ke kampus. Saya ingin sekali istirahat di rumah, membaringkan kepala saya. Namun mau bagaimana lagi, tugas-tugas semester padat tidak mengijinkan saya bersantai ria. UTS, kuis, tugas presentasi dan sederet pe er lainnya serta merta mengawal keseharian saya.
Kebiasaan saya untuk selalu memuji dan menyembah Tuhan di tengah jalan berubah menjadi ajang menahan ingus dan batuk. Waktu tidur saya juga jadi minim dan tersiksa karena hidung yang mampet. Penyakit mini itu pun akhirnya berevolusi jadi tenggorokan yang gatal. Flu memang merupakan serangan beruntun, ya... Saya sampai benar-benar panik menghadapi UTS dengan kondisi seperti ini.

Dan apa yang membuat saya paling pusing? Saya sulit worship karena keadaan ini. Doa saya juga jadi terganggu karena kepala yang pusing dan berat. Pokoknya nggak enak banget, deh! Saya sampai teriak-teriak ke Tuhan karena kondisi ini dan berusaha mencari Dia, berharap bahwa Ia akan langsung menjawab doa-doa saya dan meraih saya. Namun, saya heran... Kenapa Tuhan tidak langsung mengulurkan tangan penyembuh-Nya kepada saya...? Ia seakan-akan sedang menunggu saat yang ‘pas’ untuk menolong saya...
Saya, yang bingung dan pusing, sudah berkali-kali konsultasi mengenai hal ini dengan Bapa. Akhirnya, kemudian saya tahu apa yang Ia mau saya pelajari dari kondisi ini: Ia menginginkan saya untuk berjalan di atas air dan mendatangi Dia!

Saat itu, saya diberikan sebuah gambaran seperti ini: saya sedang berpegangan kepada sebuah tiang rakit kayu. Rakit tersebut tampak lemah. Hanya ada beberapa simpul tali yang mengikat setiap kayu-kayunya. Dan yang bikin tambah stres, ada badai hebat yang terjadi di sekeliling saya dan rakit itu. Ombaknya tinggi, hujan mengguyur deras, anginnya juga kencang... Rakit saya terombang-ambing dengan hebat. Tapi begitu saya melayangkan pandangan saya ke kejauhan laut, saya dapat melihat Tuhan Yesus yang bersinar sedang memandang saya sambil tersenyum!
Hikmat langsung memproses saya. Ternyata, Ia ingin supaya saya berjalan mencari Dia dan mendatangi-Nya, berharap lebih dengan iman! Tidak peduli seberapa buruk apapun keadaannya, bukankah akan lebih cepat bila saya juga berjalan menemui-Nya alih-alih berharap Ia datang kepada saya? Dengan saya dan Ia yang sama-sama bergerak ke satu titik, kami tentu akan lebih cepat bertemu...!


Setelah saya menyadari apa yang Ia mau, saya kemudian berdoa meminta pengampunan sekaligus kekuatan untuk menyelesaikan segala sesuatunya. Dan ternyata itu dipandang benar oleh-Nya... Penyakit saya berangsur-angsur sembuh dari hari ke hari, tugas saya pun mulai selesai satu per satu dengan mulus. Benar, tidak terjadi secara langsung memang, tapi ada prosesnya... Dan itulah yang menguatkan saya.
Hidup ini juga seperti itu, bukan? Lautan yang menjadi latar gambaran di atas adalah kehidupan itu sendiri. Ada saatnya kita akan disuruh Tuhan menjala ikan dan memungut hasil dari laut tersebut. Namun Ia tidak pernah menjamin lautnya bakal tenang-tenang saja. Badai dan angin kencang pasti wajib diantisipasi. Dan seperti yang Anda sudah duga, badai itu merepresentasikan masalah-masalah dan ujian di dalam hidup kita. Dan itu bisa apa saja. Mulai dari masalah keuangan, sosialita, relasi keluarga, pendidikan, pekerjaan, dan seterusnya.

Masalahnya, ktia seringkali merasa Tuhan meninggalkan kita. Kita sering merasa seakan-akan Ia senang menyiksa kita dan melihat kita pusing menghadapi badai. Ia terlihat sering berteriak, “MAJU!” saat kita sebenarnya merasa tidak dapat mengambil langkah lagi. Kenapa Ia membiarkan kita seperti ini, ya? Salah satu jawaban yang saya temukan, adalah karena Ia ingin melatih kita melawan badai tersebut. Tapi bagaimana caranya?
Di Perjanjian Baru, ada 2 cara yang Yesus lakukan untuk menghadapi badai. Ingat dengan kisah di mana murid-murid Yesus membangunkan Sang Tuan yang sedang tertidur di kala badai? Dan ingatkah Anda akan kisah Tuhan kita yang berjalan di atas air yang sedang menderu karena badai demi menghampiri perahu murid-murid-Nya?
Dari kondisi di atas, terdapat banyak kesamaan namun satu perbedaan yang krusial. Keduanya sama-sama menempatkan para murid Tuhan dalam keadaan tergoncang karena badai. Keduanya sama-sama dimaksudkan untuk melatih iman para murid. Keduanya sama-sama membuat para murid panik dan memaksa mereka untuk mengandalkan Yesus. Lalu, yang berbeda apa? Yang beda adalah cara penyelamatan Tuhan kita.

Cara pertama, Tuhan Yesus menerapkan pendekatan langsung menghadapi badai. Bukalah Matius 8:23-27 dan temukan jawabannya. Cara kedua ada di Matius 14, Ia menggunakan cara tidak langsung; Ia justru menunggu di jarak tertentu dan menyuruh mereka menghampiri-Nya dengan iman.
Untuk cara pertama tadi, kita diajarkan untuk meminta dan memohon kepada Tuhan. Tapi lihat baik-baik cara kedua... Kita dituntut untuk terlebih dahulu berjalan di atas air!
Hal ini terlihat jelas dari sikap Tuhan Yesus yang tidak langsung menghardik badai. Ia menunggu di kejauhan dan menguji iman mereka... Apakah mereka berani untuk turun dari kapal dan menghampiri-Nya? Apa yang Ia inginkan? Pamer kuasa? Bukan. Ia ingin murid-murid-Nya belajar untuk mengatasi ketakutan mereka dan berjalan di atas kemustahilan!

Sama halnya dengan apa yang Ia inginkan dari kita. Kita adalah murid-murid Yesus di tengah-tengah badai kehidupan ini. Akan ada saatnya di mana kita harus meminta dan memohon kepada Tuhan, bahkan meratap kepada-Nya atas segala apa yang menimpa kita. Tapi juga ingat, ada saatnya di mana Ia akan menantang kita untuk menapaki gelora badai untuk mencapai kemengangan dengan iman dan pengharapan.
Saran saya—sesuatu yang juga saya sedang berusaha terapkan—adalah, carilah Tuhan dan belajarlah dari kaki-Nya! Jangan langsung berpikir negatif bahwa Ia suka menyiksa kita dengan berbagai masalah! Sebaliknya, berpikirlah bahwa Ia sebenarnya sedang mempercayakan tugas yang besar pada kita. Tugas besar, tentu harus didahului dengan ujian yang besar juga... Berbahagialah bila Anda merasa doa Anda ‘mentok’ di langit-langit kamar. Itu artinya Anda ditantang untuk berlari menembus badai!
Karena tentu saja, tanpa iman, kita tidak mungkin dapat mencapai Bapa. Jangan lupa, Ia tahu yang terbaik bagi setiap anak-anak-Nya. Ia pasti akan memberikan Anda bocoran mengenai bagaimana harus berjalan menghadapi badai kehidupan Anda. Berjalanlah di atas air bila itu adalah jalan yang Tuhan tentukan bagi Anda.


Validasi : Ibrani 11:6, Yakobus 2:26, 1 Petrus 1:7, Matius 17:20, Markus 9:23, Roma 5:4, 1 Timotius 4:10.
[ Read More ]

One Breath

Author : Felicia Yosiana Gunawan

Apakah Anda pernah membaca novel? Saya rasa pernah. Entah novel fantasi, science fitction, roman, teenlit, komedi sampai misteri pasti ada yang pernah Anda baca. Well, ini memang spekulasi... Tapi kalau nyatanya Anda tidak pernah membaca novel, saya punya banyak novel keren untuk direkomendasikan seperti novel Hadassah (Esther) dan masih banyak lagi. Tapi saya bukan mau promosi novel atau jadi sales marketing, saya hanya mau membagikan sedikit dari apa yang saya pelajari sebagai baik pembaca dan penikmat fiksi, maupun seorang penulis.
Coba Anda ingat-ingat sekali lagi novel apa yang paling berkesan buat Anda. Apakah itu novel mengenai detektif, percintaan tragis, fantasi seorang anak muda yang membunuh monster pengancam dunia, atau sekedar teenlit dengan cerita yang membekas di hati? Yang manapun boleh. Cobalah ingat-ingat sekali lagi, tiga hal apa yang membuat Anda begitu tertarik untuk terus membuka halaman demi halaman novel, dan bahkan sulit melupakan adegan-adegan di setiap bab-nya. Apakah itu karakternya yang begitu menangkap simpati dan kekaguman Anda? Atau jalan ceritanya yang begitu menahan nafas? Bisa yang mana saja! Tapi satu hal sudah jelas: novel favorit Anda pasti mengandung, minimal satu unsur, yang membuat Anda melabelkan cerita tersebut sebagai mahakarya di benak Anda.

Sebagai seorang pembaca sekaligus penulis, saya suka memperhatikan penokohan dan penempatan karakter dalam alur cerita. Yah, hitung-hitung saya juga sambil belajar dari para penulis profesional ini. Tentu saja, membaca dan mempelajari adalah dua hal yang sangat berbeda. Dalam mempelajari, orang akan diajak untuk bukan saja menikmati alur dan cerita sebuah novel, tapi juga mencermati bagaimana si pengarang menaruh detail dan mengekspos sisi dari karakter-karakternya dengan cara yang membekas di hati dan pikiran pembaca. Nah, inilah yang sulit untuk diterapkan.
Dalam dunia penulisan novel, yang namanya alur cerita harus dapat menyatu dan berbaur dengan sempurna dengan stok karakter yang telah dipersiapkan. Bila, misalnya, cerita mengalami kebuntuan, tidak jarang penulis harus mengutak-atik karakternya atau menambahakan karakter atau elemen baru untuk menjadi ‘kunci’ gerbang kemacetan cerita. Ini cukup menarik dan mengandung banyak pelajaran.
Saat saya sedang membaca blog seorang penulis novel terkenal mengenai kiat-kiat menulis fiksi yang baik, ada beberapa hal yang menangkap perhatian saya. Rasanya Hikmat dari Allah segera mengalir begitu saya membaca poin-poin penting dalam penokohan dan alur cerita! Dan, sebelumnya, tentu saja anak Tuhan harus belajar dari mana-mana! Hikmat ada di mana-mana, dan kenapa tidak diambil?

Ehem. Kembali ke topik. Sang penulis sukses tersebut, dalam blog, memberikan tips konsep alur yang keren menurut saya: “Kamu adalah karaktermu. Kalau kamu belum bisa melihat dunia fiksimu dari mata karaktermu dan berpikir seperti dia, maka kamu belum benar-benar hidup dalam satu tarikan nafas dengannya.” Kira-kira begitu kata-katanya.

Saya terpana saat membacanya berulang-ulang. Betapa benarnya ia! Tentu saja, kalau saya tidak mampu mengvisualisasikan apa yang karakter saya lihat dan rasakan, bagaimana saya hendak menyampaikan pergumulan dan emosinya kepada pembaca? Bukankah justru bakal jadi ‘garing’ kalau saya mencoba mendeskripsikan sesuatu dalam ‘tubuh’ dan ‘perkataan’ yang sama sekali bukan saya? Pasti terdengar janggal karena saya tidak memasukan perasaan mendalam dalam setiap gerak-gerik ataupun nada bicaranya. Pembaca bisa mati bosan mengikuti pergerakan karakter yang kaku dan tidak menarik perhatian dalam buku tiga ratus halaman.
Dan menurut Hikmat yang saya tangkap, itulah kita.
Itulah kita di Buku Kehidupan Allah.


Saya suka berpikir kalau Allah, Tuhan Yesus yang saya puja, adalah seorang penulis cerita yang sangat luar biasa. Ia mampu menarik perhatian ‘pembaca’—orang-orang di dunia yang menjadi saksi hidup karya-karya-Nya—dan menawan mereka sehingga tidak putus-putusnya berpikir mengenai karya kehidupan yang Ia tulis dengan Darah Kudus-Nya.
Dalam analogi saya, yang umumnya memang suka aneh-aneh dan agak ‘miring’, saya sering berpikir kalau saya adalah seorang karakter dalam novel buatan Bapa. Yah, setiap orang merepresentasikan satu buku, dan saya salah satunya. Saya sering bertanya-tanya, Penulis cerita kehidupan saya akan membawa saya melalui alur cerita yang seperti apa kira-kira? Apakah Ia akan langsung mempertemukan saya pada seorang knight in shining armour pada bab pertama dan mengakhiri cerita dengan kata-kata “mereka pun hidup bahagia selamanya” di halaman selanjutnya? Rasanya nggak menarik kalau begitu. Mana ada novel yang baru dua halaman terus berakhir dengan happy ending? Itu mah namanya cerpen. Dan cerpen kayak begitu mana mungkin laku? Tidak menggugah perasaan sama sekali!

Tentu saja, kita juga tahu setiap tokoh dalam sebuah cerita itu akan mengalami yang namanya shaping atau pembentukan karakter. Tidak ada dong, tokoh utama yang dari awal cerita sudah ganteng, pintar ini-itu, menggugah, selalu tampil menarik dan punya kepribadian sempurna? Pasti ada sisi-sisi negatif yang akan ia hadapi dalam cerita, dan tentu saja, menang dari sisi-sisi tersebut. Dan tidak seru juga kalau si tokoh utama mengalami shaping ini hanya dalam satu malam. Ketemu teko ajaib dan langsung berubah jadi sempurna, misalnya. Lagi-lagi, tidak menarik!
Saya sebagai penulis, kadang suka pusing bagaimana mempersiapkan ‘wajan’ yang cukup panas untuk menggodok tokoh utama saya tanpa menghancurkannya. Saya tentunya ingin ia mengalami kejadian yang mampu mengubah hidup dan pola pikir maupun perilakunya, tentu sembari dikemas dengan alur yang menggugah dan menarik untuk dibaca. Dan kembali, Tuhan pun seperti itu terhadap kita.

Ia menyiapkan takaran suhu yang pas untuk menggodok kita, membersihkan kita dari sisi-sisi negatif yang tidak Ia suka. Adegan demi adegan dalam lembar kehidupan Anda dipersiapkan-Nya secara matang dan penuh perhitungan, semua demi membentuk tokoh yang tangguh, kuat dan serupa dengan diri-Nya yang melebihi kata sempurna versi manusia.
Pastinya, Ia juga mempersiapkan berlembar-lembar adegan penuh sukacita dan air mata bahagia untuk merayakan keberhasilan si tokoh dalam berperan. Tidak seru juga kan  kalau ada cerita yang isinya tragedi dan kemalangan melulu? Itu mah identik sinetron yang alur ceritanya nggak pernah hepi...
Dan kembali ke frasa ‘satu tarikan nafas’ dengan si karakter tadi, saya rasa kita juga seperti itu di hadapan-Nya. Kita dipanaskan dalam suhu yang pas untuk menjadikan kita serupa dengan Allah. Bukankah Ia mengkomandokan kita untuk jadi serupa dan sama dengan Bapa? Saya rasa salah satu tujuan-Nya adalah agar saya, dan setiap orang lainnya, dapat bernafas dalam satu tarikan nafas dengan Bapa. Dengan begitu, maka kita pun dapat mengatakan “jadilah kehendak-Mu di Bumi seperti di Sorga” dengan enteng. Kenapa? Karena apa yang Bapa inginkan juga kita inginkan, dan apa yang Bapa lihat juga kita lihat. Karena satu visi dan satu misi itulah Dia akan lebih leluasa ‘menulis’ cerita hidup kita.


Jadi, apakah Anda sedang bertemu dengan orang yang Anda anggap ‘salah’ dalam cerita hidup Anda? Atau apakah Anda sedang stress berat mengalami pergumulan dalam hidup—yang adalah ‘lembah’ shaping dari Sang Penulis? Atau mungkin, justru Anda sekarang sedang mengalami kemenangan demi kemenangan? Saya tidak tahu apa jawaban Anda, tapi minimal, sebagai sesama penulis, saya tahu Tuhan sedang merancangkan sesuatu yang luar biasa dalam hidup Anda. Kenapa? Karena Anda adalah mahakarya-Nya.

Validasi : Yesaya 29:16, Efesus 1:4 Yeremia 18:6, Yesaya 64:8, Yeremia 1:5, Roma 9:20, Ibrani 11:3, Yesaya 55:8.
[ Read More ]